Inflasi Bukan Sekedar Angka: Beban yang Dirasakan Masyarakat Setiap Hari

Mahasiswa Universitas Pamulang Fakultas Ekonomi dan Bisnis Program Studi Manajemen, Tertarik menulis tentang bisnis, teknologi, dan isu yang dekat dengan kehidupan sehari-hari
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari haer udin tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernah enggak kita merasa uang yang dibawa saat belanja sekarang terasa lebih cepat habis dibandingkan sebelumnya? Barang yang dibeli mungkin tidak jauh berbeda, tetapi jumlah uang yang dikeluarkan terasa semakin besar. Mulai dari beras, telur, minyak goreng, hingga kebutuhan sehari-hari lainnya, perubahan harga bisa langsung dirasakan ketika masyarakat berbelanja.
Situasi ini sering kali dianggap sebagai persoalan biasa. Padahal, kenaikan harga kebutuhan pokok berkaitan erat dengan inflasi, salah satu indikator penting dalam ekonomi makro. Inflasi bukan hanya angka yang diumumkan pemerintah setiap bulan, melainkan kondisi ekonomi yang dapat memengaruhi cara masyarakat memenuhi kebutuhannya.
Pertanyaannya, ketika inflasi masih terkendali, apakah daya beli masyarakat otomatis berada dalam kondisi baik?
Inflasi Bukan Sekedar Angka
Secara sederhana, inflasi merupakan kenaikan harga barang dan jasa secara umum dan terus-menerus dalam suatu periode. Ketika inflasi terjadi, nilai uang yang kita miliki dapat membeli lebih sedikit barang dan jasa dibandingkan sebelumnya, terutama apabila pendapatan tidak mengalami peningkatan yang sebanding.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 tercatat sebesar 3,28%. Angka tersebut menggambarkan perubahan Indeks Harga Konsumen dibandingkan September tahun lalu. Namun, angka inflasi nasional tidak berarti seluruh barang mengalami kenaikan dengan persentase yang sama.
Di sinilah pentingnya memahami inflasi secara lebih dekat. Angka inflasi memberikan gambaran umum tentang perubahan harga, tetapi pengalaman setiap rumah tangga bisa berbeda. Keluarga yang sebagian besar pengeluarannya digunakan untuk membeli bahan makanan dapat merasakan tekanan yang berbeda dari keluarga yang memiliki pengeluaran yang beragam.
Dengan kata lain, memahami inflasi tidak cukup hanya dengan meliht persentasenya. kita juga perlu melihat bagaimana perubahan harga memengaruhi kebutuhan sehari-hari masyarakat.
Ketika Harga Naik, Pendapatan Belum Tentu Naik
Masalah mulai terasa ketika harga kebutuhan pokok meningkat, sementara pendapatan masyarakat tidak bertambah dengan kecepatan yang sama. Dalam kondisi tersebut, Masyarakat harus menyesuaikan pengeluaran agar kebutuhan sehari-hari tetap terpenuhi.
Sebagai contoh sederhana, seseorang yang memiliki anggaran belanja Rp. 500.000 perlu mengatur ulang pembeliannya ketika harga beberapa kebutuhan mengalami kenaikan. Jika anggarannya tetap ia mungkin harus mengurangi jumlah barang yang dibeli, memilih produk yang lebih murah, atau menunda kebutuhan lain.
Situasi ini menunjukan bahwa dampak inflasi tidak hanya berkaitan dengan harga, tetapi juga dengan daya beli. Daya beli menggambarkan kemampuan seseorang untuk membeli barang dan jasa menggunakan pendapatan yang dimilikinya.
Bagi Masyarakat berpendapatan rendah, persoalan ini dapat menjadi lebih berat karna sebagian besar pendapatan mereka digunakan untuk memenuhi kebutuhan pokok. Ruang untuk menyesuaikan pengeluaran pun relatif lebih terbatas dibandingkan rumah tangga yang memiliki pendapatan lebih besar.
Karna itu, kenaikan harga kebutuhan pokok tidak seharusnya dipandang sebagai persoalan kecil. Ketika kebutuhan dasar semakin mahal, dampaknya bisa merembet pada kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan lain, seperti pendidikan, transportasi, dan kesehatan.
Mengapa Harga Kebutuhan Pokok Bisa Naik?
Kenaikan harga kebutuhan pokok tidak selalu disebabkan oleh satu faktor. Dalam perekonomian, harga dapat dipengaruhi oleh perubahan permintaan dan penawaran, kondisi produksi, biaya distribusi, hingga gangguan rantai pasok.
Misalnya, ketika hasil panen berkurang akibat cuaca yang tidak mendukung, pasokan beberapa komoditas pangan dapat menurun. Jika permintaan tetap tinggi sementara barang yang tersedia berkurang, harga berpotensi mengalami kenaikan.
