Konten dari Pengguna

Menuju Industri 5.0: Mengapa Industri 4.0 Tidak Cukup?

Gama Harta Nugraha Nur Rahayu

Gama Harta Nugraha Nur Rahayu

Dosen Universitas Pancasila dan Konsultan Teknik dan Manajemen Industri

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gama Harta Nugraha Nur Rahayu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi etika menggunakan teknologi. Foto: A9 STUDIO/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi etika menggunakan teknologi. Foto: A9 STUDIO/Shutterstock

Selama lebih dari satu dekade, Industri 4.0 menjadi simbol kemajuan industri global. Digitalisasi, otomatisasi, kecerdasan buatan, dan Internet of Things (IoT) dipromosikan sebagai kunci efisiensi, produktivitas, dan daya saing. Indonesia pun tidak tertinggal. Program Making Indonesia 4.0 digagas untuk memperkuat sektor manufaktur dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Namun, dunia kini menyadari satu hal penting: Industri 4.0 tidak lagi cukup untuk menjawab tantangan global yang semakin kompleks. Krisis iklim, ketimpangan sosial, disrupsi tenaga kerja, dan rapuhnya rantai pasok global menunjukkan bahwa kemajuan teknologi saja tidak otomatis membawa kesejahteraan yang berkelanjutan.

Di sinilah konsep Industri 5.0 muncul—bukan sebagai pengganti teknologi, melainkan sebagai koreksi arah pembangunan industri.

Keterbatasan Paradigma Industri 4.0

Industri 4.0 berorientasi kuat pada efisiensi dan optimalisasi proses. Mesin dan algoritma menjadi pusat pengambilan keputusan, sementara manusia sering kali diposisikan sebagai operator atau bahkan biaya yang harus ditekan. Pendekatan ini efektif dalam meningkatkan output, tetapi mengandung risiko jangka panjang.

Ilustrasi Logistik. Foto: Shutter Stock

Di Indonesia, otomatisasi di sektor manufaktur dan logistik mulai menimbulkan kekhawatiran akan pengangguran struktural, terutama bagi tenaga kerja dengan keterampilan menengah. Di sisi lain, eksploitasi sumber daya alam yang didorong oleh tuntutan produksi massal mempercepat kerusakan lingkungan—dari berkurangnya tutupan hutan, polusi industri hingga krisis air dan energi.

Pandemi COVID-19 menjadi pengingat keras bahwa sistem industri yang terlalu mengejar efisiensi ternyata tidak cukup tangguh menghadapi krisis. Rantai pasok global terganggu, transportasi lumpuh, dan banyak industri tidak siap beradaptasi secara cepat dan manusiawi.

Industri 5.0: Manusia Kembali ke Pusat

Berbeda dengan Industri 4.0, Industri 5.0 menempatkan manusia kembali sebagai pusat transformasi industri. Paradigma ini bertumpu pada tiga pilar utama: human-centricity (berorientasi pada manusia), sustainability (keberlanjutan), dan resilience (ketahanan).

Industri 5.0 tidak menolak otomatisasi atau AI. Justru sebaliknya, teknologi canggih dipandang sebagai mitra manusia. Mesin unggul dalam presisi dan kecepatan, sementara manusia unggul dalam kreativitas, empati, dan penilaian etis. Kolaborasi ini membuka peluang pekerjaan yang lebih bermakna dan aman, bukan sekadar lebih cepat dan murah.

Ilustrasi manusia dan teknologi. Foto: Shutterstock

Dalam konteks BUMN dan sektor transportasi, misalnya, digitalisasi sistem perkeretaapian atau transportasi publik tidak cukup hanya meningkatkan ketepatan jadwal. Industri 5.0 mendorong agar teknologi juga meningkatkan keselamatan, kenyamanan penumpang, dan kesejahteraan pekerja lapangan—dari masinis hingga petugas perawatan.

Keberlanjutan sebagai Fondasi Industri Masa Depan

Salah satu perbedaan paling mendasar Industri 5.0 adalah penempatan keberlanjutan sebagai fondasi utama, bukan sekadar program tambahan. Kerusakan lingkungan dan krisis iklim menunjukkan bahwa model industri lama telah melampaui batas daya dukung bumi.

Industri 5.0 sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs). Industri tidak lagi dinilai hanya dari laba, tetapi juga dari kontribusinya terhadap pengurangan emisi, efisiensi energi, dan tanggung jawab sosial. Di Indonesia, hal ini relevan bagi sektor manufaktur, energi, dan transportasi yang menyumbang emisi besar.

BUMN dan perusahaan nasional memiliki peran strategis dalam transisi ini—misalnya dengan mengembangkan ekonomi sirkular, teknologi ramah lingkungan, serta sistem kerja yang lebih inklusif dan aman.

Ketahanan sebagai Kunci di Era Ketidakpastian

Ilustrasi disrupsi teknologi Foto: Shutterstock

Selain berkelanjutan, Industri 5.0 menekankan ketahanan industri dan sosial. Dunia saat ini dihadapkan pada ketidakpastian geopolitik, perubahan iklim ekstrem, dan disrupsi teknologi yang cepat. Sistem industri yang hanya berorientasi efisiensi terbukti rapuh.

Industri 5.0 mendorong diversifikasi rantai pasok, peningkatan keterampilan tenaga kerja, dan desain sistem yang adaptif. Dengan kata lain, industri harus siap menghadapi krisis, bukan sekadar optimal dalam kondisi normal.

Evolusi Strategis, bukan Sekadar Revolusi Teknologi

Transisi menuju Industri 5.0 bukan sekadar revolusi teknologi baru, melainkan juga evolusi strategis dalam cara kita memandang inovasi. Pertanyaannya bukan lagi “Teknologi apa yang bisa kita buat?”, tetapi “Untuk siapa dan untuk apa teknologi ini dikembangkan?”

Jika Industri 4.0 mengajarkan bagaimana memanfaatkan teknologi, Industri 5.0 mengingatkan kita mengapa teknologi itu ada. Masa depan industri Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan mesin, tetapi juga oleh kemampuan kita menciptakan industri yang cerdas, tangguh, berkelanjutan, dan manusiawi.