Konten dari Pengguna

Mengantar ke Salon dan Lagu-Lagu yang Tak Dituntaskan

Gilang GP

Gilang GP

A Profesional Marketer yang suka membaca, menulis, dan menganalisis suatu fenomena. Di sini menulis kuliner, review film, sesekali politik.

clock
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gilang GP tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

So, what's your music again? (Foto: Istimewa)
zoom-in-whitePerbesar
So, what's your music again? (Foto: Istimewa)

Siang yang terik di sebuah kampung kota kecil yang masih mudah ditemui bentangan sawah dan sederetan pepohonan hijau beragam varian adalah kegembiraan tersendiri bagi saya yang sehari-hari beraktivitas di kota besar macam Jakarta, yang populer dengan image negatif karena berbagai hal, namun anehnya selalu saja didatangi jutaan orang setiap tahunnya. Tapi, karena ini sudah terbiasa jadinya gak aneh lagi, sih.

Oke, saya sudah cukup bosan membicarakan Jakarta dan segala isinya. Maka itu, saya akan membicarakan kampung, musik, dan salon yang saya sambangi siang tadi. Ya, betul. Kampung, salon, dan musik.

Siang tadi saya mengantarkan ibu dari anak saya pergi ke salon untuk potong rambut. Biasanya, saya jarang mengantarnya ke salon karena memang dia jarang meminta saya untuk menemaninya ke salon. Jika pun pergi ke salon seringnya ia ditemani kakaknya yang juga memang doyan nyalon (kalau ini bukan untuk potong rambut). Barangkali dia tahu jika saya tak terlalu menyukai pekerjaan menunggu. Meskipun, untuk sebagian hal tak selalu menunggu itu tak mengasyikkan. Seperti siang ini.

Sembari menunggu, saya memperhatikan keadaan ruangan salon tersebut. Dua cermin besar dan alat-alat untuk menyalon. Tampak juga seorang perempuan terlihat sedang dibasahi rambutnya dan menunggu cairan rambut menyerap sempurna, sampai mata saya tertuju pada suami dari pemilik salon tersebut yang tengah sibuk mengotak-atik speaker multimedia bermerek GMC yang saya taksir harganya tak lebih dari tiga ratus ribu rupiah, namun mengeluarkan sound yang cukup lumayan lah.

Sementara istri saya sedang dilayani oleh pemilik salon dan tak ambil pusing dengan semacam pemikiran, musik apakah yang bakal diputar oleh laki-laki itu?

Lagu pun diperdengarkan satu per satu olehnya. Seorang lelaki dengan wajah menanggung waktu mengenakan kaos polo sobek di ketiak. Ia memutar bermacam lagu dan semuanya berbahasa inggris dari mulai Taylor Swift, Katy Perry, Ariane Grande, hingga Kelly Clarkson yang selalu bertikai dengan saudaranya sejak saya SMA. Sialnya, tak satu pun lagu yang lelaki itu perdengarkan sampai tuntas. Ia terus mem-forward lagu demi lagu dengan remote di tangannya, sampai lagu pun terhenti pada beat dengan looping yang berulang-ulang. Saya tak tahu itu lagu siapa namun saya kenal musik yang terdengar kencang itu adalah RnB.

Ada rasa heran yang menganga dalam benak saya saat itu, di kampung kecil yang saya tahu minat terhadap pendidikan dan literasinya sangat rendah seolah terpatahkan oleh selera musik lelaki yang sudah ujur tersebut. Tak sulit untuk menemukan 8 dari 10 warga di kampung tersebut putus sekolah sejak SD. Tapi tunggu dulu, siapa tahu itu memang playlist anaknya yang dimasukkan ke dalam multimedia GMC itu. Siapa tahu juga ia meminta anaknya yang cukup tahu cara mengunggah lagu-lagu dari internet yang membuat pagi makin punya energi. Karena mungkin saja anaknya telah akrab dengan internet.

Tapi yang menjadi keheranan saya adalah kenapa lelaki tua itu memilih untuk memutar lagu hingga tuntas dengan beat cepat dan looping berulang bukan malah Taylor Swift yang setidaknya lebih populer di televisi dan radio, misalnya.

Pikiran saya terlempar jauh pada penulis buku “Apa Itu Musik?”, Karina Anjani. Terlepas dari definisinya, musik merupakan teman akrab manusia dalam melakukan aktivitasnya. Di toilet, di gorong-gorong, di kemacetan, di kesepian, di kolam ikan, di teras rumah, di kosan, termasuk juga di salon, ya orang memang senang mendengarkan musik. Dari 1015 responden pendengar musik, menurut DailySocial.id, 61,48% adalah pecinta musik dengan mendengarkannya setiap hari.

Saya tidak tahu apakah lelaki itu sebagai pencinta musik yang dimakud oleh DailySocial.id atau bukan. Namun, saya cukup yakin lelaki itu tak tahu apa-apa soal RnB meski mungkin mendengarkannya setiap hari.

Karina, dalam bukunya menjelaskan mengenai definisi musik yang difragmentasi menjadi tiga hal. Pertama, musik secara intrinsik. Ini berkaitan dengan muatan musik formal yang telah dikenal banyak orang, seperti bunyi yang terdapat dalam tangga nada, tempo, alur dan sejenisnya. Kedua, musik secara subjektif. Sederhananya kita menganggap tepuk tangan itu sebuah musik ya sudah bahwa itu musik. Selesai. Ketiga, musik secara intensional. Ini menitikberatkan pada niatan sebuah suara agar terdengar musikal. Misalnya saja, suara gelas dipukul sendok garpu yang dipadu ember maka ia akan menghasilkan suara yang terdengar musikal.

Secara umum sih dalam bukunya, Karina melihat musik dari perdebatan tradisi filsafat barat, seperti universal vs partikular. Apakah musik itu adalah sesuatu yang lepas dari dimensi spasio-temporal (universal) ataukah partikular? Merujuk pada hal tersebut jelas dalam benak lelaki unik itu ia memposisikan musik pada tataran dimensi spasio-temporal alias universal: yang penting asyik, beat-nya enak nan membawa semangat.

Namun, satu hal yang sangat dia sadari yang juga dipahami oleh filsuf eksistensialisme yang juga pecinta musik, Friedrich Nietzsche berujar satu waktu: life without music would be a mistake.

Yes indeed, old man!