Pesulap Merah vs Gus Samsudin dan Bahaya Laten Logika Mistik

Mahasiswa UMY. Homo ludens yang gemar berleha-leha
Konten dari Pengguna
9 Agustus 2022 19:19
·
waktu baca 6 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Gigih Imanadi Darma tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pesulap Merah. Foto: Instagram @marcelradhival1
zoom-in-whitePerbesar
Pesulap Merah. Foto: Instagram @marcelradhival1
ADVERTISEMENT
Kalau tidak dengan tersenyum, sesungguhnya Gus Samsudin sangat cocok menjadi tukang pukul. Itulah kesan pertama saya ketika melihat meme seorang pria alis tebal dan berambut gondrong dengan janggut tempelan yang jatuh lurus lumayan panjang.
ADVERTISEMENT
Setelah mengetahui orang itu mengeklaim dirinya sendiri punya kesaktian menyembuhkan berbagai macam penyakit sambil rupa-rupa atraksi dan doa dalam bahasa Arab yang keliru, saya tidak jadi menambah penilaian bahwa orang itu mirip kaum Hippie, melainkan ia sebenar-benarnya tetap tukang pukul.
Memukul rebana atau beduk atau apa sajalah yang secara kebudayaan terlanjur identik dengan Islam.
Dalam sebuah video, diperlihatkan Gus Samsudin sedang berjalan ke tempat yang ia bangun dan dinamakan sebagai Padepokan Nur Dzat Sejati dan semua hadirin berdiri dan bergantian memberi hormat. Mencium tangannya bolak-balik. Menempelkan pipi mereka dengan sopan santun yang paling murni.
Orang seperti ini pastilah sangat istimewa. Kalau mau bertemu pasti sulit. Bisa-bisa menunggu berhari-hari. Tapi seorang pemuda dengan sikap petantang-petenteng ternyata punya nyali yang besar.
ADVERTISEMENT
Dengan menggunakan pakaian serba unsur api, termasuk yang paling mencolok rambut palsunya, Marchel Radhival, pemuda yang mempunyai panggilan lain sebagai Pesulap Merah itu datang untuk menguji kesaktian Gus Samsudin.
Bak pahlawan yang menumpas kejahatan, orang sakti yang mukim di Blitar itu disebut oleh Pesulap Merah telah membodohi, menipu, dan merugikan masyarakat dengan trik-trik sulap murahan yang digunakannya untuk membuka praktik pengobatan supranatural. Masyarakat harus tercerahkan.
Satu pekan belakangan, saya hampir membanting gawai hanya karena algoritma sosial media memunculkan video-video perseteruan dua orang konten kreator dengan perawakan seperti tidak pernah mengenal sisir sekali seumur hidup itu.
Tapi ya sudahlah, mungkin saya benar-benar kekurangan hiburan. Dan saya sendiri menolak ritme hidup yang membosankan. Menonton konten yang masuk akal dan memperhalus akal budi seperti channel Asumsi, Jeda Nulis, Geolive, Sisi Terang, Dr. Indrawan Nugroh, dan sebagainya ada kalanya bosan juga.
ADVERTISEMENT
Sebagai entertainment melihat geger gedhen antara dua laki-laki yang seperti tidak pernah mengenal sisir seumur hidup itu lumayan bisa melonggarkan otot wajah. Membuat saya tertawa getir.
Tapi makin saya tonton, entah dorongan dari mana yang membuat saya makin serius memikirkan apa saja celah dari peristiwa itu yang bisa dijadikan bahan overthinking dan agar tidak hilang begitu saja tersapu waktu.
Saya akhirnya menemukan dua kata kunci yang jadi benang merah; Sinetron dan mistisisme.

