Konten dari Pengguna

Inikah yang Disebut Kehidupan?

Gusti Imam Nugroho

Gusti Imam Nugroho

Gusti Imam Nugroho adalah seorang pendidik yang tidak hanya aktif di ruang kelas, tetapi juga aktif menulis terkait persoalan pendidikan, sosial, dan literasi. Sebagai bentuk komitmennya, ia mendirikan Westavabook sebagai ruang baca masyarakat luas.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gusti Imam Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"ilustrasi Usia 20 hingga 27 tahun sering disebut sebagai fase paling membingungkan dalam hidup/.sumber : dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
"ilustrasi Usia 20 hingga 27 tahun sering disebut sebagai fase paling membingungkan dalam hidup/.sumber : dokumentasi pribadi.

Usia 20 hingga 27 tahun sering disebut sebagai fase paling membingungkan dalam hidup. Di usia ini, banyak dari kita mulai bertanya: apakah hidup kita akan benar-benar berguna? apakah kita sudah berada di jalan yang tepat?

Ilustrasi Ini Kah yang Disebut Kehudipan ?//sumber:dokumentasi pribadi.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ini Kah yang Disebut Kehudipan ?//sumber:dokumentasi pribadi.

Ini bukan sekadar fase biasa ini adalah masa transisi yang penuh tekanan. Kita dituntut untuk terlihat baik-baik saja, bahkan ketika kenyataannya tidak demikian. Tekanan datang dari berbagai arah: ekonomi, karier, hubungan, hingga ekspektasi sosial yang kadang terasa terlalu tinggi.

Bagi sebagian orang, khususnya laki-laki, fase ini terasa semakin berat. Ada tuntutan tak tertulis bahwa laki-laki harus mapan, kuat, dan mampu memenuhi harapan orang lain—baik dari keluarga, pasangan, maupun lingkungan sekitar. Ketika tidak mampu memenuhi itu semua, muncul perasaan gagal, seolah-olah harga diri ikut runtuh.

"Ilustrasi detik detik lelaki sedang fase dibawah//sumber:dokumentasi pribadi"

Di usia ini juga, kita mulai melihat dengan lebih jelas siapa yang benar-benar peduli. Ketika kita sedang berada di titik terendah, tidak semua orang akan tetap tinggal. Ada yang perlahan menjauh, bersikap cuek, bahkan menghilang tanpa alasan yang jelas. Dari situ kita belajar: tidak semua yang dekat akan selalu ada.

"ilustrasi Momen ketika laki laki di fase terendah mereka akan di tinggal oleh orang terdekat/sumber:dokumentasi pribadi"

Namun, di sisi lain, ada juga orang-orang yang tetap bertahan. Mereka yang tetap mendukung, memberi semangat, dan tidak pergi saat kita jatuh. Kehadiran mereka adalah hal yang seharusnya kita syukuri, karena merekalah yang benar-benar tulus.

"ilustrasi sedang merenung akan keadaan//sumber: dokumentasi pribadi"

Realitanya memang tidak selalu indah. Ketika seseorang berada di bawah, sering kali ia justru dijauhi. Terlebih dalam pandangan masyarakat, ada stigma bahwa laki-laki tidak boleh miskin, tidak boleh lemah. Jika tidak mampu secara finansial, ia kerap diremehkan, bahkan oleh orang-orang terdekatnya sendiri.

"ilustrasi ada beberapa orang orang yang tetap suport walaupun ia sedang dalam fase paling rendah//sumber:dokumentasi pribadi"

Itulah kerasnya kehidupan.

Namun dari semua itu, kita belajar satu hal penting: hidup ini akan menunjukkan siapa yang benar-benar mencintai kita, siapa yang setia, dan siapa yang hanya ada saat kita berada di atas.

Pada akhirnya, fase ini bukan hanya tentang tekanan dan kesulitan. Ini adalah proses pembentukan diri—tentang bagaimana kita bertahan, belajar, dan tumbuh menjadi pribadi yang lebih kuat.

Karena mungkin, inilah kehidupan yang sebenarnya.