Konten dari Pengguna

Dua Kaki, Satu Kepentingan: Membaca Kalkulasi Turki dalam Perang Rusia-Ukraina

Hamanda Laudya Ariani

Hamanda Laudya Ariani

Mahasiswa Ilmu Hubungan Internasional di Universitas Sriwijaya.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hamanda Laudya Ariani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bendera Ukraina, Turki, dan Rusia
zoom-in-whitePerbesar
Bendera Ukraina, Turki, dan Rusia

Ketika negara-negara Barat berlomba menjatuhkan sanksi terhadap Rusia pasca pecahnya Perang Rusia-Ukraina, Turki justru mengambil jalur yang tampak ganjil. Di satu sisi, Ankara memasok drone tempur ke Ukraina dan menunjukkan dukungan terhadap kedaulatan Kiev. Namun di sisi lain, hubungan ekonomi, energi, dan diplomatik dengan Moskow tetap terjaga, bahkan relatif stabil di tengah eskalasi konflik. Posisi ini menempatkan Turki di persimpangan yang tidak nyaman sekaligus strategis: bukan sepenuhnya berpihak, tetapi juga tidak benar-benar netral. Lantas, apakah sika “dua kaki” ini mencerminkan inkonsistensi kebijakan luar negeri, atau justru sebuah strategis yang terukur dan disengaja?

Strategi dua kaki Turki dalam perang Rusia-Ukraina bukanlah bentuk kebingungan arah, melainkan kalkulasi pragmatis untuk memaksimalkan kepentingan nasional. Dengan tetap menjaga hubungan dengan Rusia sambil mendukung Ukraina secara terbatas, Turki berupaya mengamankan kepentingan ekonomi dan energinya, meningkatkan leverage diplomatik di antara dua kubu, serta menegaskan diri sebagai kekuatan otonom di tengah tatanan global yang semakin multipolar.

Di balik manuver diplomatiknya, kalkulasi Turki dalam perang ini sangat ditentukan oleh kepentingan ekonomi dan energi yang bersifat struktural. Ketergantungan Turki terhadap Rusia tidak dapat diabaikan, terutama dalam sektor gas alam yang menyuplai sebagian besar kebutuhan domestik. Selain itu, Rusia juga memainkan peran penting dalam sektor pariwisata dan investasi strategis, termasuk pembangunan pembangkit listrik tenaga nuklir di Akkuyu. Dalam konteks ini, bergabung dengan rezim sanksi Barat bukan hanya berisiko secara politik, tetapi juga berpotensi mengguncang stabilitas ekonomi dalam negeri Turki.

Keputusan untuk tetap menjaga hubungan dengan Moskow bukanlah bentuk keberpihakan ideologis, melainkan langkah rasional untuk menghindari kerugian ekonomi yang signifikan. Namun, yang menarik adalah bagaimana Turki tidak berhenti pada sekadar mempertahankan status quo. Dengan tetap membuka jalur kerja sama ekonomi sembari mengambil posisi terbatas dalam mendukung Ukraina, Turki justru mengubah ketergantungan tersebut menjadi ruang manuver. Dalam hal ini, strategi dua kaki tidak hanya berfungsi sebagai mekanisme bertahan, tetapi juga sebagai cara untuk memaksimalkan keuntungan di tengah ketidakpastian global.

Di luar kepentingan ekonomi, strategi dua kaki juga memberi Turki keuntungan signifikan dalam bentuk leverage geopolitik. Sebagai anggota NATO sekaligus negara yang tetap menjaga hubungan fungsional dengan Rusia, Turki menempati posisi yang tidak dimiliki oleh banyak aktor lain dalam perang Rusia-Ukraina. Ketika sebagian besar negara Barat memutus jalur komunikasi dengan Moskow, Turki justru mempertahankan akses diplomatik ke kedua belah pihak.

Posisi ini memungkinkan Turki untuk memainkan peran sebagai mediator, sebagaimana terlihat dalam kesepakatan Black Sea Grain Initiative yang membuka kembali jalur ekspor gandum dari Ukraina melalui Laut Hitam. Selain itu, dukungan militer terbatas kepada Ukraina, seperti pengiriman drone Bayraktar TB2, memastikan bahwa Turki tetap relevan dalam kerangka aliansi Barat tanpa harus sepenuhnya memutus hubungan dengan Rusia.

Lebih dari sekadar menjaga keseimbangan, strategis ini secara aktif meningkatkan daya tawar Turki di panggung internasional. Dengan menjadi satu dari sedikit negara yang dapat berbicara dengan kedua pihak, Turki tidak hanya mempertahankan relevansinya, tetapi juga memperluas pengaruhnya dalam menentukan dinamika konflik. Dalam konteks ini, dua kaki bukanlah posisi pasif, melainkan instrumen untuk mengakumulasi kekuatan diplomatik.

