PPN Naik: Siapa yang Paling Terdampak, Masyarakat Kecil, UMKM, atau Perusahaan?

Mahasiswi D4 Akuntansi Perpajakan di Universitas Pamulang
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari fitri wulandari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) selalu menjadi isu sensitif. Meski bertujuan menambah penerimaan negara, kebijakan ini kerap memicu polemik. Masyarakat kecil khawatir harga kebutuhan melonjak, UMKM tertekan daya saing, sementara perusahaan besar dianggap lebih mampu beradaptasi.
Kebijakan kenaikan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat penerimaan negara. Pajak konsumsi ini dikenakan pada hampir semua barang dan jasa, sehingga memiliki dampak langsung terhadap kehidupan masyarakat. Namun, di balik tujuan fiskal yang mulia, muncul pertanyaan krusial: siapa yang paling terdampak dari kenaikan PPN ini?
Dampak terhadap Masyarakat Kecil
Masyarakat kecil berada di garis depan akibat kenaikan PPN. Setiap kali tarif naik, harga kebutuhan pokok ikut terkerek. Meskipun beberapa barang esensial mendapat pengecualian, kenyataannya banyak produk sehari-hari yang tetap terpengaruh. Bagi keluarga dengan penghasilan terbatas, tambahan biaya sekecil apa pun dapat mengurangi daya beli dan mempersempit ruang untuk kebutuhan lain seperti pendidikan dan kesehatan.
Selain itu, kenaikan harga memicu inflasi yang ujungnya kembali membebani kelompok rentan. Bagi mereka, PPN bukan sekadar angka dalam kebijakan, melainkan kenyataan yang mengurangi isi kantong setiap kali berbelanja.
Dampak terhadap UMKM
UMKM juga tidak lepas dari tekanan kenaikan PPN. Sebagai tulang punggung perekonomian nasional, UMKM sering kali beroperasi dengan margin tipis. Ketika harga jual naik akibat PPN, daya saing mereka bisa menurun, terutama jika bersaing dengan produk impor atau perusahaan besar yang lebih efisien.
Banyak UMKM belum siap secara administrasi maupun digital untuk menyesuaikan sistem perpajakan mereka. Akibatnya, beban kepatuhan meningkat dan menambah kerumitan usaha. Padahal, sektor ini menjadi penopang lapangan kerja dan distribusi ekonomi di berbagai daerah. Jika UMKM tertekan, maka efek domino terhadap perekonomian lokal tidak bisa dihindari.
Dampak terhadap Perusahaan Besar
Sebaliknya, perusahaan besar relatif lebih mampu beradaptasi. Mereka memiliki tim keuangan dan konsultan pajak yang bisa menyusun strategi menghadapi perubahan tarif. Bahkan, sebagian besar beban PPN bisa dialihkan ke konsumen. Dengan skala produksi besar, mereka memiliki fleksibilitas yang tidak dimiliki oleh UMKM.
Namun, bukan berarti perusahaan besar sama sekali tidak terdampak. Perubahan harga dapat memengaruhi permintaan konsumen. Jika daya beli menurun, perusahaan pun harus mencari cara menjaga stabilitas penjualan.
Pertarungan antara Legalitas dan Keadilan
Kenaikan PPN memang sah secara hukum dan diperlukan untuk menjaga kesehatan fiskal negara. Akan tetapi, keadilan fiskal menjadi sorotan. Apakah wajar beban pajak konsumsi lebih terasa di masyarakat kecil dan UMKM, sementara perusahaan besar relatif aman?
Prinsip pajak yang baik seharusnya tidak hanya efisien dalam penerimaan, tetapi juga adil dalam pembebanan. Pajak konsumsi seperti PPN sering dianggap regresif, karena persentase beban lebih besar dirasakan oleh kelompok berpenghasilan rendah dibandingkan kelompok kaya.
Jalan Tengah yang Perlu Dipertimbangkan
Untuk meminimalisir dampak negatif, pemerintah perlu memperkuat kebijakan kompensasi. Subsidi tepat sasaran, bantuan sosial, hingga pengecualian PPN pada barang kebutuhan pokok harus benar-benar efektif. Selain itu, pembinaan bagi UMKM dalam hal kepatuhan pajak perlu diperluas agar mereka tidak tertinggal dalam menghadapi perubahan kebijakan.
Lebih jauh, transparansi penggunaan dana pajak juga menjadi kunci. Masyarakat akan lebih menerima kebijakan kenaikan PPN jika merasa manfaatnya kembali dalam bentuk pembangunan nyata, pendidikan, kesehatan, dan layanan publik yang lebih baik.
