Konten dari Pengguna

BRIN Usung Iradiasi Atasi Food Loss Ekspor Hortikultura 70%

Gede Pranawiditia

Gede Pranawiditia

Humas BRIN - Kawasan Bali

·waktu baca 6 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gede Pranawiditia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Komoditas Jeruk. Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Komoditas Jeruk. Dok. Pribadi

Petani merupakan salah satu profesi yang ditekuni oleh sebagian penduduk di Indonesia. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2023, terdapat 5.507.720 petani yang tercatat melalui Sensus Pertanian di Provinsi Jawa Timur. Jawa Timur juga menghasilkan beberapa komoditas tanaman buah diantaranya adalah jeruk dan mangga.

Ahmad Asum, Petani Perkebunan mangga di Wringinanom menjelaskan jika saat ini memiliki kelolaan tanaman mangga lebih dari satu hektar. “Untuk saat ini, dalam satu pohon bisa menghasilkan hingga 300kg dalam satu tahun. Namun ada berbagai kendala yang dihadapi kami, salah satunya adalah lalat buah. Akibat lalat buah, buah yang layak untuk di jual ke pasaran bisa menyisakan hingga 100kg pertahun per pohonnya.”

“Kami sudah mencoba berbagai metode dan cara yang telah diajari kepada kami, tetapi hasilnya masih belum maksimal,” ungkapnya

Pada kesempatan yang sama, Masyuri selaku Direktur PT AMS di Batu, Malang menjelaskan jika sudah ada pergeseran komoditas dari apel ke jeruk. “Saat kami menanam apel, permasalahan utama adalah adanya penyakit yang menyerang pohon apel dan tidak dapat disembuhkan. Sehingga banyak dari kelompok tani yang beralih dari apel ke jeruk.”

Ia juga menjelaskan kendala saat pasca panen seperti jeruk yang diserang oleh lalat buah kebanyakan tidak terlihat. “Dari proses sortir secara manual sudah mengurangi jumlah jeruk yang bisa dikirimkan ke konsumen. Namun, lalat buah ini dapat berdampak membuat proses pembusukan menjadi lebih cepat.”

“Dampaknya adalah saat pengiriman barang menjadi tidak layak dijual sehingga menimbulkan kerugian. Semakin banyak rasio food loss maka akan semakin tinggi harga komoditasnya. Saat ini setidaknya rasio food loss dari proses panen hingga sampai ke konsumen mencapai 70%,” jelas Masyuri.

Lalat Buah

Pada kesempatan yang berbeda, Otto Endarto, Periset Pusat Riset Holtikultura Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menjelaskan bahwa buah menjadi cepat busuk sebelum sampai ke konsumen akibat berbagai faktor. Faktor tersebut dikelompokkan menjadi internal (dari dalam buah) dan eksternal (lingkungan serta penanganan pascapanen).

“Kerusakan mekanis menjadi pemicu utama, seperti saat proses panen yang kurang halus, memetik dengan jaring berlebihan, buah jatuh, atau terbanting. Faktor lain termasuk penggunaan wadah yang kelebihan kapasitas, proses transportasi buah yang kurang hati-hati, dan rantai distribusi yang terlalu panjang (petani → pengepul → pedagang besar → pasar → pengecer → konsumen) tanpa penanganan yang memadai,” ungkap Otto.

Berdasarkan laporan Hasyim, Liferdi, dan Setiawati (2020) dalam buku Teknologi Pengendalian Hama Lalat Buah terbitan IAARD Press, tercatat terdapat 89 spesies lalat buah lokal (indigenous) yang tersebar di wilayah Indonesia bagian barat. Namun hanya delapan spesies saja yang dikategorikan sebagai hama penting secara ekonomi karena berpotensi tinggi menimbulkan kerusakan pada berbagai komoditas hortikultura, yaitu Bactrocera albistrigata Meijere, B. dorsalis Hendel, B. carambolae Drew & Hancock, B. papayae Drew & Hancock, B. umbrosa Fabricius, B. caudata Fabricius, B. cucurbitae Coquillett, dan Dacus (Callantra) longicornis Wiedemann.

Menurut Otto, Peningkatan serangan lalat buah akhir-akhir ini menunjukkan lonjakan signifikan populasi dan diversifikasi spesies akibat perubahan ekosistem pertanian, intensifikasi budidaya hortikultura, serta meningkatnya mobilitas bahan tanam dan buah antarwilayah. Kondisi tersebut menyebabkan pergeseran status hama dari beberapa spesies lokal yang sebelumnya tidak berpotensi menjadi hama utama baru.

Lalat buah sedang bertelur. Dok. Pribadi

“Pada tingkat serangan tinggi seperti B. dorsalis pada mangga, jeruk, belimbing, dan jambu kerugian bisa mencapai 30–70%. Dampaknya menyebabkan biaya pengendalian meningkat, dimana petani harus membeli perangkap, pestisida, atau melakukan pembungkusan buah. Hal ini juga menyebabkan pendapatan petani menurun karena buah yang rusak dihargai murah atau bahkan ditolak pasar,” tutur Otto.

