Konten dari Pengguna

AI dan Pedagogi Pendidikan Kritis

Hafidz Arfandi

Hafidz Arfandi

Penulis merupakan founder dan peneliti di Sustainability Learning Center (SLC). Penggiat isu demokrasi, kewargaan, dan perubahan iklim

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hafidz Arfandi tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Ai dalam pendidikan menjanjikan kemajuan tapi penuh kebimbangan, dibuat dengan grok AI
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Ai dalam pendidikan menjanjikan kemajuan tapi penuh kebimbangan, dibuat dengan grok AI

AI dan Keniscayaan Revolusi 5.0

Kecerdasan buatan (AI) bukan lagi isu masa depan, melainkan kenyataan yang telah mengubah cara manusia bekerja, belajar, dan mengambil keputusan. AI menjadi penanda dalam lanskap Revolusi Industri 5.0, fase ketika teknologi tidak hanya menjadi media pasif tetapi telah menjadi wajah aktif untuk mengelola informasi secara otonom ditandai dengan kecakapan mechine learning membangun mega alghoritma untuk mampu menjembatani intuisi dalam berinteraksi dengan manusia, lewat berbagai prompt-nya.

Dunia hari ini berlomba membangun dan menguasai AI, secara fundamental sistem AI dikendalikan oleh perpaduan kuat antara softwere dan hardwere, kecanggihan alghoritma dipadukan dengan kecepatan semiconductor dalam mentransmisikan data. Hasilnya, seperti kata Jensen Huang, bahwa “AI will not replace humans, but humans with AI will replace humans without AI”. Pernyataan ini sering dikutip untuk menegaskan urgensi penguasaan AI.

Namun, dalam arena pendidikan sejatinya manusia harus mampu menjadi pemilik kesadaran otentik untuk membangun kehidupannya sendiri, manusia bisa beradaptasi dengan AI sebagaimana manusia di era revolusi industri mulai beradaptasi dengan mesin uap, lalu listrik, teknologi komputasi, hingga kini dengan dunia digital. Sebagai alat AI, tidak boleh melahirkan dehumanisasi baru, satu kritik lama dalam tradisi kritis bahwa alat produksi cenderung menghasilkan ekses alienasi.

Maka ketika zaman AI bergentayangan di hadapan kita, bisakah pendidikan beradaptasi untuk mengadopsinya, sembari menundukannya untuk menjadi alat pembangun peradaban tanpa memaksa manusia tunduk pada alat tersebut, muncul ide dasar tentang kedaulatan manusia dihadapan teknologi, “human souvergnity”. Dalam sejarah kita menyaksikan bahwa kemajuan teknologi seringkali dibarengi dengan ekses ketimpangan antar manusia yang kini kian parahnya sehingga menimbulkan kegamangan modern dalam praktik flexibilitas dunia kerja, dan keguncangan ekonomi yang rapuh, ditandai dengan pertumbuhan pesat namun kualitas pemerataanya sangat timpang. Terlebih, nilai tambah “non materil” yang tak memiliki dasar interistik menjadi tumbuh pesat membangun nilai pasarnya sendiri di tengah “leisue economic mode” yang produktifitasnya dapat dipertanyakan ulang.

Adopsi dan Adaptasi AI

Perdebatan mengenai AI menjadi kontekstual dalam kurikulum pendidikan, yang kerap jatuh pada dikotomi yang keliru: menerima atau menolak. Padahal, persoalan yang lebih substantif adalah bagaimana mengadopsi dan mengadaptasikan AI secara bijak, kontekstual, dan berorientasi nilai.

Kurikulum tidak boleh disusun berdasarkan kecanggihan teknologi semata, melainkan harus berangkat dari tujuan pendidikan yang menjadi fondasi pembangunan nasional. Tanpa kerangka kebijakan yang jelas, adopsi AI justru berisiko memperlebar kesenjangan—baik antarwilayah, antarsekolah, maupun antarpeserta didik. Sekolah yang memiliki infrastruktur dan literasi digital akan melaju cepat, sementara yang lain tertinggal semakin jauh. Sebagai alat, AI memiliki dua mata pisau yang tajam dan tumpul, bukan AI-nya yang berbeda melainkan kesadaran di belakangnya yang tumbuh membersamainya. Orang yang memiliki kematangan diri, secara intelektual, logika dan emosional akan cenderung memanfaatkan AI sebagai alat produktifitas, mempercepat akumulasi kognisi, dan membantu mekanisasi proses produksi, tetapi sebaliknya AI bisan sekedar menjadi pelarian pemuas hasrat yang menyimpang bila tak dilandasi kesadaran tersebut.

