5 Risiko yang Harus Kamu Pahami Sebelum Memutuskan Menikah Muda

Generasi Milenial
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap orang pasti ingin menikah dan menghabiskan sisa masa hidupnya dengan seseorang yang menjadi pilihannya kelak. Seperti akhir-akhir ini, nikah muda seolah menjadi tren untuk menjauhi perzinaan di kalangan anak remaja.
Sebenarnya menikah bukan hanya tentang cinta, melainkan juga tentang kesiapan dan persiapan. Tidak hanya dari segi pesta, tempat atau resepsi, lebih dari itu pernikahan juga terkait dengan persiapan mental lahir dan batin.
Banyak risiko dan masalah yang akan tumbuh jika kamu tidak mempersiapkan pernikahan secara mental dengan baik. Apa saja? Berikut lima risiko yang harus dihadapi ketika kamu punya keinginan untuk menikah muda.
1. Kehilangan Masa Muda
Risiko paling utama jika kamu memutuskan untuk menikah di usia, maka kamu juga harus siap untuk "kehilangan" segala aktivitas menyenangkan di masa mudamu. Seperti misalnya waktu berkumpul bersama teman, jalan-jalan, atau malas-malasan di akhir pekan.
Jika sudah menikah berarti kamu sudah punya tanggung jawab yang harus diurus setiap hari atau bahkan jam. Sudah siap, guys?
2. Pemikiran yang Mungkin Belum Matang
Masa remaja adalah masa pencarian jati diri. Rasa ingin tahu yang tinggi, emosi yang tak terkendali kerap menjadi permasalahan saat beranjak dewasa. Dewasa memang bukan masalah usia, tapi secara tindakan dan pemikiran.
Jika ada remaja yang sudah siap mental dan mempunyai pemikiran yang matang terhadap segala permasalahan yang terjadi, maka tak apa jika ia memutuskan untuk menikah. Jika sebaliknya, maka mempersiapkan diri terlebih dahulu adalah keputusan yang paling terbaik.
3. Bisa Jadi Merepotkan Orang Tua dan Orang Sekitar
Menikah tidak hanya menyatukan antara kamu dan pasangan saja, namun juga menyatukan dua keluarga besar sekaligus. Maka dari itu, kamu harus bisa bertanggung jawab untuk dirimu sendiri dan keluarga barumu kelak. Kalau kamu melalaikannya, pasti akan merepotkan orang lain, termasuk keluarga besar kalian.
Sudah semestinya bahwa pernikahan itu perlu dijalankan oleh orang dewasa. Bukan hanya sekadar dari umurnya, namun secara psikologisnya. Sehingga, dapat memenuhi segala tanggung jawab dalam berumah tangga dengan baik.
4. Kondisi Finansial untuk Hidup Berumah Tangga
Ketika sudah menikah maka kebutuhan pun akan semakin bertambah, bukannya materialistis, namun kita tetap perlu realistis untuk mempersiapkan pernikahan dan hidup berumah tangga untuk ke depannya. Sebaiknya, kamu harus memastikan kondisi finansial apakah sudah layak ataupun belum untuk bisa menghidupi keluarga baru.
Misalnya saja seperti pekerjaan, tempat tinggal, tabungan, dan lainnya. Kalau sudah hidup berumah tangga, hal tersebut sudah menjadi kebutuhan primer. Maka dari itu, jika berniat nikah muda sudah harus memiliki kondisi finansial yang baik.
Jangan sampai hal ini jadi bahan pertengkaran setelah menikah. Padahal kalian sendiri yang belum mempersiapkannya secara matang.
5. Bisa Saja Mengorbankan Pendidikan dan Karier
Tak disadari, dengan menginginkan menikah di usia muda justru menjadikannya sebagai prioritas utama. Sehingga, bisa saja malah akan mengesampingkan pendidikan dan kariermu, lho. Maka dari itu, jangan sampai karena kebelet menikah jadi gegabah mengambil keputusan di saat hal tersebut belum sepenuhnya kamu peroleh.
Jika kamu ingin memperoleh karier impianmu atau melanjutkan pendidikan, tentu tetap bisa dilakukan kalau pasanganmu memiliki tujuan hidup yang sama sepertimu. Namun kalau sebaliknya, bisa saja semua cita-citamu harus berhenti cukup di situ saja.
Nah, itu dia risiko menikah di usia muda jika kurangnya persiapan. Kalau menurut kamu gimana, apakah kamu pro atau kontra tentang menikah muda? (yrs)
