Konten dari Pengguna

Mengupas Dampak Positif dan Negatif Menikah Muda yang Saat ini Menjadi Tren

Hana Rahmawati

Hana Rahmawati

Saya adalah seorang mahasiswa ITB Ahmad Dahlan Jakarta angkatan 2020. Saya masih dalam tahap belajar menulis, jadi mohon bantuannya. Terimakasih

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hana Rahmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

https://www.shutterstock.com/image-photo/close-hand-muslim-groom-waering-wedding-2181231431
zoom-in-whitePerbesar
https://www.shutterstock.com/image-photo/close-hand-muslim-groom-waering-wedding-2181231431

Menikah merupakan sebuah ikatan yang akan dijalankan secara lahir batin oleh kedua pihak yaitu laki-laki dan perempuan. Pernikahan ini pada dasarnya dilakukan oleh orang-orang yang sudah memiliki kematangan dari segi finansial, segi fisik, mental dan psikologis. Pernikahan dilakukan guna mencapai keinginan untuk berkeluarga dan juga memiliki keturunan. Menikah dalam UU No.1 Tahun 1974 Pasal 7 ayat 1 menyebutkan bahwa perkawinan diizinkan apabila pihak pria sudah mencapai umur 19 tahun dan pihak perempuan mencapai umur 16 tahun. Yang kemudian di revisi kembali bisa dilakukan apabila pihak laki-laki dan pihak perempuan mencapai umur 19 tahun. Dilanjutkan dengan Pasal 2 yaitu menyatakan bahwa pernikahan masing-masing calon belum mencapai usia 21 tahun, harus mendapatkan izin dari kedua orang tua. Tren menikah muda saat ini paling banyak dicondongkan ke masyarakat terutama anak muda baik melalui sosial media maupun kajian religi. Diiringi dengan faktor lain yang menyebabkan terjadinya nikah muda di antaranya kondisi perekonomian dan pendidikan yang sudah matang hingga kemauan diri sendiri. Hal ini tentu saja meluncurkan beberapa dampak positif dan juga negatif bagi kedua pasangan nikah muda tersebut. Belum lagi jika dilihat dari segi sosiologi, psikologi dan biologis menikah muda dianggap rentan mendatangkan efek kurang baik pada rumah tangga. Mengupas dampak pertama adalah dampak positif atau keuntungan dari nikah muda. Nikah muda sendiri dinilai dapat menginspirasi hal-hal positif di mana remaja yang memilih untuk menikah muda pola pikirnya akan lebih cepat berubah di bandingkan dengan remaja biasanya, mereka yang nikah muda akan berhati-hati dalam bertindak serta dalam mengambil keputusan dan biasanya akan lebih mandiri dari kebanyakan remaja pada umumnya. Dari segi usia pun ini merupakan usia baik yaitu usia produktif baik bagi laki-laki maupun perempuan. Pasangan yang menikah muda akan mendapatkan waktu yang lebih lama untuk saling mendukung baik suka maupun duka, lebih banyak mencurahkan kasih sayang, juga menghemat pengeluaran di mana pasangan suami istri hanya akan menghabiskan waktu di rumah ketimbang di luar seperti kebanyakan remaja pada umumnya. Sementara itu ada juga dampak negatif atau kerugian dalam menikah muda di antaranya yaitu akibat masih tinginya ego dan kondisi emosi yang belum stabil sepenuhnya. Hal ini berkaitan dengan di saat teman-teman lain menghabiskan waktunya untuk berkelana, mengejar cita-cita, kuliah di luar negeri serta bekerja di tempat yang diingini namun akhirnya dikorbankan. Kemudian digantikan dengan mengurus rumah tangga di usia muda. Belum lagi dampak terhadap keluarga kedua belah pihak dan kekerasan dalam rumah tangga yang rentan terjadi. Sekian beberapa dampak positif dan negatif dalam menikah muda menurut saya, pada realitanya pernikahan dini memang bisa menghindari para remaja melakukan hal-hal yang tidak diinginkan, namun jika dilihat banyak juga dampak negatif yang akan ditimbulkan sebab pernikahan tersebut tidak didasari dengan kemampuan dan kemandirian. Meskipun demikian, hal tersebut bukan menutup kemungkinan orang-orang yang ingin menikah muda. Menikah boleh kapan saja yang terpenting kita baik dari segi ekonomi, mental, fisik dan materi siap untuk menjalani sebuah hubungan pernikahan. Karena pernikahan bukan suatu hubungan yang dapat dijalankan dengan main-main dan juga bukan hanya alasan untuk menghindari diri dari zina.