Konten dari Pengguna

“Sekolah, Orang Tua, dan Anak: Pendidikan sebagai Proses Menempa Mental”

Gusti Imam Nugroho

Gusti Imam Nugroho

Gusti Imam Nugroho adalah seorang pendidik yang tidak hanya aktif di ruang kelas, tetapi juga aktif menulis terkait persoalan pendidikan, sosial, dan literasi. Sebagai bentuk komitmennya, ia mendirikan Westavabook sebagai ruang baca masyarakat luas.

·waktu baca 5 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Gusti Imam Nugroho tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Sekolah sebagai Rumah Kedua.Tantangan Membentuk Generasi Tangguh//Sumber.Dokumentasi.Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Sekolah sebagai Rumah Kedua.Tantangan Membentuk Generasi Tangguh//Sumber.Dokumentasi.Pribadi

Sekolah kerap dimaknai sebagai rumah kedua bagi peserta didik, sebuah ruang sosial tempat anak-anak tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga belajar membangun karakter, nilai, dan kepribadian. Dalam kerangka pendidikan modern, sekolah idealnya menjadi lingkungan yang aman secara fisik dan psikologis, memberikan rasa diterima, serta membuka ruang bagi peserta didik untuk tumbuh dan berkembang secara utuh. Konsep ini sejalan dengan pandangan pendidikan humanistik yang menempatkan peserta didik sebagai subjek, bukan semata-mata objek pembelajaran.

Namun, realitas di lapangan menunjukkan bahwa sekolah belum sepenuhnya menjadi ruang aman bagi semua peserta didik. Masih banyak peserta didik yang datang ke sekolah dengan perasaan tertekan, cemas, bahkan kehilangan motivasi belajar. Ketidaknyamanan tersebut tidak selalu bersumber dari beban akademik, melainkan sering kali lahir dari iklim sosial sekolah yang kurang sehat. Ejekan antarteman, perundungan verbal, budaya saling menjatuhkan, serta kebiasaan menertawakan kesalahan masih menjadi fenomena yang kerap dijumpai dalam kehidupan sekolah sehari-hari.

Dalam praktiknya, peserta didik yang berani bertanya atau mengemukakan pendapat sering kali dicap “sok pintar” atau dianggap berlebihan. Kesalahan kecil yang sejatinya merupakan bagian dari proses belajar justru dijadikan bahan candaan berkepanjangan. Tidak sedikit peserta didik yang memilih bersikap pasif di kelas, bukan karena tidak memiliki kemampuan, melainkan karena takut salah dan takut dipermalukan. Dalam kerja kelompok pun masih sering terlihat sikap tidak bertanggung jawab, minim empati, serta kecenderungan melempar beban kepada satu orang saja. Jika kondisi ini dibiarkan, sekolah akan kehilangan fungsinya sebagai ruang pendidikan yang memanusiakan manusia.

ilustrasi Sekolah sebagai Rumah Kedua.Tantangan Membentuk Generasi Tangguh//Sumber.dokumentasi.pribadi

Dari sudut pandang psikologi, pengalaman sosial yang berulang dan bersifat negatif dapat membentuk pola kepribadian peserta didik. Sigmund Freud menekankan bahwa pengalaman masa kanak-kanak dan remaja dapat tersimpan dalam alam bawah sadar dan memengaruhi perilaku individu di masa depan. Rasa malu, takut, dan tidak dihargai yang terus-menerus dialami dapat melahirkan pribadi yang rapuh, ragu mengambil keputusan, atau justru mengekspresikan tekanan batin melalui perilaku negatif. Dengan demikian, iklim sosial sekolah memiliki peran yang sangat besar dalam pembentukan mental dan karakter peserta didik.

Di sisi lain, guru tetap menjadi aktor penting dalam menciptakan suasana belajar yang sehat. Ki Hajar Dewantara menegaskan bahwa pendidikan adalah proses menuntun, bukan memaksa. Guru idealnya menjadi teladan dalam bersikap, menegakkan disiplin secara manusiawi, serta menciptakan ruang dialog yang aman dan bermakna. Guru diharapkan mampu memberi kritik tanpa merendahkan, serta menanamkan nilai tanggung jawab tanpa menimbulkan ketakutan. Namun demikian, pendidikan tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada sekolah dan guru semata.