Biaya transportasi dan distribusi juga dapat memengaruhi harga yang dibayar konsumen. Barang yang harus melewati rantai distribusi yang panjang berpotesi menghadapi biaya tambahan sebelum ke pasar. Selain itu, Hambatan logistik dan distribusi yang tidak merata dapat membuat harga suatu komoditas berbeda antar satu daerah dan daerah lainnya.
Faktor-faktor tersebut menunjukkan bahwa persoalan harga pangan tidak cukup diselesaikan dengan sekadar meminta masyarakat berhemat. Perlu ada upaya untuk memperbaiki sisi produksi, menjaga kelancaran distribusi, serta memastikan ketersediaan barang di berbagai wilayah.
Inflasi Terkendali Belum Tentu Berarti Harga Kembali Murah
Salah satu hal yang sering menimbulkan kesalahpahaman adalah anggapan bahwa ketika inflasi menurun, harga barang otomatis ikut turun. Padahal, keduanya merupakan hal yang berbeda.
Inflasi yang melambat berarti harga secara umum masih mengalami kenaikan, tetapi dengan laju yang lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya. Sementara itu, penurunan harga secara umum disebut deflasi.
Artinya, ketika inflasi turun, masyarakat belum tentu langsung merasakan harga kebutuhan pokok menjadi lebih murah. Harga yang sudah meningkat pada periode sebelumnya bisa saja tetap bertahan pada tingkat yang tinggi.
Hal ini penting karena keberhasilan pengendalian inflasi perlu dipahami bersama dengan kondisi pendapatan dan daya beli masyarakat. Angka inflasi yang terkendali memang merupakan hal positif bagi stabilitas ekonomi. Namun, manfaatnya perlu dilihat pula dari kemampuan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup.
Menurut saya, ukuran keberhasilan ekonomi tidak seharusnya berhenti pada angka statistik. Kita juga perlu mempertanyakan apakah kondisi ekonomi yang membaik benar-benar dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa yang Seharusnya Dilakukan Pemerintah?
Menghadapi persoalan harga kebutuhan pokok, pemerintah perlu menjalankan kebijakan yang tidak hanya berorientasi pada stabilitas ekonomi secara umum, tetapi juga memperhatikan dampaknya terhadap masyarakat.
Pertama, menjaga ketersediaan pasokan pangan perlu menjadi prioritas. Dukungan kepada petani, perbaikan infrastruktur pertanian, fasilitas penyimpanan, serta penguatan distribusi dapat membantu mengurangi risiko kelangkaan komoditas.
Kedua, pengawasan terhadap distribusi dan pembentukan harga perlu diperkuat. Pemerintah perlu memastikan informasi harga tersedia secara transparan serta menindak praktik penimbunan atau persaingan usaha tidak sehat apabila ditemukan bukti pelanggaran.
Ketiga, bantuan sosial dan dukungan bagi masyarakat yang rentan perlu diberikan secara tepat sasaran ketika tekanan harga meningkat. Kebijakan semacam ini dapat membantu menjaga kemampuan rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar, terutama ketika pendapatan mereka sulit mengimbangi kenaikan biaya hidup.
Keempat, upaya menjaga daya beli juga perlu disertai dengan penciptaan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan yang berkelanjutan. Pengendalian harga penting, tetapi kemampuan masyarakat memperoleh pendapatan yang layak juga menjadi bagian dari persoalan.
Berbagai kebijakan tersebut tentu perlu disesuaikan dengan kondisi dan penyebab kenaikan harga yang terjadi. Tidak semua kenaikan harga dapat diatasi menggunakan cara yang sama. Karena itu, keputusan pemerintah perlu didukung data yang akurat dan evaluasi yang berkelanjutan.
Menilai Ekonomi dari Kehidupan Masyarakat
Pada akhirnya, inflasi merupakan bagian dari dinamika ekonomi yang tidak dapat dilepaskan dari kehidupan sehari-hari. Perubahan harga di pasar memiliki hubungan dengan kondisi produksi, distribusi, kebijakan pemerintah, dan kemampuan masyarakat dalam memperoleh pendapatan.
Karena itu, pembahasan mengenai ekonomi makro seharusnya tidak hanya menjadi urusan pemerintah, ekonom, atau lembaga statistik. Masyarakat juga perlu memahami bagaimana perubahan indikator ekonomi dapat memengaruhi pengeluaran dan kesejahteraan mereka.
Inflasi yang terkendali merupakan salah satu tujuan penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Namun, kestabilan tersebut perlu berjalan beriringan dengan upaya menjaga daya beli dan memastikan kebutuhan pokok tetap dapat dijangkau oleh masyarakat.
Sebab, keberhasilan ekonomi bukan hanya tentang seberapa baik angka-angka terlihat dalam laporan. Lebih dari itu, keberhasilan ekonomi juga perlu tercermin dari kemampuan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari secara layak.
