Konten dari Pengguna

Culture Menjadi Pressure Akademik: Dilema Siswa SMA Menghadapi Seleksi PTN

Ketika PTN ternama menjadi simbol keberhasilan, siswa SMA tak hanya dituntut untuk belajar, tetapi juga memenuhi ekspektasi sosial. Apakah mereka sedang mengejar cita-cita atau sekadar takut dianggap gagal?

Ilustrasi anak yang merasa tertekan akibat budaya untuk masuk PTN ternama dibuat dengan (AI-Generated image).
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi anak yang merasa tertekan akibat budaya untuk masuk PTN ternama dibuat dengan (AI-Generated image).

Bel pulang berbunyi pukul tiga sore, tetapi bagi banyak siswa kelas 12 hari belum selesai. Setelah menuntaskan tugas dan ulangan, mereka bergegas ke bimbel atau membuka latihan soal di rumah. Malamnya, mereka masih mengerjakan paket tryout sampai mata berat. Akhir pekan yang dulu untuk beristirahat kini diisi simulasi ujian. Jadwal yang awalnya longgar makin padat, karena ada perasaan bahwa belajar di sekolah saja tidak cukup untuk menghadapi SNBT. Mengapa proses melanjutkan pendidikan bisa terasa seperti perlombaan yang begitu menentukan?

Salah satu jawabannya adalah anggapan bahwa masuk perguruan tinggi negeri (PTN) ternama merupakan bukti kecerdasan dan keberhasilan. Anggapan ini jarang diucapkan terang-terangan, tetapi terasa di mana-mana. Orang tua bertanya soal pilihan kampus dengan nada yang menyimpan harapan. Teman-teman saling membandingkan target dan skor tryout. Di lingkungan sekolah, kelulusan ke kampus tertentu dibicarakan seperti prestasi yang layak dipajang. Lama-kelamaan, nama kampus berhenti menjadi sekadar tempat belajar dan berubah menjadi label yang menempel pada harga diri.

Di titik ini perlu dibedakan antara aspirasi pribadi dan tuntutan sosial. Aspirasi pribadi adalah keinginan seorang siswa untuk belajar di bidang atau tempat yang ia yakini cocok baginya. Tuntutan sosial adalah dorongan dari luar agar ia memilih kampus yang membuat keluarga bangga atau membuatnya tidak tertinggal dari teman sebaya. Keduanya sering bercampur. Siswa yang ditanya “kenapa memilih kampus ini?” tidak selalu bisa memastikan apakah jawabannya lahir dari dirinya sendiri atau dari suara-suara di sekelilingnya.

Persoalan ini juga berakar pada cara sistem pendidikan kita bekerja. Sekolah mengajarkan kurikulum dalam rentang waktu panjang, mulai dari memahami materi, mengerjakan tugas, hingga berdiskusi. Seleksi nasional menguji hal yang berbeda. SNBT menilai potensi skolastik, literasi bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, serta penalaran matematika, dengan soal yang menuntut ketepatan dan kecepatan dalam waktu terbatas. Siswa yang rajin di kelas belum tentu terbiasa dengan format semacam ini, sehingga berlatih khusus terasa perlu. Akibatnya, mereka harus membagi tenaga antara tugas sekolah dan latihan seleksi, dua tuntutan yang sama-sama tidak bisa diabaikan.

Skala persaingan membuat kebutuhan itu terasa mendesak. Pada 2026, panitia SNPMB mengumumkan 256.369 dari 871.496 pendaftar lolos SNBT di 145 PTN, atau 29,42 persen, untuk memperebutkan 286.864 kursi. Angka ini tidak otomatis berarti peluang tiap siswa sekecil itu. Panitia mencatat bahwa jumlah yang diterima mencapai 89,37% dari daya tampung, dan sekitar 10% sisanya dialihkan ke jalur mandiri. Panitia juga menjelaskan bahwa penerimaan harus disesuaikan dengan sarana, sumber daya manusia, dan kesiapan kampus. Dengan kata lain, kursi dibatasi oleh kapasitas, sementara peminat jauh lebih banyak. Persaingan makin ketat di kampus tertentu. Misalnya, Universitas Indonesia menjadi PTN akademik dengan peminat terbanyak, yakni 100.253 pendaftar. Dengan angka seperti itu, wajar jika siswa merasa persiapan tambahan bukan kemewahan, melainkan kebutuhan. Bayangkan seorang siswa kelas 12 yang tidak membenci sekolahnya, tetapi merasa soal-soal seleksi seperti bahasa yang belum pernah diajarkan secara langsung. Ketika teman-temannya sudah berlatih lebih dulu, ia cemas tertinggal.

Ambisi sebenarnya hal yang baik. Masalah muncul ketika budaya prestise mengubah arti keberhasilan dan kegagalan. Tidak lolos ke kampus tujuan tidak lagi dibaca sebagai hasil sebuah seleksi, melainkan terasa seperti kegagalan pribadi. Padahal hasil seleksi hanya memotret kemampuan tertentu, pada hari tertentu, dengan format tertentu. Ia tidak menggambarkan ketekunan, kreativitas, kemampuan bekerja sama, atau potensi yang baru tumbuh kemudian.

Perlombaan ini pun tidak dimulai dari garis start yang sama. Siswa dengan akses bimbel, koneksi internet stabil, perangkat memadai, dan keluarga yang mampu memberi ruang serta dukungan punya keuntungan yang tidak berkaitan dengan kecerdasan. Data SNPMB menunjukkan sisi lain dari soal ini. Di SNBT 2026, dari 251.991 pendaftar KIP Kuliah, sebanyak 86.118 peserta atau 33,59% diterima. Banyak siswa dari keluarga kurang mampu berhasil masuk, tetapi jumlah mereka yang harus berjuang dengan sumber daya terbatas juga sangat besar. Menyamakan hasil seleksi dengan nilai seorang manusia berarti mengabaikan perbedaan titik berangkat itu.

Meski begitu, kritik ini tidak ditujukan kepada siswa. Memiliki target dan mempersiapkan diri bukan kesalahan. Ingin masuk PTN adalah ambisi yang sah, dan berlatih bersungguh-sungguh adalah bentuk tanggung jawab. Yang perlu dibenahi adalah budaya dan sistem di sekelilingnya. Sekolah bisa menyediakan bimbingan karier yang jujur tentang beragam jalur, bukan hanya mengumumkan siapa yang masuk kampus favorit. Keluarga bisa bertanya “kamu ingin belajar apa dan kenapa?” sebelum bertanya “kamu mau masuk mana?”. Masyarakat bisa berhenti memperlakukan nama kampus sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan. Pemerintah dan penyelenggara seleksi pun berperan memastikan informasi mudah diakses semua siswa dan dukungan seperti KIP Kuliah menjangkau mereka yang membutuhkan.

Pendidikan semestinya membuat orang tumbuh, bukan sekadar lolos. Siswa yang belum diterima di kampus impiannya masih punya jalur lain, dan yang lebih penting, masih punya dirinya yang utuh. Jika lingkungan mampu menunjukkan hal itu, perlombaan yang melelahkan ini bisa berubah menjadi perjalanan belajar yang lebih manusiawi.