Konten dari Pengguna

Victim Mentality, Kenapa Ada Orang yang Merasa Selalu Jadi Korban Utama?

Generasi Milenial

Generasi Milenial

Generasi Milenial

·waktu baca 3 menit

comment
4
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Generasi Milenial tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi. Foto: Pixabay

Kondisi saat seseorang merasa dirinya yang paling susah dan jadi korban utama dalam segala situasi disebut dengan victim mentality atau playing victim.

Kondisi ini disebut saat seseorang seolah berjuang atas segala sesuatu yang terjadi di sekelilingnya, meski kondisi tersebut adalah karena ulahnya sendiri. Seseorang dengan victim mentality merasa hal-hal buruk terus terjadi dan dunia menentang mereka, alhasil prasangka buruk tak terhindarkan.

Mengutip Verywell Mind, victim mentality memiliki tiga prinsip utama yang sering tidak disadari yaitu sebagai berikut.

  • Hal-hal buruk telah terjadi di masa lalu dan akan terus terjadi hingga masa depan.

  • Orang lain yang harus disalahkan atas kemalangan atau nasib yang dialami.

  • Tidak ada gunanya mencoba melakukan perubahan karena itu tidak akan berhasil.

Bagi orang dengan victim mentality, tenggelam dalam negativitas lebih mudah daripada mencoba menyelamatkan diri sendiri. Bahkan mereka memaksakan pola pikir ini ke orang lain.

Penyebab Victim Mentality

Victim mentality tidak hanya muncul dari situasi terdesak saja. Namun, ada beberapa penyebab yang membuat seseorang menjadi rentan mengalami kondisi tersebut.

  1. Pengalaman trauma masa lalu, di mana pola pikir ini dikembangkan sebagai mekanisme koping (cara mengelola emosi).

  2. Situasi negatif di mana seseorang tidak memiliki rasa kontrol atau kendali.

  3. Rasa sakit emosional yang berkelanjutan yang membuat diri tidak berdaya, terjebak, hingga menyerah.

  4. Dikhianati oleh orang kepercayaan, dan mengakibatkan trust issues di masa depan.

  5. Menikmati situasi menyalahkan orang lain, manipulasi, atau gaslighting demi mendapatkan perhatian.

Pada intinya, pola pikir victim mentality berakar pada trauma, kesusahan, dan rasa sakit hampir sepanjang waktu. Kondisi ini membuat seseorang merasa rentan dan takut, dan memilih untuk tidak bertanggung jawab atau menyalahkan orang lain terhadap suatu tindakan.

Tanda-Tanda Victim Mentality

Berikut adalah tanda-tanda yang berpotensi bahwa seseorang memiliki victim mentality.

  • Menyalahkan orang lain atas bagaimana kehidupan berjalan.

  • Merasa diri sendiri menerima banyak masalah sulit.

  • Mengalami kesulitan mengatasi masalah hidup.

  • Memiliki sikap negatif terhadap sebagian besar situasi.

  • Ketika seseorang mencoba untuk membantu, justru balik diserang dengan marah.

  • Ketika merasa kasihan pada diri sendiri, itu membuat diri merasa lebih baik.

  • Cenderung bergaul dengan orang lain yang suka mengeluh dan menyalahkan orang lain.

  • Merasa kurang mendapat dukungan dari orang lain.

  • Kurang percaya diri atau memiliki harga diri yang rendah.

  • Orang lain harus mengakui bahwa dirimu telah menjadi korban.

  • Kurang empati terhadap masalah orang lain.

  • Berpikir bahwa dunia adalah tempat yang tidak adil.

  • Selalu merasa diri sendiri lebih buruk dan orang lain lebih bahagia.

Nah, seperti itulah penjelasan mengenai victim mentality yang jarang disadari. Jika kamu atau temanmu memiliki tanda tanda di atas, sebaiknya segera mencari pertolongan agar tidak terjerumus semakin dalam di pikiran negatif, ya. (yrs)