Keluarga, Ketakutan, dan Kebahagiaan

Dosen Tutor prodi Sosiologi, Universitas Terbuka. Menggelayuti tema-tema budaya populer seperti film, musik, sastra, hingga sepak bola.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Gunawan Wibisono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Keluarga adalah institusi sosial terkecil yang kita hinggapi sehari-hari. Ia juga merupakan pintu gerbang lembaga pendidikan pertama yang mengajari kita tentang kehidupan. Keluarga dalam kultur timur biasanya lebih hangat dan memikat ketimbang konsep keluarga dalam kultur barat yang lebih bebas dan liberal. Mungkin tak berlebihan jika kita menyebut keluarga adalah rumah untuk kita tinggal dan tempat untuk kembali pulang.
Film Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI) merupakan film drama keluarga yang diangkat dari novel karya Marchella FP dengan judul sama. Film ini diangkat ke layar lebar oleh rumah produksi Visinema Pictures dan disutradarai langsung oleh Angga Dwimas Sasongko.
Jujur saja, saya belum membaca bukunya. Tapi, paling tidak, Angga Dwimas Sasongko telah masuk dalam daftar sutradara apik versi selera kultural saya. Itu terbukti dengan saya cukup khidmat menikmati karya-karya Angga seperti Filosofi Kopi, Surat Dari Praha, Wiro Sableng, bahkan Bukaan 8. Ke semua film itu tak ada yang mengecewakan. Baik dari sisi sinematografi maupun penceritaan. Itu pula yang menyebabkan saya menonton film ini hanya yang versi director’s cut.
Lagu ‘Rehat’ dari Kunto Aji menjadi pembuka dimulainya film ini. Lagu yang magis. Kita dibawa pada angan-angan pencapaian hidup dengan latar visual langit dan pesawat dari kertas. Karakter inti dari film berudrasi 121 menit ini sebenarnya hanya lima orang dari satu keluarga: ayah, ibu, beserta ketiga anaknya. Ayah (Donny Damara dan Oka Antara) merupakan seorang suami siaga yang sangat sayang dan bertanggung jawab pada keluarga. Ibu (Susan Bachtiar dan Niken Anjani) pula seorang istri yang dikaruniai tiga orang anak bernama Angkasa (Rio Dewanto), Aurora (Sheila Dara Aisha), dan Awan (Rachel Amanda). Rasanya tak perlu kita mendebat lagi bagaimana mereka bermain peran. Buat saya, mereka telah ‘sampai’ dan menyentuh pada karakter masing-masing.
Angga Dwimas Sasongko memainkan plot maju mundur. Di scene awal menceritakan proses kelahiran Awan. Saat Angkasa dan Aurora masih kecil. Pada bagian itu, sambil menangis, Ayah memeluk Angkasa sangat erat. Seperti ada yang mengganjal saat proses kelahiran Awan. Hingga Awan telah masuk sekolah, Angkasa sebagai kakak pertama diberi tugas dari Ayah untuk menjaga adik-adiknya, terutama Awan. Jika terjadi sesuatu pada Awan, yang bertanggung jawab adalah Angkasa. Itu adalah tugas sekaligus beban berat yang harus dipikul seorang anak usia belasan tahun sebagai kakak pertama.
Plot meloncat ke bagian saat Awan telah beranjak dewasa. Ia bekerja di firma konsultan arsitektur. Begitu pula pada kedua kakaknya. Angkasa bekerja di bidang pertunjukan musik, sedangkan Aurora memilih jalan sunyi menjadi seniman kontemporer yang memiliki studio pribadi di rumah. Namun, orientasi peta karakter terletak pada si bungsu, Awan. Ia yang mengendalikan emosi dan struktur konflik cerita.
Hampir sama seperti kehidupan gadis dua puluh tahunan pada umumnya, Awan menjalani hidup sebagai pekerja urban yang necis. Kita boleh saja beranggapan bahwa Awan adalah anak bungsu yang manja, meski kadang pemberontak. Karena setiap hari, ia harus dijemput oleh kakak pertamanya, Angkasa, selepas pulang kerja. Jika tidak, ayahnya bisa marah tak keruan.
Hal-hal semacam ini yang membuat Aurora cemburu pada keluarganya. Terutama pada ayah dan kakaknya yang terlalu memperhatikan Awan. Tak heran jika Aurora memilih untuk lebih banyak diam dan berkontemplasi pada dirinya sendiri. Karena memang sejak mereka kecil, Ayah memiliki perhatian khusus pada Awan agar keluarganya ‘terlepas’ dari kesedihan masa lalu.
