Film Air Mata di Ujung Sajadah: Batasan Moral dan Etika dalam Konflik Keluarga

Gideon Budiyanto
Sarjana Teologia (S.Th.) di bidang pastoral/konseling. Profesi : Karyawan Swasta dan Penulis. Anggota Persatuan Wartawan Nasrani Indonesia (PEWARNA) Tangerang Selatan dan ISP NULIS
Konten dari Pengguna
17 Agustus 2023 13:27 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gideon Budiyanto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto ; Dok. Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Foto ; Dok. Pribadi
ADVERTISEMENT
Rabu, 16 Agustus 2023, saya berkesempatan untuk mengikuti gala premiere film Indonesia yang berjudul Air Mata di Ujung Sajadah. Sebuah film yang mengangkat tema tentang keluarga beserta dengan beragam konfliknya.
ADVERTISEMENT
Film ini dibintangi oleh Titi Kamal, Fedi Nuril, Citra Kirana, Faqih Alaydrus, Krisjiana Baharudin, Tutie Kirana, Mbok Tun, serta legenda film Indonesia Jenny Rahman, disutradarai oleh Key Mangunsong dan diproduksi oleh Beehave Pictures beserta MBK Productions. Film ini direncanakan akan tayang serentak di seluruh bioskop tanah air pada tanggal 7 September 2023.
Kisahnya tentang seorang wanita bernama Aqilla (Titi Kamal) yang harus berjuang untuk mendapatkan cinta dari buah hatinya, Baskara (Faqih Alaydrus) yang telah diasuh oleh sepasang suami istri, Arif (Fedi Nuril) dan Yumna (Citra Kirana). Akibatnya, banyak hal yang tidak terduga terjadi.
Konflik keluarga yang ditampilkan dalam film ini cukup menarik, tidak biasa serta mampu mengharu-biru para penonton sehingga pada saat pemutarannya di gala premiere, banyak yang harus mengambil sapu tangan atau selembar tissue hanya untuk menyeka air mata yang terjatuh saat menyaksikan perjuangan Aqilla dan gejolak batin Yumna di layar bioskop.
ADVERTISEMENT
Selain penampilan para aktor dan artis papan atas Indonesia pada film ini, para penonton juga akan melihat akting berkualitas dari artis senior Jenny Rahman yang tentunya sudah sangat dinanti-nantikan oleh para penggemar film Indonesia.
Jenny Rahman sendiri mampu menghidupkan tokoh Eyang Murni yang penuh dengan pergolakan dalam batinnya. Di satu sisi, ia mengerti pedihnya hati Aqilla namun di sisi lain ia juga memahami perasaan galau dari Yumna. Itu semua bisa terlihat bukan hanya dari bahasa tubuhnya saja, melainkan tercermin juga dari pancaran mata sang Eyang sehingga para penonton bisa ikut merasakan pergulatan batin yang dialaminya.
Film ini sepertinya juga ingin mengangkat soal bagaimana konflik-konflik yang memang kerap kali datang laksana badai dalam keluarga itu jika dilihat dari sisi moral dan etika.
ADVERTISEMENT
Kita mengerti bahwa di dalam keluarga, peran orang tua memang sangatlah penting di dalam mengasuh anak-anaknya. Namun bagaimana seandainya peran pengasuhan itu berubah ke arah merugikan si anak dalam segi moral dan etika, dapatkah orang tua dipersalahkan?
Pertanyaan lain yang tidak kalah pentingnya yang mau diangkat di dalam film ini adalah, jikalau terjadi konflik dalam sebuah keluarga, apakah keluarga itu masih bisa menjunjung tinggi moral dan etika sesama anggotanya atau, mentang-mentang keluarga, moral dan etika diabaikan begitu saja sehingga yang terjadi adalah dia yang merasa paling berhak akan menjadi yang paling berkuasa menentukan?
Hal lain lagi yang menarik dari film ini adalah original soundtracknya yang berjudul Dawai yang dinyanyikan dalam dua versi oleh Fadhilah Intan dan Kirana Setio. Kemegahan musiknya mampu membius semua pendengarnya masuk ke dalam dunia Air Mata di Ujung Sajadah.
ADVERTISEMENT
Jadi, jangan lupa nantikan pemutaran filmnya dan saksikan bersama keluarga, kerabat dan teman-teman anda.