Matsuri: Lebih dari Sekadar Festival

Saya mahasiswi dari Universitas Kristen Indonesia jurusan Sastra Inggris.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Hana Ayoe tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di berbagai belahan dunia, banyak negara yang masih kuat dalam menjaga tradisinya. Setiap negara punya sejarah dan kebiasaan unik yang bisa memberikan pengalaman budaya yang menarik dan berbeda. Tradisi-tradisi itu bukan hanya peninggalan masa lalu, tapi juga masih dijalani sampai sekarang dan jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Hal ini menunjukkan kalau budaya itu terus hidup dan bisa beradaptasi dengan zaman, tanpa kehilangan makna aslinya.
Salah satu negara yang dikenal dengan kekayaan budayanya adalah Jepang. Negara ini masih menjaga banyak tradisi lama yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Tradisi-tradisi ini tetap dijalankan dengan semangat, baik di kota besar maupun di desa kecil. Salah satu contoh tradisi yang masih sangat hidup adalah Matsuri (祭り), atau festival khas Jepang. Matsuri bukan cuma acara tahunan yang meriah, tapi sudah jadi bagian penting dari kehidupan masyarakat. Festival ini punya banyak makna, mulai dari keagamaan, kebersamaan, sampai identitas budaya.
Matsuri bukan hanya ajang untuk hiburan. Di balik kemeriahannya, ada semangat gotong royong dan rasa kebersamaan yang kuat. Warga ikut terlibat langsung, mulai dari menyiapkan acara sampai ikut dalam prosesi. Setiap orang punya peran, dan semuanya bekerja sama untuk membuat festival berjalan lancar. Karena itulah, Matsuri jadi lebih dari sekadar acara, tapi juga jadi simbol ikatan sosial dan warisan budaya yang terus dijaga dari generasi ke generasi.
Definisi, Sejarah, dan Jenis-jenis Matsuri
Dalam Bahasa Indonesia, Matsuri dapat diartikan sebagai festival atau perayaan. Namun, matsuri tidak hanya sebuah festival biasa, matsuri juga merupakan suatu tindakan untuk menyembah dewa. Seperti yang dijelaskan dalam buku Kojikiden (古事記), matsuri merujuk pada "kami ni tsukaematsuru koto (神につかえまつること)" yang berarti beribadah kepada dewa. Dengan kata lain, Matsuri adalah bentuk pengabdian dan persembahan masyarakat kepada kekuatan adikodrati yang dipercaya menjaga, melindungi, dan memberkahi kehidupan mereka.
Matsuri berasal dari kata matsuru (祀る) yang berarti menyembah atau memuja kami, roh dalam kepercayaan Shinto. Sejak awal, Matsuri merupakan bagian dari ritual Shinto yang mencakup penyucian (harai), persembahan, pembacaan doa (norito), dan pesta makan. Bentuk awalnya bisa dilihat dalam mitologi, seperti ritual di depan Amano Iwato. Beberapa bentuk matsuri tradisional seperti kigansai (doa individu di kuil) dan jichinsai (ritual sebelum pembangunan) masih dipraktikkan, sering kali secara tertutup oleh pendeta Shinto. Contohnya, kuil Ise Jingū menyelenggarakan matsuri eksklusif yang tidak terbuka untuk umum. Masuknya agama Buddha pada abad ke-6 memperkaya tradisi matsuri dengan unsur-unsur Buddhis, sehingga terbentuk perpaduan antara Shinto dan Buddha. Namun, seiring waktu, banyak Matsuri kehilangan makna religiusnya dan lebih banyak menjadi acara budaya atau hiburan semata.
Di tengah keberagaman bentuk dan maknanya, Matsuri hadir dalam berbagai variasi yang khas di tiap daerah. Di antaranya ada Awa Odori di Tokushima yang menampilkan tarian tradisional, Sendai Tanabata Matsuri dengan dekorasi bambu warna-warni, dan Aomori Nebuta Matsuri yang menampilkan lentera raksasa berbentuk dewa atau makhluk mitos. Lalu ada Festival Salju Sapporo di Hokkaido yang dikenal dengan patung-patung es raksasa, sedangkan Hakata Dontaku Matsuri di Fukuoka meriah dengan parade kendaraan hias dan penari bersendok kayu. Ada juga Festival Lentera Nagasaki, Kishiwada Danjiri Matsuri di Osaka, Tenjin Matsuri di Osaka, Gion Matsuri di Kyoto, dan Kanda Matsuri di Tokyo. Semuanya menawarkan pengalaman budaya Jepang yang unik dan meriah.
