Cerita Suroso-Ratnani Meniti Rel Madiun-Yogya demi Menjemput Kesembuhan

Suroso (63) dan Ratnani (63) rutin bolak-balik Madiun-Yogyakarta sejak Mei 2026 untuk menjalani pengobatan mata Ratnani di RSUP Dr Sardjito. Pasangan tersebut memilih kereta api untuk perjalanan mereka, sekaligus memanfaatkan reduksi tarif lansia yang diberikan KAI.
Selama menjalani pengobatan, keduanya tinggal sementara di Rumah Singgah Yayasan Kanker Indonesia (YKI) di Sendowo, Sinduadi, Mlati, Sleman. Mereka kembali ke Madiun mengikuti jadwal pemeriksaan, kemudian datang lagi ke Yogyakarta ketika harus menjalani pemeriksaan berikutnya.
Saat ditemui di Stasiun Tugu Yogyakarta, Sabtu (19/9/2026), keduanya tiba sekitar pukul 14.30 WIB. Tiket perjalanan pulang dibelikan anak mereka. KA Sangkuriang yang akan membawa mereka ke Madiun baru berangkat pukul 21.20 WIB.
Menunggu Tujuh Jam di Stasiun
Hampir tujuh jam sebelum KA Sangkuriang berangkat, Suroso dan Ratnani mengisi waktu di ruang tunggu dengan cara mereka sendiri. Keduanya sempat tertidur bersamaan di kursi tunggu berlapis bantalan cokelat.
Suroso menyandarkan tubuh dengan kedua kaki dinaikkan ke kursi di depannya, sementara Ratnani terlelap di sebelahnya. Setelah terbangun, keduanya berbincang. Ratnani kemudian mengambil mushaf Al-Qur'an dari tasnya dan membaca beberapa halaman.
Saya kemudian menghampiri keduanya. Suroso mengatakan mereka memang sengaja datang lebih awal agar tidak terburu-buru mengejar kereta.
“Daripada nanti mepet, Mas. Keretanya malam, kami dari siang sudah sampai sini. Santai saja nunggu,” kata Suroso ke Pandangan Jogja.
Ratnani yang mengaku sensitif terhadap debu juga memperhatikan kondisi ruang tunggu. Ia menyebut area tersebut bebas asap rokok dan toilet stasiun rutin dibersihkan.
“Di sini enak buat nunggu, Mas. Orang ngerokok enggak ada. Toiletnya juga bersih, habis dipakai cepat dibersihkan lagi,” ujar Ratnani.
Kereta Jadi Pilihan Perjalanan
Sejak Mei, perjalanan dengan kereta menjadi bagian dari rutinitas mereka mengikuti jadwal pengobatan Ratnani. Setelah pemeriksaan di Sardjito, mereka kembali ke Madiun, kemudian datang lagi ke Yogyakarta saat jadwal pemeriksaan berikutnya tiba.
Suroso, pensiunan PNS, mengatakan kereta dipilih karena biaya perjalanan menggunakan mobil lebih besar. Ia memperkirakan perjalanan pulang-pergi dengan mobil bisa menghabiskan sekitar Rp2 juta untuk tol, bahan bakar, dan kebutuhan selama perjalanan.
“Kalau mobil kan jauh. Pulang-pergi bisa sekitar Rp2 juta, buat tol, bensin, makan. Kalau naik kereta tinggal duduk,” katanya.
Selain pertimbangan biaya perjalanan, keduanya juga memanfaatkan reduksi tarif 20 persen untuk lansia. Potongan itu, kata Suroso, cukup terasa karena perjalanan mereka dilakukan berulang mengikuti jadwal pemeriksaan.
“Lumayan, Mas. Kalau cuma sekali mungkin enggak terasa. Tapi kami kan bolak-balik. Kalau dapat potongan, uangnya bisa buat kebutuhan yang lain,” ujarnya.
Pengalaman Suroso dan Ratnani dengan layanan KAI tidak berhenti setelah berada di ruang tunggu. Dalam perjalanan, Suroso mengatakan awak kereta juga membantu ketika mereka membutuhkan bantuan.
“Kalau di kereta juga ada yang bantu. Kalau mau ke toilet atau pas mau turun, ada petugas yang membantu. Jadi kami enggak perlu bingung,” kata Suroso.
Potongan Tarif dan Fasilitas Lansia KAI
Senada dengan itu, saat dihubungi terpisah oleh Pandangan Jogja, Senin (21/9/2026), Humas KAI Daop 6 Yogyakarta Feni Novida Saragih menjelaskan reduksi tersebut merupakan fasilitas KAI bagi penumpang berusia 60 tahun ke atas.
Untuk mendapatkannya, calon penumpang perlu melakukan registrasi maksimal H-2 sebelum keberangkatan dengan membawa identitas asli dan foto.
“Reduksi 20 persen ini berlaku setiap hari untuk lansia usia 60 tahun ke atas. Registrasinya dilakukan maksimal H-2 sebelum keberangkatan,” ujar Feni.
Data KAI mencatat 609.657 penumpang lansia menggunakan reduksi tarif kereta api jarak jauh pada Januari-Juni 2026, meningkat 31,09 persen dibanding periode yang sama pada 2025.
Selain potongan harga khusus lansia, Feni juga menjelaskan pendampingan bagi penumpang lansia memang disiapkan sejak berada di stasiun hingga tiba di stasiun tujuan.
Pendampingan mencakup bantuan menuju toilet atau gerbong makan, serta membantu penumpang ketika naik dan turun dari kereta. Di stasiun, layanan juga mencakup kursi roda, ramp, kursi tunggu prioritas, dan bantuan petugas.
“Pendampingan tidak berhenti setelah penumpang naik. Selama perjalanan, kondektur juga memantau dan petugas membantu kalau lansia membutuhkan bantuan,” ujar Feni.
Bagi Suroso dan Ratnani, layanan tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang masih akan mereka jalani. Selama pemeriksaan Ratnani belum selesai, perjalanan Madiun-Yogyakarta masih akan terus berulang.
“Kami berharap pemeriksaannya lancar dan bisa segera selesai. Kalau masih harus bolak-balik, ya kami tetap naik kereta,” kata Suroso.