Peran orang tua justru menjadi fondasi utama dalam pembentukan karakter anak. Orang tua tidak boleh memanjakan anak secara berlebihan, terlebih ketika anak melakukan kesalahan. Sikap selalu membela, menutup-nutupi kesalahan, atau menganggap anak selalu benar justru akan melahirkan pribadi yang tidak siap menerima kritik dan tidak mampu bertanggung jawab atas tindakannya. Anak yang dibesarkan dalam pola asuh yang terlalu memanjakan cenderung tumbuh menjadi individu yang mudah tersinggung, tidak tahan tekanan, dan sulit menerima kegagalan.

ilustrasi

Ketika anak berbuat salah, orang tua seharusnya hadir sebagai pendidik pertama yang memberi arahan, menegur dengan tegas namun tetap penuh kasih, serta mengajarkan konsekuensi atas setiap tindakan. Kesalahan bukan untuk ditutupi, melainkan untuk diperbaiki. Dalam konteks ini, ketegasan orang tua justru merupakan bentuk kasih sayang jangka panjang, bukan kekerasan.

Lebih jauh, orang tua juga tidak boleh melimpahkan seluruh tanggung jawab pendidikan kepada sekolah. Masih sering ditemui pandangan bahwa pendidikan sepenuhnya adalah urusan guru dan sekolah, sementara rumah hanya menjadi tempat beristirahat. Pola pikir semacam ini keliru. Sekolah memiliki keterbatasan ruang, waktu, dan kontrol, sedangkan pembentukan karakter anak berlangsung sepanjang hari, terutama di lingkungan keluarga.

Oleh karena itu, orang tua harus melakukan kontrol yang penuh terhadap perkembangan anak, baik secara akademik, sosial, maupun emosional. Kontrol bukan berarti mengekang, tetapi hadir secara sadar: mengawasi pergaulan anak, membangun komunikasi yang terbuka, menanamkan nilai disiplin, serta memberi teladan dalam bersikap. Tanpa keterlibatan aktif orang tua, upaya sekolah dalam membentuk karakter peserta didik akan timpang dan tidak berkelanjutan.

ilustrasi Sekolah sebagai Rumah Kedua.Tantangan Membentuk Generasi Tangguh//sumber.Dokumentasi,pribadi

Dalam konteks tantangan zaman yang semakin kompleks, peserta didik juga tidak bisa terus-menerus menempatkan diri sebagai pihak yang paling lemah. Dunia di luar sekolah tidak selalu ramah, tidak selalu lembut, dan tidak akan menyesuaikan diri dengan perasaan individu. Sekolah sejatinya menjadi ruang latihan awal untuk menghadapi realitas kehidupan yang jauh lebih keras.

Kritik terhadap kecenderungan generasi yang manja dan mudah baperan menjadi relevan untuk dikemukakan. Sedikit teguran langsung dianggap serangan, sedikit kritik dianggap menjatuhkan mental. Padahal, dalam kehidupan sosial dan profesional di masa depan, tekanan, kritik, dan kegagalan adalah hal yang tidak terpisahkan. Jika sejak dini peserta didik tidak dilatih menghadapi ketidaknyamanan, maka mereka akan tumbuh menjadi generasi yang rapuh.

Menjadi kuat bukan berarti kehilangan empati, melainkan mampu mengelola emosi secara dewasa. Peserta didik perlu belajar membedakan antara kritik yang membangun dan perlakuan yang merendahkan. Teguran yang disampaikan secara manusiawi seharusnya dipahami sebagai bagian dari proses pembelajaran. Demikian pula kegagalan, yang sejatinya merupakan sarana untuk membangun daya juang dan ketangguhan mental.

Penting untuk ditegaskan bahwa dorongan agar peserta didik menjadi kuat tidak boleh dimaknai sebagai pembenaran atas kekerasan verbal atau praktik pendidikan yang represif. Kekuatan mental yang sejati tumbuh dari keseimbangan antara ketegasan dan empati, baik di sekolah maupun di rumah. Guru membimbing dengan bijak, orang tua mendidik dengan konsisten, dan peserta didik belajar dengan kesadaran.

Pada akhirnya, pendidikan yang ideal adalah pendidikan yang memanusiakan manusia sekaligus menyiapkan mereka menghadapi realitas kehidupan. Sekolah harus menjadi ruang aman yang menumbuhkan keberanian, bukan ketakutan. Namun sekolah juga bukan tempat memanjakan tanpa batas. Demikian pula keluarga, yang harus menjadi fondasi nilai, disiplin, dan tanggung jawab.

Generasi masa depan akan berhadapan dengan tantangan yang jauh lebih berat daripada sekadar ujian di kelas atau teguran guru. Jika peserta didik dibesarkan dengan mental manja, mudah baper, dan minim tanggung jawab, maka mereka akan kesulitan bertahan di dunia nyata. Pendidikan bukan hanya tentang kenyamanan hari ini, tetapi tentang kesiapan menghadapi kehidupan esok hari.