Kenapa Penyakit Kronis Makin Banyak di Usia Muda: Gaya Hidup atau Kegagalan Eduk
Tulisan dari Gina Utami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, semakin banyak anak muda yang harus berhadapan dengan penyakit kronis. Kondisi seperti hipertensi, diabetes, bahkan gangguan jantung yang dulu identik dengan usia lanjut kini mulai muncul lebih dini. Fenomena ini tidak hanya mengejutkan, tetapi juga menimbulkan pertanyaan besar: apakah generasi muda memang hidup semakin tidak sehat, atau ada sesuatu yang salah dalam cara kita memahami kesehatan?
Menurut Irwan et al 2025, Gaya hidup modern sering kali menjadi pihak yang paling cepat disalahkan. Pola makan instan, konsumsi gula berlebih, serta minimnya aktivitas fisik memang terbukti meningkatkan risiko penyakit degeneratif. Dalam kehidupan yang serba cepat, pilihan praktis sering kali lebih diutamakan daripada pilihan sehat.
Namun, menyederhanakan masalah ini hanya sebagai “kesalahan gaya hidup” terasa kurang adil. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap informasi maupun pilihan hidup sehat. Di sinilah peran edukasi kesehatan menjadi krusial, sekaligus dipertanyakan.
Menurut Nasution et al., 2024, Pengetahuan kesehatan memiliki pengaruh besar terhadap perilaku seseorang. Individu dengan literasi kesehatan yang rendah cenderung tidak menyadari risiko dari kebiasaan sehari-hari, seperti pola makan tidak seimbang atau kurangnya aktivitas fisik.
Di sisi lain, banyak informasi kesehatan yang beredar di masyarakat justru bersifat parsial, bahkan menyesatkan. Media sosial, misalnya, sering kali menyajikan konten kesehatan yang tidak utuh lebih menonjolkan tren daripada edukasi. Akibatnya, generasi muda lebih familiar dengan istilah “diet viral” dibandingkan pemahaman dasar tentang nutrisi seimbang.
Menurut Jamil et al., 2024, Penelitian menunjukkan bahwa faktor risiko penyakit kronis sebenarnya sudah muncul sejak usia muda, termasuk obesitas dan gaya hidup sedentari. Masalahnya, kondisi ini sering kali tidak disadari karena gejalanya belum terlihat secara langsung.
Yang lebih mengkhawatirkan, dampak dari kebiasaan ini kini muncul lebih cepat dari yang diperkirakan. Penyakit kronis tidak lagi menunggu usia tua untuk berkembang, tetapi mulai menyerang pada fase produktif kehidupan.
Menurut Harwadi et al., 2025, Peningkatan kasus gagal ginjal kronis pada usia muda menjadi salah satu bukti nyata bahwa masalah ini sudah berada pada tahap serius. Hal ini menunjukkan bahwa akumulasi gaya hidup tidak sehat dan kurangnya kesadaran kesehatan telah mencapai titik yang mengkhawatirkan.
Meski demikian, fokus pada individu saja tidak cukup. Sistem edukasi kesehatan di masyarakat masih cenderung bersifat informatif, tetapi belum mampu mengubah perilaku secara nyata. Banyak orang tahu apa yang sehat, tetapi tidak benar-benar memahami mengapa dan bagaimana menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Selain itu, lingkungan juga memainkan peran besar. Akses terhadap makanan sehat tidak selalu mudah atau terjangkau, sementara makanan cepat saji justru lebih tersedia dan menarik. Ditambah lagi dengan gaya hidup digital yang membuat aktivitas fisik semakin berkurang.
Menurut Sofia et al., 2024, Berbagai faktor risiko seperti pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, dan stres terbukti berkontribusi terhadap meningkatnya penyakit kronis, termasuk hipertensi, pada usia muda. Dari sini terlihat bahwa persoalan ini bukan sekadar pilihan individu, melainkan hasil dari interaksi antara gaya hidup, lingkungan, dan sistem edukasi. Menyalahkan satu faktor saja justru berpotensi mengaburkan akar masalah yang sebenarnya lebih kompleks.
Pada akhirnya, peningkatan penyakit kronis di usia muda adalah peringatan bahwa pendekatan kita terhadap kesehatan perlu diubah. Edukasi kesehatan tidak cukup hanya memberi informasi, tetapi harus mampu membentuk kesadaran dan kebiasaan. Di sisi lain, individu juga perlu lebih kritis dalam menyaring informasi dan untuk keputusan terkait kesehatan.
Pertanyaan “gaya hidup atau kegagalan edukasi?” mungkin tidak perlu dijawab dengan memilih salah satu. Justru, keduanya saling berkaitan dan memperkuat satu sama lain. Tanpa perbaikan di kedua sisi, tren ini bukan tidak mungkin akan terus meningkat dan menjadi masalah kesehatan yang lebih besar di masa depan.