Fungsi Sosial Matsuri
Fungsi sosial matsuri tidak hanya sebagai upacara keagamaan untuk berkomunikasi dan berterima kasih kepada para dewa, tetapi juga memiliki makna sosial yang mendalam bagi masyarakat Jepang. Sebagaimana dijelaskan oleh Sumaya (2017), makna sosial adalah istilah yang digunakan untuk menerangkan suatu hal yang berhubungan dengan proses atau hasil dari interaksi sosial. Hal ini tercermin jelas dalam Matsuri, di mana masyarakat Jepang bersama-sama berpartisipasi dalam persiapan dan pelaksanaan festival, sehingga tercipta rasa kebersamaan, solidaritas, dan gotong royong di antara warga. Matsuri juga menjadi wadah bagi masyarakat untuk saling mengenal, berinteraksi, dan memperkuat ikatan sosial, baik di lingkungan desa maupun kota. Selain itu, bagi generasi muda, matsuri menjadi kesempatan untuk belajar berperan aktif dalam kelompok dan melatih diri dalam kehidupan bermasyarakat. Seiring perkembangan zaman, matsuri juga berfungsi sebagai hiburan yang meriah dan sarana pelestarian budaya lokal, sekaligus memperkuat identitas dan kebanggaan masyarakat Jepang terhadap tradisi mereka.
Di sisi lain, dengan ikut meramaikan acara, membantu persiapan, atau sekadar hadir dan menyaksikan jalannya festival, masyarakat bisa langsung merasakan dan memahami budaya yang tumbuh dalam lingkungan mereka. Seperti yang dijelaskan oleh Bestor (1993), partisipasi dalam Matsuri memungkinkan terjadinya sosialisasi budaya lintas generasi, mempertemukan anak-anak, orang dewasa, dan lansia dalam satu ruang sosial yang menghidupkan tradisi. Melalui aktivitas seperti latihan tarian, pembuatan ornamen, atau gladi resik parade, generasi tua menularkan keterampilan tradisional yang mungkin tidak lagi diajarkan di sekolah formal. Dengan begitu, Matsuri juga berperan sebagai ruang edukasi informal yang memperkaya identitas kultural anak muda. Identitas budaya dibentuk secara kolektif dan diwariskan dalam bentuk pengalaman yang tak terlupakan, menjadikan Matsuri sebagai ritual performatif yang menanamkan rasa memiliki terhadap budaya lokal.
Melihat Nilai Sosial dalam Perayaan Matsuri
Saat melihat perayaan matsuri di tahun 2023, terlihat jelas bagaimana semua orang ikut terlibat dengan semangat tinggi. Mulai dari pengusung mikoshi (kuil kecil yang diarak), panitia lokal, sampai penonton yang berdiri di pinggir jalan, semuanya terlihat antusias. Para pengusung mikoshi berjalan sambil berteriak kompak, saling menyemangati satu sama lain, menunjukkan kerja sama dan kekompakan. Penonton dan warga sekitar juga ikut menyiramkan air ke arah para pengusung. Tradisi ini bukan hanya untuk menyegarkan tubuh di tengah cuaca panas, tapi juga jadi bentuk kebersamaan antara warga dan peserta festival.
Kegiatan ini menunjukkan semangat gotong royong atau kyōryoku yang sangat penting dalam budaya Jepang. Suasana festival terasa hidup dan penuh energi, tapi juga punya makna mendalam. Mikoshi yang diarak dipercaya membawa roh dewa pelindung. Ketika mikoshi dibawa keliling, itu dianggap sebagai cara menyucikan lingkungan dan membawa keberuntungan bagi warga sekitar. Selain orang dewasa, banyak anak-anak dan lansia juga ikut terlibat. Ada yang membantu persiapan, ada yang menonton sambil menyemangati, dan ada juga yang ikut dalam barisan.
Hal ini menunjukkan bahwa Matsuri bukan cuma acara meriah tahunan, tapi juga jadi ruang berkumpulnya semua generasi. Orang-orang bisa saling bertemu, bekerja sama, dan menjaga tradisi bersama. Festival ini juga jadi momen penting untuk menunjukkan rasa hormat pada leluhur dan kebanggaan terhadap kampung halaman. Semangat dan kerja sama yang terlihat selama acara ini menunjukkan bahwa Matsuri adalah bagian penting dari kehidupan masyarakat, yang terus hidup dan diwariskan dari generasi ke generasi.
Matsuri telah berkembang menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat Jepang, bukan hanya sebagai perayaan, tetapi juga sebagai ruang sosial yang mempererat hubungan antargenerasi, memperkuat solidaritas, dan menjaga kesinambungan budaya di tengah arus modernisasi. Melalui partisipasi aktif dalam setiap tahapan festival, masyarakat tidak hanya melestarikan tradisi, tetapi juga membentuk identitas kolektif yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
