Pemutus Rantai Kemiskinan: Giat Belajar dan Merantau

Handriadi Iswardani (Handry Wardani), saat ini mengajar di Ponpes Darul Qur'an Wal Hadits OKU Timur, dan aktif juga di Universitas PGRI Palembang sebagai dosen LB.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Handriadi Iswardani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Giat Belajar dan Berani Merantau sebagai Jalan Mengurangi Kemiskinan
Kemiskinan bukanlah persoalan kecil bagi sebuah negara. Ia merupakan masalah besar yang membutuhkan perhatian dan kerja sama dari banyak pihak. Upaya mengatasinya tentu tidak hanya menjadi tugas pemerintah semata, tetapi juga masyarakat. Salah satu kontribusi sederhana yang bisa dilakukan adalah melalui tulisan yang mengajak pembaca untuk berpikir dan bertindak lebih baik.
Tulisan yang baik sering kali mampu menyentuh hati. Dari sanalah lahir motivasi baru bagi pembacanya untuk memperbaiki kehidupan. Dalam konteks pengentasan kemiskinan, ada dua hal sederhana yang layak mendapat perhatian, yaitu giat belajar dan berani merantau.
Pertama, penting bagi semua pihak—pemerintah, guru, maupun orang tua—untuk menumbuhkan kesadaran kepada generasi muda bahwa belajar adalah tugas utama mereka. Kesadaran ini perlu ditanamkan sejak pendidikan dasar hingga perguruan tinggi.
Namun, belajar seharusnya tidak selalu dipandang sebagai sesuatu yang berat. Belajar juga bisa menjadi aktivitas yang menyenangkan. Membaca buku, bertanya kepada guru atau dosen, serta mencari pengetahuan baru dapat memberikan kepuasan tersendiri. Banyak orang yang gemar membaca bahkan merasa bahagia ketika berada di tengah buku-buku yang mereka sukai.
Kedua, merantau sering kali menjadi jalan bagi seseorang untuk meraih peluang yang lebih besar. Merantau tidak selalu berarti pergi dari desa ke kota. Bahkan orang yang tinggal di kota pun sering berpindah ke kota lain demi mencari kesempatan yang lebih baik.
Hal ini terjadi karena tidak semua kemampuan atau latar belakang pendidikan seseorang dibutuhkan di tempat asalnya. Terkadang, kemampuan tersebut justru lebih dibutuhkan di daerah lain.
Dalam kehidupan, skill dan ijazah sering kali berjalan bersama, tetapi tidak selalu demikian. Ada orang yang memiliki keterampilan tinggi tanpa ijazah formal, namun tetap berhasil karena kemampuannya. Sebaliknya, ada pula yang memiliki ijazah sekaligus keterampilan sehingga peluang suksesnya lebih besar.
Persoalan yang sering terlihat di Indonesia adalah banyak lulusan yang memiliki ijazah, tetapi belum memiliki keterampilan yang memadai. Selain itu, tidak sedikit pula yang enggan keluar dari daerah asal untuk mencari peluang baru.
Karena itu, kesadaran untuk giat belajar dan berani merantau menjadi hal penting bagi generasi muda. Dengan belajar sungguh-sungguh, seseorang dapat memperoleh pengetahuan, keterampilan, sekaligus gelar pendidikan. Ketika bekal tersebut sudah dimiliki, peluang keberhasilan akan semakin terbuka, meskipun harus ditempuh dengan bekerja di berbagai daerah di Indonesia, dari Sabang sampai Merauke.
Kita dapat melihat contoh dari tokoh-tokoh nasional. B. J. Habibie, Presiden ketiga Indonesia, sejak muda dikenal sebagai sosok yang sangat tekun belajar hingga akhirnya menempuh pendidikan di Jerman. Begitu pula dengan Mahfud MD, yang merantau dari kampung halamannya di Sampang, Madura menuju Yogyakarta untuk menempuh pendidikan. Kegigihan belajar dan keberanian merantau menjadi bagian dari perjalanan mereka menuju keberhasilan.
Pembahasan mengenai kemiskinan tentu tidak bisa selesai hanya dalam satu tulisan. Namun setidaknya, gagasan tentang pentingnya giat belajar dan berani merantau dapat menjadi salah satu sudut pandang dalam upaya mencari jalan keluar dari persoalan tersebut.
