Bouea macrophylla Memiliki Manfaat Tersembunyi di Balik Buah Langka Nusantara

Pharmacy Major on State Islamic University Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Haikal Ramadhan tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pasar-pasar tradisional Jakarta beberapa dekade lalu, ada buah kecil berwarna kuning kemerahan yang dijual dalam keranjang anyaman bambu, rasanya asam segar dengan sedikit manis, sering dimakan langsung atau dijadikan asinan. Namanya gandaria. Hari ini buah itu hampir menghilang dari peredaran, padahal penelitian terbaru membuktikan bahwa Bouea macrophylla manfaat kesehatannya jauh melampaui sekadar camilan pinggir jalan.
Bouea macrophylla Manfaat Kesehatan yang Mulai Terungkap oleh Sains
Bouea macrophylla Griffith adalah pohon buah tropis asli Asia Tenggara yang di Indonesia dikenal sebagai gandaria, di Malaysia disebut kundang atau plum mango, dan di Thailand dikenal sebagai maprang. Tanaman ini tumbuh secara komersial di kawasan ASEAN termasuk Malaysia, Thailand, dan Indonesia, namun keberadaannya di pasar modern semakin langka karena kalah bersaing dengan buah-buah impor.
Tanaman ini kaya akan metabolit sekunder termasuk flavonoid, tanin, senyawa polifenol, dan banyak lainnya. Berkat komponen bioaktif ini, plum mango memiliki antioksidan kuat yang memberikan manfaat terapeutik untuk berbagai penyakit umum termasuk penyakit kardiovaskular, diabetes, dan kanker.Bukan buah biasa yang sekadar menyegarkan. Ini buah dengan profil farmakologis yang sedang serius diteliti para ilmuwan.
Antioksidan Tinggi yang Tersimpan di Setiap Gigitannya
Kandungan antioksidan adalah keunggulan utama gandaria yang paling banyak terdokumentasi dalam literatur ilmiah.
Analisis fitokimia mengungkapkan kandungan total fenolik yang tinggi pada ekstrak B. macrophylla, sebesar 88,78 mg GAE/g dan kandungan flavonoid sebesar 70,66 mg RE/g. Analisis fitokimia kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak etanol mengandung jumlah senyawa fenolik dan flavonoid yang signifikan, mengkonfirmasi sifat antioksidannya.
Angka ini bukan sekadar data laboratorium. Senyawa fenolik dan flavonoid dalam kadar setinggi ini diketahui berperan dalam menangkal radikal bebas yang menjadi pemicu utama penuaan sel, peradangan kronis, dan berbagai penyakit degeneratif. Buah ini terbukti mengandung kadar tinggi senyawa antioksidan seperti flavonoid, polifenol, vitamin C, dan konstituen fitokimia lainnya.
Potensi untuk Jantung dan Kolesterol
Salah satu temuan paling menarik dari penelitian terbaru adalah potensi gandaria dalam membantu profil lipid tubuh. Ekstrak etanol buah Bouea macrophylla menunjukkan efek hipolipidemik dan antioksidan yang bergantung pada dosis, serta berpotensi sebagai kandidat terapi alami untuk memperbaiki gangguan profil lipid yang disebabkan oleh kerusakan hati yang dipicu secara kimiawi.
Dalam bahasa yang lebih sederhana, gandaria berpotensi membantu menurunkan kadar lemak jahat dalam darah sekaligus melindungi hati dari kerusakan oksidatif. Dua manfaat sekaligus dari satu buah yang selama ini kita anggap remeh.
Antibakteri hingga Antikanker
Potensi gandaria tidak berhenti di antioksidan dan kolesterol saja. Kandungan bioaktifnya meliputi polifenol, tanin, flavonoid, karbohidrat, steroid, triterpenoid, minyak tetap, saponin, dan alkaloid, yang menunjukkan aktivitas antikanker dan antimikroba yang potensial.
Penelitian 2025 yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bahkan mengeksplorasi potensi sitotoksik fraksi etil asetat dari kulit batang gandaria terhadap sel kanker payudara MCF-7. Ini adalah sinyal kuat bahwa tanaman yang nyaris terlupakan ini menyimpan senyawa aktif yang menarik perhatian para peneliti onkologi.
Sementara itu, tanaman dari genus Acmella dan Spilanthes yang tumbuh berdampingan di kawasan tropis yang sama memiliki sejarah panjang penggunaan dalam pengobatan tradisional menunjukkan bahwa keanekaragaman hayati Asia Tenggara, termasuk Indonesia, menyimpan potensi farmakologis yang belum sepenuhnya tergali.
Tidak Hanya Buahnya, Seluruh Tanamannya Bermanfaat
Yang membuat gandaria semakin menarik dari sudut pandang farmakologi adalah fakta bahwa hampir seluruh bagian tanamannya memiliki potensi kesehatan.
Manfaat menguntungkan dilaporkan dari buah, daun, dan biji tanaman ini. Daun umumnya dikonsumsi mentah sebagai salad di Malaysia dan bagian lain Asia, sementara buahnya biasanya digunakan dalam pembuatan selai, minuman, dan rojak.
Di Indonesia, daun muda gandaria secara tradisional dimakan sebagai lalapan segar. Kini kita tahu bahwa kebiasaan itu bukan sekadar tradisi kuliner, tapi juga praktik kesehatan yang secara tidak sadar sudah dilakukan nenek moyang kita selama berabad-abad.
Mengapa Gandaria Hampir Hilang dan Apa yang Bisa Kita Lakukan
Ironisnya, di tengah semua potensi ilmiah yang sedang terungkap ini, pohon gandaria justru semakin sulit ditemukan. Modernisasi pertanian, alih fungsi lahan, dan preferensi pasar yang bergeser ke buah-buah populer telah mengancam keberadaan tanaman ini di banyak daerah.
Padahal gandaria adalah tanaman asli Nusantara yang sudah tumbuh di sini jauh sebelum supermarket menjual buah impor. Pelestarian gandaria bukan sekadar urusan nostalgia atau konservasi lingkungan. Ia adalah investasi untuk masa depan riset farmasi berbasis kearifan lokal yang sedang membutuhkan bahan baku yang terus tumbuh dan tersedia.
