Mengungkap Kebiasaan Flexing Para Pejabat: The Power of Netizen di Media Sosial

Seorang mahasiswa ilmu Komunikasi Universitas Andalas angkatan 2020 yang berfokus pada konsentrasi Jurnalistik
Konten dari Pengguna
3 April 2023 5:21
·
waktu baca 4 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Gilang Ramadan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Foto dari Melanie Deziel (Unplash.com)
ADVERTISEMENT
Belakangan ini pemberitaan di Indonesia banyak diwarnai dengan berita pejabat yang flexing harta. Pejabat yang memamerkan hartanya dinilai tidak pantas, karena dalam Laporan Hasil Kekayaan Penyelenggaraan Negara(LHKPN).
ADVERTISEMENT
Beberapa pejabat masuk dalam pemberitaan mengenai pamer harta pejabat. Contohnya saja kasus Kepala Bea Cukai Yogyakarta, Darmanto, diberitakan dari jabatannya setelah mendapat berita mengenai kegiatannya yang sering memamerkan kekayaan.
Hal yang sama juga terjadi bagi beberapa pejabat, sebut saja Kepala Kantor Pertahanan (BPN) Kota Jakarta Timur, Sudarman Harjasaputra, dicopot dari jabatannya karena istrinya memamerkan kekayaang di sosial media.

Di Balik Viralnya Berita Pejabat Flexing Harta

Ilustrasi remaja bermain sosial media. Foto: Rawpixel.com/Shutterstock
Viralnya berita mengenai pejabat yang melakukan flexing didasari oleh netizen. Netizen menyorot berbagai harta pejabat yang dinilai tidak wajar. Netizen mempertanyakan harta-harta pejabat yang dinilai tidak wajar, hal ini membuat netizen lain juga bertanya-tanya.
Netizen ramai-ramai mempertanyakan dan menelusuri harta pejabat yang suka flexing. Hal ini membuat heboh di media sosial. Dari sana, berita mengenai flexing harta pejabat mulai banyak bermunculan. Hal ini membuat pejabat yang viral melakukan flexing dilakukan pemeriksaan oleh atasannya.
ADVERTISEMENT
Temuan dari pemeriksaan atasan ada yang berdampak pada keberlangsungan jabatan beberapa pejabat yang telah diselidiki. Bahkan ada yang sampai dipecat.

Netizen sebagai Audiens yang Aktif

Ilustrasi dampak media sosial. Foto: SrideeStudio/Shutterstock
Media baru khususnya media sosial memberikan pengalaman baru dalam media. Hal ini bisa kita lihat dari adanya interaksi timbal balik yang dapat dilakukan oleh audience dengan media. Audience bisa menyampaikan feedback terhadap isi media. Bahkan audience yang dalam media baru bisa dipandang sebagai khalayak aktif dapat menjadi penyumbang terhadap isi media.
Konten berita dalam media, khususnya media baru bisa dipengaruhi oleh khalayak, khalayak bisa menentukan apa yang ada di media baru. Media dalam menjaga keseimbangan organisasinya, akan mengikuti apa yang audience inginkan.
Hal ini bertujuan untuk tetap mempertahankan kelangsungan hidup sebuah media.Media tidak dapat hidup tanpa audience, karena dari audience lah sebuah media bisa hidup.
ADVERTISEMENT
Audience, dalam hal ini bisa kita sebut netizen, memiliki kemampuan untuk menyampaikan feedback dalam sebuah media baru. Feedback yang disampaikan oleh netizen bisa berupa negatif maupun positif.
Untuk feedback negatif bisa kita lihat dari contoh netizen Indonesia yang terkenal dengan perilaku bar-barnya dalam menggunakan sosial media. Sedangkan contoh positif bisa kita lihat dari bagaimana netizen Indonesia mempertanyakan harta pejabat yang melakukan flexing di sosial media, hal ini didasari pada sikap kritis netizen dalam menyikapi harta pejabat yang di nilai tidak wajar.

Pedang Bermata Dua Netizen dalam Media Baru

Ilustrasi bermain sosial media. Foto: photobyphotoboy/Shutterstock
Netizen dalam media baru, memiliki sisi positif dan sisi negatifnya. Sisi positifnya bisa kita lihat dari keadaan yang membuat netizen dapat melakukan feedback untuk sebuah media, sehingga menimbulkan efek yang lebih terasa secara langsung, media dapat mengetahui bagaimana netizen memandang sebuah realitas yang ada. Dari bisa melihat keinginan netizen, dapat menjadi pertimbangan media untuk memuat informasi apa yang dibutuhkan netizen.
ADVERTISEMENT
Disisi lain, dampak dari peran aktif netizen adalah pemanfaatan netizen oleh berbagai pihak untuk tujuan yang dapat merugikan orang banyak. Kita sebut saja istilah buzzer, salah satu istilah dalam media sosial yang mana penggunaan massa netizen untuk mempengaruhi opini publik terhadap suatu isu. Kebanyakan buzzer yang telah ada selama ini digunakan untuk berbagai kepentingan politik yang tak jarang mengaburkan sebuah fakta.
Dari kedua sisi netizen tadi dapat kita lihat bahwa perkembangan media, khususnya media baru membawa konsekuensi di dalamnya. Konsekuensi tersebut dapat kita minimalisir dengan mencari pengetahuan mengenai media, atau bisa kita sebut dengan literasi media. Ketika seorang netizen telah mempelajari sedikit saja mengenai literasi media, dia tidak akan sembarangan dalam menggunakan sosial media.
ADVERTISEMENT
Dia tentu akan lebih bijak menggunakan media. Contoh nyata peran netizen ketika tingkat literasi media netizen sudah lumayan bagus adalah contoh dari peran netizen dalam menyebarluaskan harta pejabat yang dinilai tidak wajar. Netizen berperan dalam membantu untuk mengungkap ketidakwajaran harta pejabat . Dari sana, bisa kita lihat peran netizen berdampak positif terhadap perubahan bangsa.