Survei: 41% Pakar Prediksi Perang Dunia III Pecah dalam 10 Tahun ke Depan

Sebuah survei yang dilakukan lembaga think tank, Atlantic Council, meminta lebih dari 450 “pakar” memprediksi seperti apa kondisi dunia dalam 10 tahun mendatang.
Hasilnya, para responden menunjukkan kekhawatiran terhadap berbagai isu global, mulai dari perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) hingga penyebaran senjata nuklir. Kendati begitu, hasil survei ini perlu disikapi dengan hati-hati dan tidak dianggap sebagai ramalan pasti.
Salah satu kekhawatiran terbesar yang muncul adalah potensi konflik global. Para responden yang berasal dari organisasi nirlaba, pemerintahan, institusi akademik, hingga sektor swasta ditanya mengenai ancaman terbesar terhadap kemakmuran dunia dalam satu dekade ke depan. Hasilnya, hampir 30 persen memilih perang antarnegara besar sebagai risiko utama.
Sementara itu, krisis iklim yang selama ini menjadi perhatian global berada di bawahnya, dengan 19 persen responden menilai isu tersebut sebagai ancaman terbesar.
Ketika ditanya secara lebih spesifik apakah Perang Dunia III akan terjadi dalam 10 tahun ke depan, mayoritas responden atau 58,8 persen menjawab tidak. Namun, sebanyak 41,2 persen percaya kemungkinan itu tetap terbuka.
Dari kelompok yang memprediksi konflik global, sebanyak 43 persen memperkirakan titik awal perang akan berada di kawasan Taiwan. Setelah itu, kawasan Eropa Timur disebut oleh 25 persen responden, disusul Timur Tengah sebesar 13 persen.
Meski demikian, hasil ini juga memiliki keterbatasan. Hampir setengah responden berasal dari Amerika Serikat, sehingga pandangan yang muncul kemungkinan lebih merefleksikan perspektif AS dibanding gambaran menyeluruh komunitas pakar dunia.
Kekhawatiran soal Senjata Nuklir dan AI
Survei tersebut juga menunjukkan pesimisme terhadap perkembangan senjata nuklir. Sebanyak 85 persen responden meyakini akan ada lebih banyak negara yang memiliki senjata nuklir dalam satu dekade mendatang.
Namun, ada sedikit optimisme terkait penggunaannya. Sebanyak 78 persen responden percaya senjata nuklir tidak akan digunakan dalam konflik pada periode yang sama.
Mantan spesialis kebijakan senjata nuklir di Congressional Research Service, Perpustakaan Kongres AS, Amy F. Woolf, mengatakan hasil ini kemungkinan dipengaruhi oleh meningkatnya kekhawatiran terhadap ambisi regional China dan pertumbuhan nuklir China serta Korea Utara.
Menurutnya, kekhawatiran juga muncul terkait efektivitas perlindungan nuklir yang diberikan Amerika Serikat kepada sekutunya.
“Di Eropa, kekhawatiran ini bahkan memicu diskusi sesekali di antara negara sekutu AS mengenai pengembangan sistem pencegahan nuklir yang lebih independen,” ujarnya.
Di sisi lain, responden juga menyoroti kemungkinan perubahan cara peperangan berlangsung. Lebih dari separuh responden percaya akan terjadi konflik militer langsung yang sebagian berlangsung di luar angkasa. Bahkan, 73 persen meyakini AI akan mulai mengambil keputusan mematikan di medan perang tanpa keterlibatan manusia dalam proses pengambilan keputusan.
Meski khawatir soal penggunaan AI di sektor militer, para responden masih relatif optimistis terhadap perkembangan teknologi tersebut secara umum. Sebanyak 58 persen memperkirakan dunia akan mencapai Artificial General Intelligence (AGI), AI dengan kemampuan setara atau melampaui manusia di berbagai bidang pada 2036.
Selain itu, 56 persen menilai dampak AI dalam satu dekade ke depan akan cenderung positif atau sangat positif. Atlantic Council mencatat bahwa kelompok pakar dalam survei ini secara umum lebih optimistis terhadap AI dibanding masyarakat umum di Amerika Serikat.
Namun, persepsi terhadap dampak negatif AI juga meningkat, naik tiga poin persentase dibanding hasil survei tahun sebelumnya. Secara keseluruhan, nada survei ini cenderung pesimistis. Sebanyak 63 persen responden menilai kondisi dunia 10 tahun mendatang akan lebih buruk dibanding sekarang.
Bukan Prediksi Pasti
Meski begitu, hasil ini juga perlu dibaca secara proporsional. Komposisi responden tidak sepenuhnya mewakili pandangan global karena sekitar 50 persen berasal dari AS dan 76 persen mengidentifikasi diri sebagai laki-laki.
Selain itu, survei ini juga bersifat sukarela (self-selecting), sehingga kemungkinan terdapat bias dari pihak yang memilih untuk ikut dan memberikan prediksi.
Pada akhirnya, survei ini lebih menggambarkan suasana hati dan persepsi sekelompok pakar terhadap masa depan, bukan prediksi pasti tentang apa yang akan terjadi.
