Konten dari Pengguna

Jakarta Macet Lagi: Benang Kusut Transportasi yang Tak Kunjung Selesai

gifarie ihsanul

gifarie ihsanul

mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah jurusan manajemen semester 2

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari gifarie ihsanul tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber dari Gemini a.i sebagai ilustrasi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber dari Gemini a.i sebagai ilustrasi

Macet di Jakarta bukan cerita baru. Setiap pagi dan sore, jalanan berubah jadi lautan kendaraan yang tak bergerak. Bukan hanya bikin stres, kemacetan juga menyita waktu, menurunkan produktivitas, dan secara perlahan menggerogoti kualitas hidup warganya. Pertanyaannya, siapa yang harus disalahkan?

Sayangnya, tidak ada satu jawaban pasti. Kemacetan di Ibu Kota adalah hasil dari tumpukan masalah yang saling terkait: mulai dari perencanaan kota yang tidak sejalan dengan pertumbuhan populasi, kurangnya integrasi antarmoda, hingga perilaku pengguna jalan yang semrawut.

Masalah Dimulai dari Perencanaan yang Tak Visioner

Jakarta terus berkembang, tapi perencanaan transportasinya tertinggal. Jumlah kendaraan bertambah cepat, tapi infrastruktur jalan dan transportasi massal tak mampu mengimbangi. Proyek besar seperti jalan layang, MRT, atau LRT memang sudah berjalan. Tapi sayangnya, kebanyakan proyek itu bersifat reaktif menambal lubang yang sudah terbuka bukan langkah antisipatif jangka panjang.

Akibatnya, kapasitas transportasi publik selalu kalah dari pertumbuhan kendaraan pribadi. Rencana induk transportasi pun seringkali tidak relevan dengan realita lapangan. Ini menunjukkan kegagalan dalam manajemen strategis jangka panjang.

Transportasi Publik Ada, Tapi Belum Terintegrasi Sempurna

Jakarta memang sudah punya sistem transportasi publik yang beragam: TransJakarta, MRT, LRT, hingga KRL. Namun, integrasi antarmoda masih jauh dari kata ideal. Titik transit kadang tidak nyaman, park and ride terbatas, dan banyak warga masih harus jalan kaki jauh untuk berpindah moda.

Koordinasi antar instansi juga jadi masalah klasik. Pemerintah pusat, Pemprov DKI, hingga operator layanan kadang punya kebijakan yang tak sinkron. Ini membuat sistem transportasi jadi tidak efisien, dan akhirnya memperparah kemacetan.

Pelanggaran Lalu Lintas Jadi Pemandangan Biasa

Masalah lainnya adalah perilaku pengguna jalan yang sering abai aturan. Parkir sembarangan, menyerobot antrean, melawan arus semua itu sudah seperti bagian dari “budaya jalanan” Jakarta. Pengawasan pun masih lemah. Meski teknologi seperti CCTV dan ETLE sudah dipasang, tapi efek jera belum benar-benar terasa.

Minimnya penegakan hukum dan kesadaran masyarakat membuat pelanggaran terus berulang. Ketika warga merasa bisa “main belakang” untuk menghindari sanksi, sistem hukum pun kehilangan wibawanya.

Perubahan Tak Cukup Parsial, Harus Menyeluruh

Kalau Jakarta ingin keluar dari lingkaran setan kemacetan, pendekatannya harus menyeluruh. Tidak bisa hanya dengan membangun jalan atau menambah bus.

Pertama, perencanaan transportasi harus berbasis data dan masa depan. Pemerintah perlu menekan penggunaan kendaraan pribadi lewat pembatasan dan insentif penggunaan transportasi umum. Pengembangan kawasan TOD (Transit Oriented Development) harus dipercepat.

Kedua, integrasi antarmoda perlu diperbaiki secara menyeluruh, bukan hanya dari sisi pembayaran. Fasilitas penunjang seperti trotoar, halte, hingga penunjuk arah juga harus nyaman dan manusiawi.

Ketiga, penegakan hukum harus lebih serius. Tak ada toleransi untuk pelanggaran, sekecil apapun. Teknologi harus dimanfaatkan maksimalmulai dari analisis data kemacetan hingga kecerdasan buatan untuk prediksi pola lalu lintas.

Macet Jakarta, Cermin Cara Kita Mengelola Kota

Pada akhirnya, kemacetan bukan hanya soal siapa yang salah. Ini tentang bagaimana kita bersama-sama mengelola kota. Semua pihak punya peran: pemerintah sebagai pengambil kebijakan, masyarakat sebagai pengguna jalan, dan lembaga hukum sebagai penegak aturan.

Jika tak ada perubahan nyata, maka lagu lama ini akan terus diputar ulang: Jakarta macet, waktu habis di jalan, dan potensi kota terus tertahan.