Lebih jauh, strategi dua kaki Turki tidak dapat dilepaskan dari ambisi jangka panjangnya untuk menegaskan diri sebagai kekuatan otonom dalam sistem internasional. Di bawah kepemimpinan Recep Tayyip Erdogan, kebijakan luar negeri Turki mengalami pergeseran dari orientasi pro-Barat yang kaku menuju pendekatan yang lebih fleksibel dan berbasis kepentingan nasional. Dalam konteks ini, keterlibatan dalam Perang Rusia-Ukraina menjadi ajang bagi Turki untuk menunjukkan bahwa ia bukan sekadar pengikut dalam aliansi Barat, melainkan aktor independen yang mampu menentukan posisinya sendiri.

Pendekatan ini mencerminkan karakter middle power yang berupaya naik kelas melalui strategi diversifikasi hubungan. Dengan tidak sepenuhnya berpihak pada satu kubu, Turki mengirimkan sinyal bahwa ia mampu beroperasi di luar dikotomi tradisional Barat versus Timur. Hal ini sekaligus memperkuat citra Turki sebagai negara yang adaptif dalam menghadapi dinamika global yang semakin kompleks.

Dalam kerangka yang lebih luas, strategi ini juga mencerminkan perubahan struktur sistem internasional menuju tatanan multipolar, di mana negara-negara tidak lagi terikat secara kaku pada satu blok kekuatan. Dengan demikian, langkah Turki bukan sekadar respons terhadap konflik, melainkan bagian dari upaya lebih besar untuk mengukuhkan perannya sebagai kekuatan regional dengan jangkauan global.

Meski tampak menguntungkan, strategi dua kaki Turki tidak lepas dari kritik. Di satu sisi, pendekatan ini dapat dilihat sebagai bentuk oportunisme, yaitu memanfaatkan konflik untuk meraih keuntungan tanpa benar-benar berkomitmen pada salah satu pihak. Dalam konteks aliansi, langkah Turki yang tetap menjaga hubungan erat dengan Rusia juga berpotensi menimbulkan ketegangan dengan mitra NATO yang mengedepankan solidaritas terhadap Ukraina. Hal ini memunculkan pertanyaan tentang sejauh mana kepercayaan dapat dipertahankan terhadap negara yang memainkan dua arah sekaligus.

Di sisi lain, strategi ini juga mengandung risiko jangka panjang. Dengan berusaha menjaga kedekatan dengan kedua pihak, Turki berpotensi kehilangan kepercayaan dari keduanya jika dianggap tidak konsisten atau terlalu kalkulatif. Selain itu, perubahan dinamika konflik yang tidak terduga dapat memaksa Turki untuk mengambil posisi yang lebih tegas, yang pada akhirnya justru mengurangi ruang manuver yang selama ini menjadi kekuatannya. Dengan demikian, strategi dua kaki tidak hanya menawarkan peluang, tetapi juga menempatkan Turki pada posisi yang rentan terhadap tekanan dari berbagai arah.

Salah satu spekulasi yang muncul adalah bahwa sikap Turki yang tetap menunjukkan kedekatan dengan Ukraina merupakan upaya untuk menjaga citra sebagai mitra Barat, khususnya dalam kaitannya dengan peluang aksesi ke Uni Eropa. Dalam logika ini, dukungan terbatas terhadap Ukraina dapat dibaca sebagai sinyal bahwa Turki masih sejalan dengan nilai dan kepentingan Eropa. Namun, asumsi ini perlu dilihat secara lebih kritis.

Proses aksesi Turki ke Uni Eropa telah lama mengalami stagnasi akibat berbagai hambatan politik dan normatif, mulai dari isu demokrasi hingga hak asasi manusia. Dalam konteks tersebut, kecil kemungkinan bahwa strategi Turki dalam Perang Rusia-Ukraina semata-mata didorong oleh ambisi untuk mempercepat keanggotaan. Lebih tepat jika posisi ini dipahami sebagai upaya menjaga fleksibilitas diplomatik dan kompatibilitas dengan Barat, tanpa harus menjadikannya sebagai tujuan utama. Dengan kata lain, Uni Eropa lebih berfungsi sebagai faktor pendukung dalam kalkulasi Turki, bukan sebagai pendorong utama kebijakannya.

Pada akhirnya, strategi dua kaki yang dijalankan Turki dalam Perang Rusia-Ukraina tidak dapat disederhanakan sebagai sekadar inkonsistensi atau sikap ambigu. Sebaliknya, ia mencerminkan kalkulasi pragmatis yang berakar pada kepentingan nasional, sekaligus ambisi untuk memainkan peran yang lebih besar di panggung internasional. Dengan memanfaatkan posisinya di antara Barat dan Rusia, Turki menunjukkan bahwa dalam sistem global yang semakin kompleks, keberpihakan tidak lagi selalu bersifat hitam-putih.

Lebih jauh, pendekatan ini mengisyaratkan perubahan pola dalam diplomasi kontemporer, di mana negara-negara tidak lagi terikat secara kaku pada satu blok kekuatan. Dalam dunia yang bergerak menuju tatanan multipolar, strategi abu-abu seperti yang dimainkan Turki mungkin bukan anomali, melainkan cerminan dari norma baru dalam politik internasional, di mana fleksibilitas dan kalkulasi kepentingan menjadi kunci utama dalam bertahan dan berpengaruh.