Persoalan mendasar pada masyarakat Indonesia adalah minimnya literasi dan masih rendahnya kemampuan logis dan numerasi, menjadikan AI sebagai alat mudah mendapatkan short cut dalam menuntaskan pekerjaan, sekolah yang masih berorientasi pada “hasil akhir” akan cenderung gagal mengadopsi AI sebagai mitra berpikir kritis, sebaliknya hanya mempercepat output. Jadi adaptasi terhadap AI, bukan soal untuk apa memakainya, tetapi lebih jauh lagi, bagaimana memperlakukannya? Dalam konteks kognisi, AI adalah perpustakaan terbuka yang luar biasa besar dibangun melalui multiple input secara konsisten, tetapi alghoritmanya tetap lahir dari nalar pengetahuan para programernya yang tentu tidak bebas nilai, sehingga wajar cara menghasilkan output kognifi antar satu AI dengan yang lain akan berbeda, perlu kecerdasan dan kebijaksanaan untuk memahaminya.

Hal lain yang perlu menjadi upaya bersama, bahwa AI adalah alat bantu yang tak boleh menggantikan sumber kognitif aslinya, sumber pembelajaran otentik harus tetap berpijak pada pengalaman subjektif peserta didik, maupun dari sumber-sumber literatur asli, karena meski AI bisa mengkonfigurasi pengetahuan secara presisi belum tentu ia dapat menemukan otentisitas makna dalam proses mengelola informasi, generalisasi dan binery tetap menjadi bahaya melekat dalam sistem komputasinya. Kemampuan critical thinking perlu diimbangi pengalaman subjektif yang menyertakan emosi (rasa keterikatan perasaan dan antusiasme) serta rasionalitas sekaligus untuk menghasilkan kemampuan otentik dalam menakar masalah kontekstual yang dihadapi.

Adaptasi ini menuntut kesiapan sistemik, baik infrastruktur digital hanyalah prasyarat awal. Yang jauh lebih penting adalah kesiapan pendidik, peserta didik, dan orang tua. Guru, khususnya, tidak cukup hanya dilatih menggunakan perangkat AI, tetapi juga dibekali kemampuan pedagogis dan reflektif untuk menempatkan teknologi dalam kerangka pembelajaran yang bermakna. AI seharusnya berfungsi sebagai alat bantu yang memperkaya proses belajar—memicu rasa ingin tahu, membantu eksplorasi, dan memperdalam pemahaman—bukan sebagai jalan pintas yang menggantikan kerja berpikir. Tanpa fondasi nilai dan nalar kritis, pendidikan berisiko melahirkan generasi yang mahir secara teknis, tetapi rapuh secara etis dan reflektif.

AI dalam Pedagogi Kritis

Paulo Freire sejak lama mengingatkan bahaya pendidikan yang menempatkan peserta didik sebagai wadah kosong. Dalam Pedagogy of the Oppressed (1970), ia menegaskan bahwa pendidikan sejati adalah pendidikan hadap masalah, bukan sistem “bank” yang sekadar menimbun informasi. AI, dengan kemampuannya mengolah dan menyajikan pengetahuan dalam jumlah besar, sejatinya adalah bentuk paling canggih dari penimbunan informasi. Tanpa pendekatan pedagogi kritis, AI justru berpotensi memperkuat pendidikan yang pasif dan mekanistik.

Di titik inilah filosofi memasak menjadi relevan. Seorang anak yang belajar memasak tidak cukup hanya diajarkan cara menggunakan pisau, kompor, atau wajan. Ia juga harus belajar menahan panas api, berhati-hati terhadap minyak mendidih, mencium aroma masakan, meracik bumbu, dan memahami kapan harus mengaduk atau menunggu. Memasak adalah proses yang melibatkan rasa, intuisi, kesabaran, serta tanggung jawab—bukan sekadar memastikan makanan menjadi matang.

Demikian pula pendidikan di era AI. AI dapat menyediakan resep, takaran, bahkan simulasi hasil akhir. Namun, ia tidak dapat menggantikan pengalaman mengalami, merasakan, dan menimbang. Pendidikan tidak boleh berhenti pada kemampuan menghasilkan jawaban yang benar, tetapi harus menumbuhkan keberanian bertanya, kepekaan etis, dan kemampuan mengambil keputusan secara bertanggung jawab.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara memberikan fondasi normatif yang kokoh. Pendidikan, menurutnya, adalah proses “menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka sebagai manusia dan anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan yang setinggi-tingginya”. Pendidikan adalah proses kebudayaan—bukan mekanisme teknis yang mengejar hasil instan.

Dalam kerangka pedagogi kritis, AI harus diajarkan bukan hanya sebagai alat, tetapi juga sebagai objek refleksi. Peserta didik perlu memahami bagaimana AI bekerja, apa implikasi sosialnya, serta di mana batas-batasnya. Dengan demikian, AI tidak merampas keotentikan pengalaman belajar, melainkan memperkaya proses pembentukan manusia yang merdeka.

Pada akhirnya, kebijakan pemanfaatan AI dalam kurikulum pendidikan akan diuji bukan oleh kecanggihannya, melainkan oleh kebijaksanaannya. Pendidikan yang baik, seperti masakan yang baik, tidak lahir dari proses instan, melainkan dari kesabaran, ketepatan, dan kepekaan terhadap rasa.