Berhenti Menikmati Konten Mistik

Mochtar Lubis punya tesis yang sampai sekarang sulit untuk tidak membuat kita mengangguk. Dalam sebuah ceramah tahun 1977 yang kelak disusun menjadi buku, di antara ciri-ciri manusia Indonesia, Jurnalis kenamaan Indonesia itu menyebut ada 6 sifat yang hampir semuanya buruk. Nomor 4 disebutlah kalau manusia Indonesia terlalu percaya takhayul. Menyenderkan banyak perkara pada hal-hal gaib.
ADVERTISEMENT
Horor. Klenik. Supranatural. Dukun. Dan semua kata turunannya itu bagaikan virus yang menyebar tak terbendung. Dari yang semula cerita lisan, direka ulang ke dalam format tulisan dan divisualisasikan ke dalam bentuk video.
Hal tersebut bertransformasi dan orang-orang berlomba membuatnya untuk tetap relevan. Media arus utama dan mainstream menyediakan wadah dan banyak pelaku yang dengan sadar mengisinya tanpa ragu. Cerita-cerita mistik itu di copy paste ke berbagai medium.
Tidak cukup program televisi. Konten sosial media. Bahkan film-film bergenre horor yang mengangkat mistisme terbukti sangat digemari. Antara produsen dan konsumen konten sama-sama doyan. Membentuk lingkaran setan.
Kita ambil beberapa contoh. Di televisi ada program Mister Tukul Jalan-jalan, Masih Dunia Lain, Karma, dan lain sebagainya. Pada industri film, saya sebut dua saja yang paling ramai belakangan ini: KKN di Desa Penari dan Pengabdi Setan.
Dan tayangan semacam itu telanjur menginspirasi para konten kreator, terutama di YouTube. Bagai jamur di musim hujan. Dan peristiwa Pesulap Merah vs Gus Samsudin hanyalah fenomena gunung es yang tampak di permukaan.
ADVERTISEMENT
Berhubung Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) sudah bersungut-sungut menyetop program mistik di televisi, format sinetron itu akhirnya bermigrasi ke platform lain. Dan percayalah sinetron semacam itu sangat laris bagai gula yang dikerubungi semut.
Setelah rating menurun nantinya akan digeser oleh yang sejenis. Bukankah kita gemar akan hal itu? Maka cukup berleha-leha saja, pasti akan datang parade sinetron berikutnya.
Hanya saja kita harus lebih bijak lagi sebab Tuhan telah menganugerahkan akal yang tegak, jangan sampai kita membuatnya tiarap dengan terus-terusan mengkonsumsi tontonan tak bermutu.
Kita punya remote, punya tombol, punya kehendak yang hidup untuk menekan kata stop. Jangan lagi memberi pakan sehingga industri takhayul tidak menjadi raksasa.

Bahaya Laten Logika Mistik

Tidakkah kita cemas, bahwa jangan-jangan bangsa ini terjebak dan mungkin sampai level terobsesi pada hal-hal yang demikian.
ADVERTISEMENT
Tidakkah kita juga bertanya, apakah itu bawaan bangsa yang lama terjajah lalu membentuk sungai kebudayaan yang tak bisa kering? Karena sifatnya kolektif, apa dampaknya terhadap kehidupan kita sebagai entitas bangsa?
Jauh sebelum Mochtar Lubis melontarkan kritik terhadap sifat buruk manusia Indonesia, Bapak Republik kita, Tan Malaka, sudah punya pikiran canggih semacam itu.
Pada era informasi yang sangat terbatas, dan saat bangsa ini masih berusaha lepas dari kungkungan kolonialisme, dalam bukunya berjudul Madilog: Materialisme Dialektika dan Logika -- yang banyak disalahpahami itu -- Tan Malaka mengajak bangsa ini untuk berpikir konkret.
Dalam bab awal buku itu, Tan Malaka menyebut logika mistik sebagai salah satu kelemahan. Membuat bangsa yang besar ini tak ubahnya bayi yang pandir. Akal kurang berfungsi. Dan untuk itu perlu menyingkirkan takhayul. Mengubur dalam-dalam irasionalitas.
Baginya perjuangan untuk merdeka dan mengurus sendiri bangsa secara berdaulat dimulai dari merubah cara berpikir.
Kalau bangsa ini masih saja memelihara logika mistik, profil manusia Indonesia akan terus terbelakang dengan melahirkan generasi dengan karakter yang malas.
ADVERTISEMENT
Pribadi-pribadi yang minimalis dan loyo. Pendek dalam berpikir. Bermental budak. Mudah disetir. Ditipu perasannya sendiri. Menyerah begitu saja pada apa yang disebut sebagai nasib dan takdir buruk. Dan seterusnya dan sebagainya.
Lantas dalam konteks ini, bagaimana kita bisa terbebas dari logika mistik yang sesat dan menyesatkan itu?
Waktu berlari. Zaman berubah. Ilmu pengetahuan modern terus melahirkan temuan-temuan ilmiah baru. Memfokuskan perhatian pada sains lebih berguna ketimbang menonton konten-konten tak jelas juntrungannya.
Sekalipun mendengarnya sambil setengah tidur, racauan yang nir faedah dukun murahan berkedok tafsir agama dan sejenisnya itu lebih baik ditinggalkan. Upgrade dengan tontonan yang bermutu.
Menghibur diri boleh-boleh saja, tapi hati-hati jangan sampai terseret dan malah tersugesti pada takhayul dan turunannya. Sisakan sedikit saja skeptisisme. Dorong akal kita untuk terus belajar hal-hal baru yang menimbulkan sikap kritis.
ADVERTISEMENT
Tabik!
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020