Konten dari Pengguna

Memberi Kritik Lebih Elegan Tanpa Menyinggung dengan Metode Sandwich, Apa Itu?

Generasi Milenial

Generasi Milenial

Generasi Milenial

ยทwaktu baca 2 menit

comment
3
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sandwich. Foto: Desain di Canva
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sandwich. Foto: Desain di Canva

Dalam perjalanan hidup, manusia tak luput dari kesalahan dan lupa. Sebagai sesama manusia, tidak ada salahnya juga untuk saling mengingatkan agar mereka bisa menjadi lebih baik.

Namun, yang biasanya luput dari perhatian adalah bagaimana kita menyampaikan sebuah kritik. Alih-alih dapat membuat orang sadar, justru malah sebaliknya. Mereka merasa sakit hati karena perkataanmu.

Metode Sandwich, Cara Memberikan Kritik Lebih Elegan

Sandwic. Foto: Mela Nurhidayati/kumparan

Jika cara kamu memberikan kritik salah, itu dapat menambah beban orang lain. Bahkan, setelahnya mereka mungkin juga dapat mengalami depresi, gangguan mental, dan lain sebagainya. Jelas semuanya tidak ingin berakhir seperti itu.

Lalu dengan cara apa kita dapat mengkritik tanpa harus menyakiti perasaan orang lain? Nah, mungkin kamu bisa mencoba metode sandwich untuk memberikan kritik yang lebih elegan kepada orang lain.

Layaknya sebuah sandwich atau burger yang punya tiga layer penting terdiri dari roti atas, daging, dan roti bawah, metode kritik sandwich juga punya tiga pilar sebagai cara elegan mengkritik orang lain. Teknik ini disebut sandwich feedback method (SFM).

SFM ini bertujuan agar seseorang yang menerima kritik tidak merasa tersakiti. Sebaliknya, mereka akan senang atas pendapat dan kritik positif yang kamu berikan. Dalam penerapan metode sandwich dalam memberikan kritik memiliki beberapa tahapan sebagai berikut.

1. Tahap Roti: Kasih yang Ringan Terlebih Dahulu

Tahapan awal ini, kamu dapat memberikan puji dengan tulus atas pekerjaan yang kita sukai dari pekerjaan orang tersebut.

2. Tahap Sayur: Lebih Sulit Dicerna

Bagian yang kedua yaitu sayur. Kita dapat menyampaikan hal-hal yang membuat kita keberatan tetapi masih bisa ditoleransi.

3. Tahap Daging: Poin yang Ingin Ditegur

Pada bagian ini, kita dapat menyampaikan sesuatu yang memang salah dan tidak boleh diulangi kembali. Ini menjadi poin utama terkait kritikan yang ingin disampaikan.

4. Tahap Roti Penutup: Ditutup dengan Hal Ringan

Terakhir, kita bisa menutupnya dengan memberikan harapan juga kepercayaan bahwa dia bisa menjadi lebih baik lagi.

Ya, cara ini jauh lebih baik. Sebab, selain mengkritik kamu juga mengapitnya dengan dua kalimat positif. Dengan begitu orang akan lebih nyaman dan merasa dihargai. Pikirannya pun akan cenderung lebih terbuka untuk menerima kritikan selanjutnya.

Lalu dengan kalimat penutup yang juga bernada positif, itu dapat membuatnya kembali merasa percaya diri. Jadi, jangan sampai kritik positif yang kamu berikan malah disalahartikan dan membuatnya semakin down, ya! (daa)