Djadjang Nurdjaman: Hidup-Mati untuk Persib

7 November 2014, air mata jatuh membasahi Bandung. Air mata kebahagian, tepatnya. Betapa tidak, dahaga selama 20 tahun akhirnya tertuntaskan. Persib Bandung meraih gelar juara Indonesia Super League (ISL) 2014 setelah terakhir kali menggenggamnya pada Liga Indonesia (LI) 1994.
Menariknya, ada satu nama yang memiliki andil besar dari dua kejadian maha dahsyat bagi Bobotoh itu: Djadjang Nurdjaman.
Ya, bagi para Bobotoh yang belum lahir ketika Persib mengangkat trofi 20 tahun silam, ada baiknya meresapi ulasan ini dalam-dalam. Harapannya, tentu saja bisa mengetahui lebih jauh mengenai rekam jejak juru latih yang akrab disapa Djanur itu--sebelum menghakiminya.
Oke, mari kita mulai.
Sosok Djanur bagi para Bobotoh senior sama sekali tak asing lagi. Pria kelahiran Majalengka ini sudah memulai kiprahnya di dunia kulit bulat dari Bumi Pasundan pada usia 17 tahun dengan bergabung bersama klub anggota Persib.
Bakatnya langsung tercium sehingga dipercaya promosi ke tim utama Persib. Meski masih terhitung sebagai pemain muda, Djanur tak canggung. Menempati posisi sayap kiri, kecepatan menjadi senjata utamanya. Sayang, Persib harus terdegradasi ke Divisi I pada kompetisi Perserikatan 1978.
[Baca juga: Persib, Ferrari yang Tak Lagi Melaju Kencang]
[Baca juga: Seberkas Cahaya untuk Persib di Lini Belakang]

Berniat mencari petualangan baru, Djanur memutuskan untuk pindah ke Sari Bumi Raya Bandung pada 1979. Setahun berselang, klub itu kemudian pindah markas ke Yogyakarta dan berganti nama menjadi Sari Bumi Raya Yogyakarta.
Djanur tetap bertahan di sana. Selama dua musim menetap, ia memutuskan hijrah menuju Mercu Buana Medan hingga 1985. Akan tetapi, kecintaannya terhadap Persib tak dapat dipungkiri.
Pada 1985, Djanur kembali ke pangkuan Persib. Kali ini, ia tiba sebagai pemain yang matang. Buktinya, hanya semusim berselang, ia berhasil mempersembahkan gelar juara Perserikatan pada 1986.
Djanur pula yang menjadi protagonisnya lewat lesatan satu golnya ke gawang Perseman Manokwari di partai final. Djanur kembali membawa Persib juara untuk kali kedua pada musim 1989/90.
Pensiun sebagai pemain, kariernya kemudian berlanjut sebagai asisten pelatih Persib. Ketika itu, Djanur menjadi anak buah dari pelatih legendaris Indra M. Thohir. Pada musim pertamanya duduk di belakang layar, Djanur ikut andil dalam memberikan gelar juara Persib di LI 1994. Setelah itu, ia melanjutkan kariernya sebagai pelatih Persib Junior (U-23).
Djanur kembali diminta menjadi asisten pelatih Persib pada 2007 di bawah kendali Arcan Iurie. Hanya semusim bertahan di sana, ia kemudian pindah ke Pelita Jaya mendampingi Fandi Ahmad hingga 2010.
Pada 2011, hengkangnya Fandi memberikan berkah bagi Djanur. Untuk kali pertama dalam kariernya, ia diangkat sebagai pelatih kepala. Ketika itu, Pelita dibawanya selamat dari jeratan degradasi.
Takdir membawanya kembali ke Persib pada 2013. Hanya butuh satu musim bagi Djanur untuk mewujudkan gelar juara bagi para Bobotoh. Saat itu, ISL berformat liga unifikasi dari Indonesia Premier League (IPL) sehingga menggunakan kompetisi dua wilayah. Persib kemudian memenangi laga adu penalti melawan Persipura Jayapura dalam laga puncak di Palembang.
Pada 2015, rasa percaya diri tinggi kembali membuat Persib menargetkan gelar juara. Akan tetapi, saat itu liga terhenti menyusul pembekuan oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) yang diikuti sanksi FIFA. Kendati demikian, Djanur tetap mampu memberikan trofi bagi tim asuhannya dengan menjuarai Piala Presiden 2015.
Merasa masih membutuhkan ilmu kepelatihan, Djanur kemudian dikirim untuk mengasah olah taktiknya di klub akademi Inter Milan. Selama tiga bulan, Djanur berada di "Negeri Pizza".
Pengalaman dari Italia itu lantas dibawanya sebagai modal menjalani musim 2017. Di Gojek Traveloka Liga 1, Djanur pun diberikan amunisi maksimal berupa deretan pemain bintang. Mulai dari mantan pemain Premier League seperti Michael Essien dan Carlton Cole hingga bintang lokal semacam Raphael Maitimo.
Meski demikian, ekspetasi tinggi nyatanya tak sesuai realita. Hingga pekan kesembilan, Persib malah tercecer di posisi ke-11. Meraih dua kekalahan beruntun dari dua partai terakhir. Djanur lah yang kemudian menjadi sasaran tembak utama. Tagar #DjanurOut menggema untuk kesekian kalinya.
Apakah pencapaian Persib sejauh ini semata-mata karena kesalahan Djanur?
Namun, apapun itu, jangan pernah meragukan kecintaannya terhadap Persib. Darahnya mungkin sudah biru sebelum tagar buatan generasi Milenial itu berseliweran.