“Keluarga ini sesungguhnya sudah lama kehilangan saya.”
Dialog itu dilontarkan Aurora kepada keluarganya. Kalimat itu semacam intisari dari dinamika konflik yang ada di sekujur film NKCTHI. Di scene ini pula, semua masalah satu persatu terbongkar. Angkasa dengan segenap emosi dan unek-uneknya meluapkan apa yang ia pendam sejak kecil. Bahwa ternyata, Ayah menyimpan rahasia keluarga yang tidak diketahui adik-adiknya: Awan memiliki saudara kembar yang meninggal saat proses persalinan. Sejak saat itu, Ayah sangat protektif kepada anak-anaknya. Karena ia tak ingin merasakan kehilangan lagi.
Namun demikian, porsi konflik untuk ukuran film drama keluarga ini terlalu biasa. Kurang nendang. Puncak masalah hanya ada pada rahasia bahwa Awan ternyata memiliki saudara kembar yang telah meninggal. Padahal, saya punya imajinasi lebih, bagaimana jika Ayah memiliki selingkuhan hingga menyebabkan Ibu mati rasa? Atau kesedihan-kesedihan lain yang bersifat perjuangan hidup. Sayangnya, keluarga ini digambarkan berkecukupan secara ekonomi dan anak-anak yang penuh kasih sayang dari orang tua. Lalu kalau begitu, dimana sebenarnya poin utama konflik cerita ini?
Buat saya, denyut masalah dari cerita ini adalah tentang ketakutan dan kebahagiaan. Tentang bagaimana takut akan kehilangan. Semua karakter di film ini mengalami momen kehilangan yang berbeda-beda. Ayah dan Ibu kehilangan anaknya, Angkasa kehilangan adiknya, Aurora merasa kehilangan keluarganya, dan Awan kehilangan pekerjaannya. Momen kehilangan dari masing-masing karakter tercampur dalam satu wadah bernama keluarga. Dan rasa kehilangan ini yang menjadikan tidak tercapainya ruang kebahagiaan pada keluarga itu.
Ketakutan-ketakutan ini pula yang kerap kita rasakan sehari-hari, sebenarnya. Kita sering takut dengan masa lalu, saat ini, atau masa depan. Ketakutan-ketakutan itu biasanya muncul dari pola komunikasi yang tidak ideal. Tidak ada ruang keterbukaan. Persis seperti yang tergambar dalam film yang tersebar di 500 layar tonton ini.
Terlepas dari konteks cerita, Angga Dwimas Sasongko telah menjalankan tugasnya dengan sangat baik sebagai sutradara sekaligus penulis skenario. Ia pula berhasil menjaga emosi seluruh karakter dari masa kecil hingga dewasa. Penempatan figuran penyanyi muda Arditho Pramono sebagai ‘Kale-Kale’ juga mendapat porsi yang pas. Ia bermain cukup bagus. Ia menjadi pemicu turning point sosok Awan dari anak manja menjadi anak yang berusaha mandiri. Pula tentunya pilihan original soundtrack film box office Indonesia yang sudah tembus jutaan penonton ini. Sangat representatif dan membekas di benak penonton. Kunto Aji, Hindia, Isyana Sarasvati, Sisir Tanah, Arditho Pramono, hingga Arah berhasil mewakili perasaan dan emosi di tiap potongan adegan. Keren sekali.
Untuk urusan sinematografi, saya tentu sudah tak meragukan lagi karya-karya Angga Dwimas Sasongko. Apalagi, yang pegang kendali adalah salah satu orang yang masuk dalam jajaran elit sinematografer terbaik Indonesia, Yadi Sugandi. Di film ini kita disajikan lanskap kehidupan urban Jakarta yang padat. Mulai dari kendaraan umum, kebul asap kendaraan, antiknya pasar tradisional, sedapnya aroma kudapan pinggir jalan, hingga suasana rumah lawas yang masih asri dengan tanaman.
Film ini pula sedikit banyak bisa memberi gambaran sekaligus tantangan pada diri kita, misalnya, para orang tua muda⎯dalam mendidik, mengasuh, dan yang paling penting, memberi ruang komunikasi seluas-luasnya untuk membimbing anak-anak kita kelak tumbuh besar dan bestari. Tentang angan-angan. Tentang harapan. Tentang manajemen konflik dan tentang bagaimana letak kebahagiaan dalam keluarga.
