Setop Body Shaming, Itu Bisa Membunuh Kepribadian Seseorang

Mahasiswa Psikologi Universitas Pembangunan Jaya
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Gracela Valencia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sering kali kita secara tidak sadar mengatai bentuk tubuh orang lain, mungkin hal itu keluar dari mulut kita tanpa kita sadari. Namun, hal-hal kecil seperti itu dapat melukai perasaan orang lain.
Ketika kita mengomentari bentuk tubuh atau warna kulit seseorang, itu merupakan bentuk body shaming. Body shaming yang tanpa sadar kita lakukan itu bisa menurunkan self-esteem atau harga diri seseorang. Dengan begitu, tidak kah body shaming dapat membunuh kepribadian seseorang?
Body shaming, mungkin ini sudah menjadi istilah yang tidak asing dan sering kita dengar. Di Indonesia sendiri, sebanyak 62,2% perempuan pernah menjadi korban body shaming dan 47% di antaranya mengalami body shaming karena dianggap memiliki tubuh yang terlalu berisi (Rizaty, 2021).
Body shaming adalah tindakan mengkritik bentuk tubuh, warna kulit, dan penampilan seseorang yang mengakibatkan korban mengalami body shame (Nasution & Simanjuntak, 2020). Body shame merupakan perasaan malu yang timbul karena adanya ketidaksesuaian antara penilaian pribadi dan orang lain dengan harapan individu tersebut.
Body shaming terjadi karena adanya ketidaksesuaian standar kecantikan yang ada di masyarakat sosial dengan penampilan dari korban (Atsila et al., 2021). Pada akhirnya, body shaming dianggap wajar dan lumrah hanya karena korban “berbeda” dari standar kecantikan itu.
Body shaming membawa berbagai dampak negatif kepada korban. Berbagai dampak negatif yang muncul pada korban body shaming adalah self-esteem yang menurun, tidak percaya diri, stress, bahkan memiliki pemikiran untuk mengakhiri hidupnya (Angelina et al., 2021).
Namun dampak utama yang muncul pada korban body shaming adalah self-esteem yang menurun. Hal ini dikarenakan penampilan fisik membawa kontribusi yang besar dalam pembentukan self-esteem terutama pada perempuan (Nasution & Simanjuntak, 2020).
Self-Esteem
Self-esteem adalah seberapa positif atau negatif kita menilai diri kita sendiri atau bisa juga diartikan sebagai evaluasi seseorang terhadap dirinya sendiri (Passer & Smith, 2008).
Self-esteem sangat mempengaruhi bagaimana kepribadian seseorang terbentuk. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh (Amirazodi & Amirazodi, 2011) yang meneliti tentang bagaimana self-esteem berhubungan dengan big five personality traits.
Mereka menemukan bahwa orang dengan self-esteem yang tinggi memiliki kepribadian openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan emotional stability. Namun, orang dengan self-esteem yang rendah cenderung memiliki tipe kepribadian closedness, lack of direction, introversion, antagonism, dan neuroticism.
Big Five Personality Traits
Apa yang dimaksud dengan big five personality traits? Big five personality traits merupakan teori kepribadian yang membagi kepribadian ke dalam lima dimensi yaitu OCEAN (openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan neuroticism) (Passer & Smith, 2008). Setiap dimensi dalam teori kepribadian ini merepresentasikan dua kutub yang berlawanan.
Yang pertama adalah openness vs closedness (Passer & Smith, 2008), orang dengan tipe kepribadian openness merupakan orang yang terbuka, memiliki rasa keingintahuan yang tinggi, berimajinasi tinggi, dan memiliki semangat yang tinggi untuk memperlajari berbagai hal-hal baru. Sebaliknya orang berkepribadian closedness cenderung tertutup, tidak bersemangat, dan kesusahan dalam berpikir abstrak.
Yang kedua conscientiousness vs lack of direction (Passer & Smith, 2008), kepribadian conscientiousness merupakan orang yang terorganisir, disiplin, memperhatikan setiap detail, dan bekerja dengan efisien. Sedangkan orang dengan kepribadian lack of direction suka menunda pekerjaan, tidak bisa bekerja secara terstruktur, dan tidak bisa mendetail.
Ketiga, extraversion vs introversion (Passer & Smith, 2008). Orang dengan tipe kepribadian extraversion merupakan orang yang mudah bersosialisasi, hangat, ramah, dan sangat bersemangat. Sementara itu, tipe kepribadian introversion berkebalikan dengan extraversion, mereka cenderung tidak bersemangat, dan suka menyendiri.
Yang keempat, agreeableness vs antagonism (Passer & Smith, 2008). Tipe kepribadian agreeableness merupakan kepribadian yang mudah bersimpati, orang yang mudah percaya, hangat, baik, dan senang membantu orang lain. Sebaliknya tipe kepribadian antagonism merupakan individu yang melihat orang lain dengan negatif dan bahkan bisa melakukan tindakan manipulasi kepada orang lain untuk mencapai tujuannya.
Terakhir, neuroticism vs emotional stability (Passer & Smith, 2008). Orang yang memiliki kepribadian neuroticism merupakan orang yang mudah merasa sedih, marah, cemas, dan sulit mengontrol emosi mereka. Sebaliknya orang yang memiliki emotional stability cenderung lebih stabil dalam mengontrol emosi mereka dan tidak moody.
Bisa kita lihat bahwa dimensi openness, conscientiousness, extraversion, agreeableness, dan emotional stability merupakan dimensi yang positif. Sebaliknya, closedness, lack of direction, introversion, antagonism, dan neuroticism merupakan dimensi yang negatif.
Body shaming akan menurunkan self-esteem korbannya. Kepribadian mereka yang mungkin pada mulanya positif, ceria, bersemangat, percaya diri, akan menjadi kepribadian yang negatif, tidak bersemangat, murung, dan merasa rendah diri. Kalau sudah seperti ini, bukankah body shaming bisa membunuh kepribadian seseorang?
Bahkan dalam kasus ekstrim, body shaming dapat membuat korban menyimpan dendam kepada pelaku. Seperti kasus nyata pembunuhan yang dilakukan oleh pria bernama Ali Heri Sanjaya yang kepada rekan kerjanya, Rosidah (Alam, 2020).
Pembunuhan itu terjadi lantaran Ali menyimpan dendam kepada Rosidah. Ali tidak terima karena sering mendapatkan body shaming dari Rosidah. Rosidah diketahui kerap kali mengolok-olok Ali dengan sebutan "sumo" dan "boboho".
Dengan contoh nyata ini, kita mengetahui bahwa tidak hanya membunuh kepribadian seseorang dengan menurunkan self-esteemnya, body shaming juga bisa membuat korban menyimpan dendam bahkan membunuh pelaku.
Dengan demikian, setelah membaca artikel ini diharapkan kita semua bisa lebih bijak lagi dalam bertutur kata dan tidak lupa untuk menghargai orang lain. Jangan menilai seseorang hanya dari bentuk fisiknya saja.
Tidak semua orang harus memenuhi standar kecantikan yang beredar di masyarakat. Kata-kata yang mungkin kita anggap sebagai lelucon bisa membunuh kepribadian seseorang. Maka dari itu, hargailah orang lain seperti kamu menghargai dirimu sendiri.
