Konten dari Pengguna

Popmart: Fenomena yang Mendominasi Tas dan Jadi Emotional Support Banyak Orang

Gracia Sarayar

Gracia Sarayar

Gracia adalah siswi kelas 12 di Penabur Junior College Kelapa Gading berusia 17 tahun yang senang menulis tentang tren, budaya anak muda, dan hal-hal kecil yang lagi viral di media sosial.

·waktu baca 6 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gracia Sarayar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Fenomena kecil yang tiba-tiba ada di mana-mana: gantungan karakter Popmart yang kini bukan sekadar aksesori, tapi bagian dari gaya hidup banyak orang.

Blind Box. Dalam setahun terakhir, ada satu tren kecil tapi mencuri perhatian yang muncul di mana-mana. Ke mana pun kamu pergi-di mall, di sekolah, di kafe, bahkan di acara pensi, kamu hampir selalu bisa melihat gantungan kecil berbentuk karakter lucu yang menggantung di tas seseorang. Bentuknya unik, warnanya mencolok, dan sering kali bikin penasaran.

Entah itu Labubu, Crybaby, atau SkullPanda, karakter-karakter dari Popmart ini kini bukan cuma sekadar hiasan.

Mereka sudah jadi bagian dari gaya hidup, bahkan simbol emosional bagi banyak orang dari berbagai usia, mulai dari anak sekolah sampai orang dewasa.

Penggunaan berbagai macam gantungan kunci termasuk Crybaby oleh siswa. Foto dari Penulis.

Fenomena Popmart

Di era modern saat ini, gantungan kunci bukan lagi sekadar gantungan kunci, tetapi memiliki makna yang lebih besar bagi mereka. Gantungan kunci telah berevolusi menjadi sesuatu yang mencerminkan identitas, gaya hidup, dan bahkan status sosial.

Labubu, misalnya, telah menjadi favorit banyak orang karena tampilannya yang unik, beragam karakter, dan edisi terbatasnya yang membuatnya sangat dicari oleh para kolektor di seluruh dunia. kMemiliki beberapa Labubu merupakan hal yang umum, dan memilih Labubu yang akan dibawa berdasarkan suasana hati, pakaian, atau bahkan warna tas yang mereka bawa hari itu.

Gantungan kunci Labubu yang dipakai oleh siswa SMA. Foto dari Penulis.

Fenomena mengoleksi Popmart mencerminkan keseruan mengoleksi kartu foto K-pop atau bahkan Shopkins saat kecil. Layaknya penggemar K-pop yang merasakan sensasi ketika mereka menarik bias mereka, kolektor Popmart merasakan sensasi yang sama ketika mereka membuka kotak karakter atau varian warna yang mereka idam-idamkan.

Budaya Blind Box yang Bikin Ketagihan

Salah satu alasan terbesar Popmart menjadi populer di Indonesia adalah konsep kotak butanya. Dari luar, setiap kotak terlihat persis sama, tetapi bagian dalamnya penuh misteri. Semuanya tergantung keberuntungan Anda — Anda mungkin mendapatkan karakter favorit, figur edisi terbatas/rahasia, atau bahkan sesuatu yang tidak Anda duga (atau tidak Anda inginkan) sama sekali.

Membuka kotak Popmart bisa memberikan sensasi dopamin atau bahkan adrenalin yang luar biasa, dengan momen deg-degan dan rasa ingin tahu yang muncul beberapa detik sebelum kotak dibuka. Ketika ternyata karakter yang Anda inginkan, rasanya seperti menang lotre, membuat seluruh pengalaman itu jadi jauh lebih seru. Bagi sebagian kolektor, sensasi unboxing justru lebih memuaskan daripada gantungan kuncinya sendiri.

Kegembiraan ini juga telah memicu budaya trade dan hunt. Jika seseorang tidak mendapatkan karakter yang mereka harapkan, mereka akan mencari karakter lain untuk ditukar, terkadang berpindah-pindah toko, atau bahkan mengunggahnya di Instagram Story atau status untuk menemukan karakter yang cocok.

Kenapa Popmart bisa menjadi Emotional Support?

Orang-orang seringkali membentuk ikatan emosional yang mendalam dengan figur-figur Popmart mereka, seperti Labubu, Skullpanda, dan Crybaby, karena desainnya yang sangat imut, palet warna yang menenangkan, dan bentuknya yang nyaman yang membangkitkan rasa hangat dan kebersamaan.

Popmart dianggap lebih dari sekadar koleksi—mereka seperti teman setia sehari-hari. Duduk manis di atas meja kerja saat hari penuh stres atau menemani perjalanan di dalam tas, figur ini memberi rasa nyaman, hangat, dan sedikit kegembiraan. Misalnya, setelah hari yang berat, melihat gantungan kunci lucu yang mewakili dirimu bisa membawa rasa harapan, kebersamaan, dan dorongan energi tambahan.

