Reza Rahadian Kenalkan Proyek Casparina di Busan International Film Festival

Aktor dan sutradara Reza Rahadian memperkenalkan proyek film terbarunya berjudul Casparina di Busan International Film Festival (BIFF). Proyek tersebut merupakan bagian dari Asian Project Market, sebuah ajang yang diselenggarakan dalam rangkaian Asian Contents & Film Market (ACFM) di Busan International Film Festival.
Dilansir Variety, lewat proyek tersebut, Reza mengangkat kisah tentang neneknya, Francisca Casparina Fanggidaej. Casparina merupakan seorang jurnalis yang kewarganegaraan Indonesianya dicabut pada tahun 1965 dan kembali ke Tanah Air setelah puluhan tahun, untuk menemui anak-anak yang tumbuh besar tanpa kehadirannya.
Dalam film itu, Casparina dipaksa menjalani pengasingan karena sikapnya yang menentang pemerintah. Setelah 34 tahun, Casparina mendapat kabar kalau rezim lama sudah runtuh dan ia bebas untuk kembali pulang.
Diliputi perasaan bimbang, Casparina pulang untuk kembali menemui buah hatinya, Andi dan Lila, yang telah beranjak dewasa dan menjalani kehidupan tanpa pernah melibatkan dirinya.
Saat itu ia akhirnya berupaya memulihkan luka dan rasa sakit hati anak-anaknya akibat tahun-tahun perpisahan itu. Casparina dan buah hatinya perlahan kembali menjalin ikatan, serta mulai memahami pengorbanan yang telah ia berikan demi negara dan keluarganya.
Dalam kesempatan itu, Reza mengungkapkan ketertarikannya mengangkat kisah tentang sosok ibu yang diceritakan dari sudut pandang anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran sang ibu. Dengan latar waktu ketika status kewarganegaraan seseorang bisa dicabut secara tiba-tiba, dengan paksa, dan tanpa peringatan.
"Perpisahan tersebut, membuat nenek dan anak-anaknya terpisah selama 32 tahun. Bagi saya, ini adalah kisah yang sangat penting," ungkap Reza.
Lewat film itu, Reza berharap penonton dapat memahami bahwa pilihan-pilihan sulit selalu membawa konsekuensi, dan terkadang pilihan tersebut didorong oleh kekuatan yang tak kasat mata.
Dalam kesempatan yang sama, Produser Arya Ibrahim dan Gita Fara menggambarkan proyek ini sebagai kisah mengenai pergolakan politik tahun 1965. Pergolakan tersebut telah memecah belah keluarga dan membuat orang-orang yang kehilangan kewarganegaraan harus hidup dalam pengasingan.
Menurut para produser, saat itu Casparina sedang berada di Beijing untuk mewakili Indonesia dalam sebuah forum internasional ketika kewarganegaraannya dicabut akibat sikapnya yang menentang rezim baru.
Casparina meninggalkan enam orang anak dan menjalani masa pengasingan selama 32 tahun. Awalnya di Beijing dan kemudian pergi ke Belanda, sebelum akhirnya dapat bersatu kembali dengan keluarganya.
Bagi para produser, kisah seperti yang dialami Casparina memberikan banyak wawasan mengenai sejarah dan identitas Indonesia.
"Casparina merupakan korban sebuah era. Film ini sebagai pengingat agar kesalahan serupa tidak terulang kembali," ujar produser.
Caparina menjadi film kedua garapan Reza Rahadian sebagai sutradara. Sebelumnya, lewat Pangku, Reza berhasil memenangkan empat penghargaan dalam kategori Vision di Festival Film Busan tahun 2025, termasuk penghargaan pilihan penonton dan penghargaan Fipresci.
Saat ini, Casparina masih dalam tahap awal penulisan naskah. Di Busan, para produser berharap dapat bertemu dengan calon mitra dan kolaborator, serta menjajaki peluang pendanaan film dan kerja sama produksi.
