Ketika Nada Melanggengkan Bias Gender
Tulisan dari Gloria Jesika Tampubolon tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Apakah sebuah lagu benar-benar hanya sebatas hiburan? Atau, tanpa disadari, ia juga membentuk cara kita memandang perempuan?"
Kontroversi lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat karya Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein, kembali memunculkan perdebatan mengenai bias gender di ruang publik. Sejumlah lirik yang menyinggung menstruasi, keguguran, penggunaan bra, hingga penampilan perempuan menuai kritik karena dinilai mereproduksi stereotip gender. Perdebatan yang muncul pun tidak lagi sebatas soal selera humor atau kebebasan berekspresi, tetapi bergeser pada pertanyaan yang lebih mendasar: mengapa tubuh dan pengalaman biologis perempuan masih begitu mudah dijadikan bahan candaan di ruang publik?
Sebagian orang mungkin menganggap lirik tersebut sebagai humor yang tidak perlu dipersoalkan. Namun, humor tidak pernah benar-benar netral. Di balik tawa, terdapat nilai yang sedang dibangun dan cara pandang yang sedang diwariskan. Ketika pengalaman biologis perempuan dijadikan bahan lelucon, yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan individu, melainkan cara masyarakat memaknai perempuan itu sendiri. Perempuan berisiko direduksi menjadi tubuh biologis yang dapat dikomentari, sementara kapasitas, pemikiran, dan kontribusinya sebagai manusia justru tersisih dari perhatian.
Kritik yang disampaikan Komnas Perempuan menunjukkan bahwa persoalan ini tidak dapat dipandang sebagai kontroversi biasa. Lembaga tersebut menilai lirik lagu tersebut berpotensi memperkuat stereotip dan diskriminasi terhadap perempuan, terlebih karena disampaikan oleh seorang pejabat publik. Posisi seorang kepala daerah membuat setiap ucapan maupun karya yang dihasilkannya memiliki pengaruh yang lebih luas. Dalam konteks ini, kebebasan berkarya tidak dapat dipisahkan dari tanggung jawab sosial untuk menghormati prinsip kesetaraan dan nondiskriminasi.
Melalui perspektif gender, persoalan ini menjadi lebih jelas. Ann Oakley menjelaskan bahwa gender merupakan konstruksi sosial yang dibentuk melalui keluarga, pendidikan, budaya, dan media. Artinya, cara masyarakat memandang perempuan bukanlah sesuatu yang lahir secara alamiah, melainkan dipelajari dan terus direproduksi. Karena itu, lagu sebagai bagian dari budaya populer tidak hanya mencerminkan realitas sosial, tetapi juga berperan membentuk realitas tersebut. Ketika perempuan terus digambarkan melalui tubuh dan fungsi reproduksinya, masyarakat berisiko menganggap representasi itu sebagai sesuatu yang wajar.
Pandangan tersebut diperkuat oleh Mansour Fakih, yang menyebut stereotip sebagai salah satu bentuk ketidakadilan gender. Stereotip tampak sederhana, bahkan sering dibungkus sebagai candaan. Namun, justru karena terus diulang, ia perlahan membentuk cara masyarakat berpikir. Perempuan akhirnya lebih sering dinilai berdasarkan tubuh dan penampilannya daripada kemampuan, pengalaman, maupun kontribusinya. Di titik inilah candaan tidak lagi sekadar candaan, melainkan menjadi bagian dari mekanisme yang melanggengkan bias gender.
Lalu, di mana letak persoalan sebenarnya? Bukan pada ada atau tidaknya humor dalam sebuah lagu, melainkan pada pesan yang dibawa oleh humor tersebut. Karya seni memang memiliki kebebasan untuk berekspresi, tetapi kebebasan itu juga membawa tanggung jawab. Ketika sebuah karya lahir dari figur publik dan dikonsumsi oleh masyarakat luas, pesan yang terkandung di dalamnya memiliki kekuatan untuk memengaruhi cara berpikir, membentuk norma, bahkan menormalisasi perlakuan tertentu terhadap perempuan.
Di tengah upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) mendorong pengarusutamaan gender di berbagai sektor, polemik ini menjadi pengingat bahwa kesetaraan tidak cukup diwujudkan melalui kebijakan. Kesetaraan juga dibangun melalui bahasa yang digunakan, cara perempuan direpresentasikan, serta budaya yang terus diproduksi dalam ruang publik.
Pada akhirnya, kontroversi lagu ini bukan sekadar tentang satu lirik atau satu karya musik. Ia mengingatkan bahwa kata-kata memiliki daya yang jauh lebih besar daripada yang sering kita bayangkan. Bahasa dapat menghibur, tetapi juga dapat melukai. Lagu dapat menjadi ruang ekspresi, tetapi juga dapat berpotensi memperkuat cara pandang yang bias apabila representasi yang dibangun terus direproduksi tanpa kritik. Maka, pertanyaannya bukan lagi apakah sebuah lagu boleh mengandung humor, melainkan apakah humor tersebut dibangun dengan menghormati martabat manusia, termasuk martabat perempuan?