Fitur-fitur uniknya, seperti ekspresi Labubu yang ceria atau kerentanan Crybaby yang menawan, menyentuh kebutuhan psikologis akan kelucuan yang memicu naluri mengasuh, mirip dengan bagaimana kita terikat dengan hewan peliharaan atau barang-barang masa kecil yang berharga, menumbuhkan rasa aman dan gembira.

Berbagai jenis tas yang dihiasi gantungan kunci Popmart seperti Crybaby dan Labubu. Foto oleh penulis.

Keterikatan ini semakin dalam ketika individu melihat refleksi diri mereka dalam karakter-karakter tersebut, menggunakannya sebagai avatar untuk mewakili sifat atau suasana hati pribadi. Skullpanda mungkin mewujudkan sisi introspektif dan edgy seseorang, sementara Crybaby beresonansi dengan mereka yang merangkul keterbukaan emosional.

Kelangkaan yang Dicari, Hype yang Menguatkan

Salah satu faktor utama yang membuat Popmart makin digandrungi adalah konsep kelangkaannya. Seri terbatas dan figur “secret” yang ultra-rare membuat setiap pembelian terasa seperti undian. Tidak heran banyak orang rela membeli berkali-kali demi mendapatkan karakter yang diincar. Kelangkaan ini juga memicu pasar resale, di mana figur yang awalnya ratusan ribu bisa melonjak hingga jutaan, sehingga Popmart bukan lagi sekadar hobi, tapi juga dianggap sebagai barang berprestise.

Di saat yang sama, media sosial memperkuat antusiasme ini. Konten unboxing, haul, dan trade bertebaran di TikTok dan Instagram, sementara dukungan selebriti seperti Lisa BLACKPINK hingga Rihanna membuat Popmart terlihat semakin “global” dan stylish. Kombinasi antara scarcity dan hype inilah yang akhirnya mendorong Popmart menjadi fenomena budaya yang besar di Indonesia.

Kritik terhadap Tren

Namun, di balik tampilan lucu dan popularitas gantungan kunci Popmart, tren ini juga memunculkan sejumlah kritik yang semakin sering dibicarakan. Banyak orang mulai mempertanyakan apakah hype ini benar-benar soal kreativitas dan ekspresi diri, atau justru dorongan konsumtif yang tidak disadari. Beberapa kritik utama yang muncul antara lain:

  • Konsumerisme berlebihan: Banyak orang membeli Popmart karena FOMO (fear of missing out), bukan benar-benar suka. Mereka takut dianggap ketinggalan tren, apalagi ketika semua teman di sekolah atau kantor punya. Akhirnya, mereka ikut membeli meski tidak butuh atau sedang hemat.

  • Harga tidak sebanding dengan fungsi: Figur Popmart sebenarnya hanyalah dekorasi kecil tanpa fungsi praktis, tetapi harganya bisa sangat tinggi karena dipengaruhi hype, eksklusivitas, dan kelangkaan karakter tertentu. Pembeli akhirnya lebih membayar untuk status dan rasa memiliki sesuatu yang “langka” dibandingkan kualitas materialnya. Ini menciptakan budaya konsumsi di mana nilai sebuah barang ditentukan oleh persepsi sosial, bukan manfaat atau nilai asli.

  • Tren cepat jenuh: Seperti banyak tren lifestyle sebelumnya: photocards, squishy toys, hingga fidget spinner, fenomena Popmart juga berisiko mengalami kejenuhan cepat. Semakin banyak orang membeli, semakin cepat juga tren ini bergerak menuju titik jenuh, di mana daya tariknya perlahan memudar dan digantikan oleh hype baru.

  • Dampak lingkungan: Meskipun ukurannya kecil, Popmart tetap terbuat dari plastik dan dikemas dalam banyak lapisan material, blind box, plastik pelindung, kartu, dan aksesori. Jika tren ini terus berkembang tanpa disertai kesadaran, tumpukan limbah kecil ini bisa memberi dampak nyata pada lingkungan, terutama jika konsumen membeli dalam jumlah besar.

Penutup

Pada akhirnya, fenomena Popmart di Indonesia bukan cuma soal desain lucu atau tren viral. Ia menunjukkan bagaimana budaya populer, kebutuhan emosional, dan dinamika sosial saling bertemu dalam kehidupan sehari-hari. Dari rasa nyaman yang diberikan gantungan kecil di tas, sampai keseruan membuka blind box, Popmart sudah jadi bagian dari banyak orang—tanpa memandang usia.

Tapi seperti tren apa pun, penting untuk tetap bijak. Nikmati koleksinya, hargai desainnya, dan rayakan kesenangan kecil itu, tapi jangan sampai kebawa FOMO atau menghabiskan uang lebih dari yang seharusnya. Ada tipisnya garis antara hobi dan impuls belanja yang nggak perlu.

Akhirnya, figur Popmart hanyalah benda kecil. Nilainya bukan pada harganya, tapi pada makna dan kebahagiaan sederhana yang kita rasakan saat melihatnya.