Konten dari Pengguna

Makna di Balik “Kami dan Kau”: Saat Pilihan Kata Menjadi Bentuk Perlawanan

Ghina Aufa Maulida

Ghina Aufa Maulida

Saya mahasiswa aktif UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Hobi Saya menulis dan membaca

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Ghina Aufa Maulida tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ia bisa hadir sebagai teriakan yang menuntut perubahan, atau sebagai keteguhan diam yang menolak lupa. dok: pribadi
zoom-in-whitePerbesar
ia bisa hadir sebagai teriakan yang menuntut perubahan, atau sebagai keteguhan diam yang menolak lupa. dok: pribadi

Artikel ini menyajikan tentang bagaimana representasi perlawanan sosial dalam menyuarakan “Kami” terhadap “Kau” dalam Puisi yang berjudul "Bunga dan Tembok" karya Wiji Thukul dan "Kau" karya Nuke Hanasasmit.

Puisi tidak pernah sepenuhnya lahir dari ruang sunyi. Ia tumbuh dari realitas sosial, dari ketegangan antara yang berkuasa dan yang dikuasai, dari pengalaman kolektif yang sering kali tidak memiliki saluran bicara. Dalam sastra Indonesia, puisi kerap menjadi medium untuk menyuarakan mereka yang terpinggirkan. Hal ini tampak jelas dalam dua puisi yang sama-sama berangkat dari ketimpangan sosial: “Bunga dan Tembok” karya Wiji Thukul dan “Kau” karya Nuke Hanasasmit.

Kedua puisi ini memperlihatkan pertentangan yang konsisten antara “kami” dan “kau”. Pertentangan tersebut tidak sekadar bersifat gramatikal, melainkan mencerminkan konflik sosial yang lebih luas. Untuk membaca relasi ini, artikel ini berpijak pada pendekatan sosiologi sastra Lucien Goldmann, sebagaimana dibahas dalam artikel Literary Sociology and the African Novel: The Theories of Sunday Anozie and Lucien Goldmann. Dalam kerangka ini, sastra dipahami sebagai ekspresi kesadaran kolektif dan pandangan dunia suatu kelompok sosial.

“Kami” sebagai Kesadaran Kolektif

Dalam “Bunga dan Tembok”, Wiji Thukul menghadirkan “kami” sebagai representasi rakyat kecil yang tersingkir oleh kekuasaan dan pembangunan. Mereka diibaratkan sebagai bunga yang tidak dikehendaki tumbuh, bahkan dirontokkan di tanahnya sendiri. Metafora bunga menandai kehidupan dan potensi, sementara tembok menjadi simbol kekuasaan yang membatasi dan menindas.

Menurut Lucien Goldmann, sebagaimana dijelaskan dalam kajian sosiologi sastra, karya sastra mengartikulasikan pandangan dunia kolektif yang lahir dari posisi sosial tertentu. “Kami” dalam puisi ini bukan suara personal penyair semata, melainkan suara kelompok sosial yang sadar akan penindasan yang dialaminya. Kesadaran ini tidak berhenti pada pengakuan penderitaan, tetapi bergerak menuju keyakinan akan perubahan. Penyebaran “biji-biji” di tubuh tembok menunjukkan optimisme kolektif bahwa kekuasaan tidak pernah sepenuhnya kebal terhadap perlawanan.

Berbeda dengan itu, puisi “Kau” karya Nuke Hanasasmit menghadirkan “kami” dari sudut pandang kelompok pekerja yang hidup dalam kekurangan. Mereka digambarkan melalui keringat, kelelahan, dan perjuangan memenuhi kebutuhan paling dasar. Kesadaran kolektif di sini hadir sebagai kesadaran akan ketidakadilan, tetapi tidak berkembang menjadi perlawanan struktural. “Kami” menyadari haknya dirampas, namun tidak memiliki ruang atau daya untuk melawan secara langsung.

Dalam “Bunga dan Tembok”, Wiji Thukul merumuskan perlawanan secara tegas melalui metafora yang politis dan kolektif:

“Di tubuh tembok itu / Telah kami sebar biji-biji / Suatu saat kami akan tumbuh bersama.”

