Paramount Resmi Akuisisi Warner Bros., Spongebob hingga Harry Potter Satu Atap

Paramount secara resmi menuntaskan akuisisi Warner Bros. dengan nilai transaksi USD 110 Miliar atau lebih dari RP 1800 triliun. Angka tersebut menjadi nominal terbesar sepanjang sejarah Hollywood.
Tuntasnya transaksi tersebut membuat sejumlah IP raksasa seperti, Mission: Impossible, Top Gun, Hogwarts, Westeros, dan Gotham, kini berada di bawah satu atap, Skydance.
CEO David Ellison, mengambil kendali atas akuisisi tersebut. Menjabat chairman sekaligus CEO, dia memegang arah strategi, kreatif, dan teknologi.
Di sampingnya ada Ynon Kreiz, mantan CEO Mattel (pembuat Barbie), yang ditunjuk sebagai co-CEO dan bertugas mengurus operasional harian serta integrasi dua perusahaan.
Sementara, CEO WBD David Zaslav dikabarkan hengkang. Ia disebut-sebut membawa pulang lebih dari $550 juta dalam bentuk saham dan tunai, termasuk pesangon tunai $34,2 juta.
Sementara itu, Cindy Holland mundur dari posisi kepala streaming, dan petinggi studio Warner seperti Mike De Luca dan Pam Abdy disebut-sebut berpotensi menyusul.
Bersaing dengan Netflix, hingga Drama Pengadilan
Perjalanan akuisisi tersebut terbilang tak mulus. Untuk mendapatkan Warner Bros., Ellison sempat kalah langkah ketika WBD lebih dulu menggandeng Netflix pada Desember lalu. Namun, dewan WBD kemudian menilai tawaran Paramount lebih unggul, dan kesepakatan definitif pun diteken.
Tak sampai di situ, rintangan berikutnya datang dari ruang sidang. Jaksa Agung California Rob Bonta, bersama 11 jaksa agung negara bagian lain, menggugat untuk menghentikan merger ini.
Serikat penulis Hollywood, Writers Guild of America (WGA) pun, ikut menyampaikan gugatannya. Proses akuisisi sempat tertunda, dan Paramount terancam membayar ticking fee kepada pemegang saham WBD jika transaksi baru rampung setelah 30 September.
Jalan akhirnya terbuka setelah Paramount berdamai dengan para jaksa agung dan Hakim Federal Araceli Martínez-Olguín menyetujui kesepakatan tersebut. Dokumen persetujuan itu tidak mewajibkan pelepasan aset (divestasi) sama sekali, hal yang sebelumnya diminta pihak negara bagian.
Sebagai bagian dari kesepakatan, perusahaan gabungan berkomitmen merilis minimal 30 film layar lebar dalam dua tahun pertama, lalu 32 film untuk tiga tahun berikutnya. Mereka juga wajib merilis sedikitnya empat film independen per tahun dan menyisihkan dana akuisisi film indie sebesar $5 juta per tahun selama lima tahun.
Kabar ini cukup menenangkan, karena kekhawatiran terbesar dari merger raksasa ini adalah menyusutnya jumlah film yang tayang di bioskop.
