Racun TikTok: Ketika Konten Review Mengubah Keinginan Jadi Kebutuhan

Saya mahasiswa Universitas pamulang Dari Fakultas ekonomi dan bisnis program study Akuntansi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Friska Ayu Novitasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah tidak, awalnya hanya membuka TikTok untuk hiburan, tetapi beberapa menit kemudian justru menemukan video seseorang sedang merekomendasikan makanan, skincare, pakaian, atau barang yang sebelumnya tidak pernah terpikir untuk dibeli? Lebih anehnya lagi, setelah melihat beberapa video dengan produk yang sama, tiba-tiba muncul perasaan, “Kayaknya aku butuh ini.”
Fenomena seperti ini sudah menjadi hal yang cukup biasa di media sosial. Istilah “racun TikTok” sering digunakan untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang tertarik membeli suatu produk setelah melihat konten review atau rekomendasi di TikTok. Produk yang awalnya tidak masuk daftar kebutuhan bisa berubah menjadi barang yang terasa harus dimiliki.
Menurut saya, fenomena ini menarik karena TikTok tidak lagi hanya menjadi tempat mencari hiburan. Platform tersebut secara perlahan juga menjadi tempat orang mencari referensi sebelum membeli sesuatu. Kita bisa menemukan review makanan, tempat wisata, pakaian, kosmetik, hingga berbagai barang rumah tangga hanya dengan menggulir layar.
Masalahnya, tidak semua yang menarik perhatian kita benar-benar kita butuhkan.
Ketika Review Membuat Kita Merasa Membutuhkan
Salah satu alasan konten review mudah memengaruhi keputusan pembelian adalah cara penyampaiannya yang terasa lebih dekat dibandingkan iklan biasa. Ketika sebuah produk ditampilkan oleh seseorang yang terlihat seperti pengguna biasa, rekomendasinya bisa terasa lebih jujur dan meyakinkan.
Ditambah lagi, video TikTok biasanya dibuat dengan cara yang menarik. Produk diperlihatkan secara langsung, digunakan, dibandingkan dengan produk lain, kemudian diberikan penilaian. Tidak jarang pembuat konten menggunakan kalimat seperti “ini wajib punya”, “ternyata sebagus ini”, atau “kenapa aku baru tahu barang ini?”
Tanpa disadari, kalimat-kalimat tersebut dapat memengaruhi cara kita memandang sebuah produk. Sesuatu yang awalnya hanya menarik perhatian perlahan terasa seperti kebutuhan.
Contohnya sederhana. Kita mungkin awalnya hanya ingin mencari rekomendasi tempat makan. Setelah melihat beberapa video, muncul keinginan untuk mencoba. Begitu melihat video lain tentang pakaian atau skincare, muncul keinginan baru. Akhirnya, aktivitas scrolling yang awalnya hanya untuk mengisi waktu berubah menjadi aktivitas mencari barang yang ingin dibeli.
Algoritma yang Terus Mengikuti Keinginan Kita
Hal lain yang membuat fenomena ini semakin kuat adalah algoritma media sosial. Setelah kita menonton, menyukai, menyimpan, atau mencari konten tertentu, kemungkinan besar kita akan kembali mendapatkan konten dengan tema yang serupa.
Misalnya, setelah beberapa kali menonton video tentang produk skincare, beranda kita bisa dipenuhi dengan review skincare lainnya. Begitu pula dengan makanan, fashion, gadget, hingga tempat wisata.
Di satu sisi, algoritma memang memudahkan kita menemukan informasi yang sesuai dengan minat. Namun, di sisi lain, kita juga bisa terjebak dalam lingkaran konten yang terus memperkuat keinginan untuk membeli.
Semakin sering melihat suatu produk, semakin familiar produk tersebut bagi kita. Karena terus muncul, kita bisa merasa seolah-olah semua orang sedang menggunakan produk tersebut. Padahal, belum tentu demikian.
Dari FOMO hingga Impulsive Buying
Fenomena “racun TikTok” juga tidak bisa dipisahkan dari rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO). Ketika melihat banyak orang membicarakan suatu produk atau tren, muncul kekhawatiran bahwa kita akan menjadi satu-satunya orang yang tidak mengikutinya.
Ditambah dengan berbagai promo seperti diskon terbatas, gratis ongkir, voucher, atau flash sale, keputusan untuk membeli semakin mudah dilakukan.
Akhirnya, kita tidak lagi bertanya, “Apakah saya membutuhkan barang ini?” tetapi justru bertanya, “Kalau tidak beli sekarang, nanti keburu habis tidak?”
Di sinilah menurut saya kita perlu berhenti sejenak.
Tidak semua barang yang sedang viral harus dimiliki. Tidak semua rekomendasi yang cocok untuk orang lain akan cocok untuk kita. Dan tidak semua produk yang mendapatkan banyak review positif otomatis menjadi kebutuhan.
Bukan Berarti TikTok Harus Disalahkan
Namun, menyalahkan TikTok sepenuhnya juga bukan solusi. Media sosial pada dasarnya hanyalah alat. Dampaknya sangat bergantung pada bagaimana kita menggunakannya.
Konten review sebenarnya bisa memberikan manfaat. Kita bisa mengetahui pengalaman pengguna lain sebelum membeli produk. Kita juga bisa menemukan produk lokal yang sebelumnya tidak kita kenal, mendapatkan rekomendasi tempat makan, atau mengetahui berbagai alternatif produk dengan harga yang lebih sesuai dengan kemampuan.
Yang perlu diperbaiki adalah cara kita mengambil keputusan setelah melihat konten tersebut.
Menurut saya, sebelum membeli sesuatu karena melihatnya di TikTok, ada beberapa pertanyaan sederhana yang bisa kita tanyakan kepada diri sendiri: Apakah saya benar-benar membutuhkannya? Apakah saya sudah memiliki barang yang fungsinya sama? Apakah saya membeli karena memang membutuhkan atau hanya karena sedang viral?
Pertanyaan sederhana tersebut mungkin terdengar sepele, tetapi bisa membantu kita membedakan antara kebutuhan dan keinginan.
Menjadi Konsumen yang Lebih Sadar
Fenomena “racun TikTok” sebenarnya tidak selalu buruk. Justru, fenomena ini menunjukkan bahwa media sosial telah mengubah cara masyarakat mencari informasi dan membuat keputusan pembelian.
Namun, sebagai pengguna, kita tetap memiliki kendali. Kita tidak harus membeli setiap barang yang muncul di beranda. Kita juga tidak perlu mengikuti semua tren hanya karena banyak orang melakukannya.
Menurut saya, menjadi konsumen yang cerdas bukan berarti tidak boleh membeli barang yang sedang viral. Kita tetap boleh menikmati tren, mencoba makanan yang sedang ramai, atau membeli produk yang kita sukai. Yang penting adalah keputusan tersebut dibuat karena memang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan, bukan semata-mata karena terbawa suasana setelah melihat video beberapa detik.
Pada akhirnya, “racun TikTok” mungkin akan terus bermunculan selama tren dan media sosial berkembang. Produk baru akan selalu datang, video review akan terus dibuat, dan algoritma akan terus memberikan konten yang menarik perhatian kita.
Yang perlu kita kendalikan bukanlah apa yang muncul di layar, tetapi keputusan setelah kita melihatnya.
Sebab, tidak semua yang muncul di For You Page harus masuk ke keranjang belanja kita.