Kutipan ini menunjukkan bahwa “kami” tidak diposisikan sebagai korban pasif. Meski berhadapan dengan “tembok” yang melambangkan kekuasaan dan tirani, “kami” tetap memiliki kesadaran historis dan keyakinan akan perubahan. Perlawanan direpresentasikan sebagai proses kolektif yang sedang berlangsung—diam, tetapi pasti. Bahasa metaforis yang digunakan Wiji Thukul bekerja sebagai strategi politik: sederhana, mudah dipahami, dan sarat optimisme revolusioner. “Kami” adalah subjek sejarah yang percaya bahwa tirani dapat dan harus diruntuhkan.

Sebaliknya, dalam puisi “Kau”, Nuke Hanasasmit menampilkan perlawanan melalui pengakuan keterbatasan dan gugatan moral, yang paling kuat tercermin dalam larik penutup puisinya:

“Kami memang tak mampu balas dirimu / Karena Tuhan yang akan balas dirimu.”

Kutipan ini memperlihatkan bahwa “kami” direpresentasikan sebagai kelompok yang sadar akan ketidakadilan, tetapi tidak memiliki daya untuk melawan secara struktural. Perlawanan tidak diarahkan pada perubahan sistem, melainkan pada pengadilan etis dan transenden. “Kami” tetap bersuara, tetapi suaranya adalah suara kesaksian dan penyerahan, bukan seruan revolusi. Penyajian ini menempatkan puisi sebagai ruang gugatan nurani, bukan alat agitasi politik.

Dalam kerangka Goldmann, perbedaan ini mencerminkan perbedaan pandangan dunia kolektif. Jika Wiji Thukul menampilkan kesadaran yang politis dan transformatif, Nuke Hanasasmit menampilkan kesadaran yang lebih moral dan eksistensial—kesadaran akan ketimpangan yang dihadapi, tetapi tanpa keyakinan terhadap perubahan sistem sosial.

“Kau” dan Arah Perlawanan Sosial

Sosok “kau” dalam kedua puisi berfungsi sebagai oposisi utama terhadap “kami”. Dalam “Bunga dan Tembok”, “kau” bersifat struktural dan impersonal: ia hadir sebagai kekuasaan, pembangunan, dan sistem yang menyingkirkan rakyat kecil. Tembok menjadi representasi dari kekuasaan yang tampak kokoh, tetapi sesungguhnya menyimpan kontradiksi internal.

Sementara itu, dalam puisi “Kau”, sosok “kau” lebih personal dan moral. Ia digambarkan sebagai pihak yang tidak bersyukur, mencuri hak orang lain, dan menikmati penderitaan sesamanya. Relasi sosial yang timpang ini tidak dilawan dengan seruan perubahan struktural, melainkan dengan gugatan nurani dan pengadilan etis. Ketika keadilan tidak ditemukan dalam struktur sosial, harapan diarahkan pada keadilan transenden.

Lucien Goldmann, dalam teorinya, menekankan bahwa sastra tidak hanya mencerminkan struktur sosial, tetapi juga memperlihatkan cara kelompok sosial memaknai kemungkinan perubahan. Dalam konteks ini, perbedaan arah perlawanan dalam kedua puisi bukanlah kelemahan, melainkan cerminan dari posisi sosial dan pengalaman historis yang berbeda. Wiji Thukul menyuarakan perlawanan kolektif yang percaya pada transformasi sosial, sementara Nuke Hanasasmit menyuarakan perlawanan yang bersandar pada nilai moral dan spiritual.

Dengan demikian, kedua puisi ini memperlihatkan bahwa perlawanan sosial tidak selalu hadir dalam bentuk yang sama. Ia bisa muncul sebagai seruan untuk meruntuhkan tirani, atau sebagai gugatan lirih terhadap hilangnya empati. Namun, keduanya berangkat dari kesadaran yang sama: adanya ketidakadilan yang terus berlangsung dan tidak boleh dibiarkan tanpa suara.

Daftar Pustaka

Irele, Abiola. 1974. “Literary Sociology and the African Novel: The Theories of Sunday Anozie and Lucien Goldmann.” African Studies Review, Vol. 17, No. 2. akses melalui: https://www.jstor.org/stable/3818471