Otto menambahkan hama lalat buah menjadi penghambat perdagangan dan ekspor. “Banyak negara menerapkan zero tolerance terhadap hama ini. Satu larva saja dapat menyebabkan kontainer ditolak. Daya saing buah Indonesia pun melemah. Komoditas seperti mangga dan jeruk sulit tembus pasar global. Hal ini mengakibatkan kerugian devisa nasional yang signifikan. Potensi ekspor hortikultura pun tidak tercapai maksimal.”

“Cara pengendalian di tingkat petani dan perkebunan buah yang terserang lalat buah harus segera dikumpulkan. Buah dimusnahkan dengan cara dikubur sedalam 50 cm. Cara lain adalah dengan menjemurnya dalam plastik atau memfermentasinya. Tujuannya untuk memutus siklus hidup lalat buah. Pengendalian juga bisa memanfaatkan parasitoid alami dengan cara Larva lalat buah dimasukkan dalam gentong berkasa sehingga parasitoid akan keluar dan memarasit larva lainnya,” jelas Otto.

Terakhir, Otto menambahkan pengendalian juga bisa menggunakan pemanfaatan teknologi. metil eugenol dapat memikat lalat jantan, sedangkan umpan protein untuk menarik lalat betina. Teknik Serangga Mandul juga efektif untuk digunakan, serangga mandul dilepaskan untuk bersaing kawin dengan populasi liar sehingga perkawinan tidak akan menghasilkan keturunan. Pengendalian terbaik harus dilakukan secara serentak dalam satu hamparan luas. Untuk tujuan ekspor, metode iradiasi fitosanitari merupakan metode umum di banyak negara karena terbukti efektif, cepat, dan aman.

Dampak Ekonomi

Pandu Laksono, Periset Pusat Riset Ekonomi Perilaku dan Sirkuler BRIN membeberkan tingkat food loss pada komoditas hortikultura, seperti salak dan mangga, bervariasi di setiap mata rantai pasok. “Survei pada salak pondoh di Sleman menunjukkan bahwa food loss dari tingkat petani hingga pengepul dapat mencapai 40%, umumnya disebabkan oleh serangan lalat buah. Sementara itu, pada tingkat eksportir, angka tersebut turun menjadi 10% setelah melalui beberapa tahap penyortiran di tingkat petani, pengepul, dan supplier. Secara global, Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO) melaporkan bahwa food loss pada produk hortikultura dapat mencapai 60%, yang tidak hanya disebabkan oleh hama, tetapi juga oleh penanganan pascapanen yang kurang baik, serangan jamur, serta faktor lainnya.”

Terakhir, Pandu menambahkan secara ekonomi, dampak food loss dan food waste (FLW) di Indonesia sangat signifikan. Kajian FLW Indonesia oleh Bappenas memperkirakan bahwa kerugian ekonomi akibat kedua hal tersebut mencapai Rp 213–551 triliun per tahun selama periode 2000–2019. Nilai kerugian tersebut mencakup seluruh jenis komoditas pangan, termasuk hortikultura, padi-padian, dan daging.

Teknologi Iradiasi

Terkait teknologi iradiasi, Kepala Organisasi Riset Tenaga Nuklir, Syaiful Bakhri mengatakan iradiasi berfungsi untuk mendesinfestasi serangga pada komoditas ekspor. “Tujuan dari Iradiasi guna mencegah penyebaran Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina (OPTK) di negara tujuan. Kebijakan penggunaan iradiasi ini bukan ditentukan oleh negara pengekspor, melainkan merupakan persyaratan dari negara pengimpor. Untuk produk segar, dosis iradiasi maksimum yang diterapkan adalah 1000 Gy, sementara dosis minimumnya bervariasi tergantung pada jenis hama dan inangnya. Sebagai contoh, untuk lalat buah memerlukan dosis minimal 150 Gy sedangkan dosis generik semua serangga adalah 400 Gy”

“Proses iradiasi dijamin keamanan dan kualitasnya berdasarkan standar internasional, yaitu ISPM (International Standards for Phytosanitary Measures) nomor 18 tentang Guidelines for the Use of Irradiation as a Phytosanitary Measure dan ISPM nomor 28 tentang Phytosanitary Treatment for Regulated Pest.”

Saat ini, Badan Karantina Indonesia sedang menyusun pedoman iradiasi dengan dukungan teknis dari BRIN. Penting untuk dicatat bahwa jaminan kualitas produk iradiasi ini berlaku hingga kemasannya dibuka. Setelah kemasan terbuka, kualitas produk sangat bergantung pada kondisi penyimpanan, sehingga diperlukan tempat penyimpanan yang tepat untuk mencegah kontaminasi ulang,” tutup Syaiful. (igp)