Konten dari Pengguna

Gangguan Tidur Narkolepsi serta Hubungannya dengan Hypocretin

Hanifah

Hanifah

Hanifah. Mahasiswi semester 1. Jurusan Psikologi. Universitas Brawijaya, Malang.

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber : Pinterest
zoom-in-whitePerbesar
Sumber : Pinterest

Setiap orang membutuhkan istirahat untuk mengembalikan energi yang telah terpakai setelah seharian beraktivitas. Tidur merupakan salah satu cara terbaik untuk mengembalikan energy tubuh agar menjadi segar kembali. Durasi tidur yang dibutuhkan setiap orang bervariasi tergantung usia. Misalnya untuk bayi yang baru lahir membutuhkan 14-17 jam setiap hari. Untuk usia dewasa, lebih sedikit dari yaitu 7-9 jam setiap hari. Tubuh akan menjadi segar kembali jika jam tidur terpenuhi dengan baik. Akan tetapi tidak semua orang dapat tidur sesuai jam tidur tersebut karena beberapa alasan tertentu. Misalnya sesuatu terkait aktivitas ataupun gangguan tidur yang dialami. Gangguan tidur merupakan suatu kondisi saat seseorang mengalami kelainan pada tidurnya sehingga akan berpengaruh kepada kualitas tidur. Terdapat berbagai macam gangguan tidur, salah satunya yaitu narkolepsi.

Pengertian Narkolepsi

Narkolepsi adalah suatu penyakit neurologis atau kelainan pada sistem saraf berupa kesulitan dalam mempertahankan bangun dan tertidur. Ditandai dengan serangan kantuk yang tak tertahankan di siang hari, kehilangan otot bilateral secara tiba-tiba, halusinasi hipnagogik, dan kelumpuhan tidur.

Hampir seperempat dewasa muda mengalami kantuk yang berlebihan pada siang hari. Keluhan seseorang yang mengalami gangguan tidur narkolepsi biasanya adalah kantuk yang tidak bisa ditahan sehingga hal ini berakibat pada menurunnya produktivitas.

Hingga saat ini penyebab terjadinya narkolepsi belum diketahui secara pasti. Akan tetapi, pada sebagian besar penderita narkolepsi memiliki kadar hypocretin yang rendah. Penyebab rendahnya kadar hypocretin pada otak tidak diketahui, namun hal ini diduga karena reaksi autoimun. Genetik dapat berperan dalam perkembangan gangguan tidur narkolepsi.Namun, diketahui resiko seorang anak mengalami gangguan tidur yang diwariskan dari orangtuanya sangat rendah, yaitu sekitar 1%.

Narkolepsi digambarkan sebagai kantuk pada siang hari yang berlebihan dan disebabkan oleh cataplexy dan fenomena REM (Rapid Eye Movement). Pada definisi yang lebih luas, narkolepsi disebut sebagai suatu gangguan tidur dengan kantuk dan tidur REM yang abnormal, seperti sleep onset REM periode selama multiple sleep latency test, sleep paralysis ataupun halusinasi hipnagogik.

Pada proses tertidur yang normal, tidur dimulai dari fase yang disebut dengan non-rapid eye movement (NREM). Selama fase NREM, gelombang otak melambat, dan setelah satu jam aktivitas otak akan berubah dan akan berlangsung fase tidur REM.

International Classification of Sleep Disorders, membagi narkolepsi menjadi dua, yaitu narkolepsi dengan cataplexy (tipe 1) dan narkolepsi tanpa cataplexy (tipe 2). Narkolepsi tipe 1 , dapat langsung didiagnosa. Berbeda dengan narkolepsi tipe 2 yang diagnosanya sering sulit karena hasil diagnosanya harus di uji dan batasannya pun perlu dipahami.

Gejala-gejala narkolepsi

Serangan tidur

Serangan tidur menyebabkan penderita narkolepsi dapat tertidur kapan pun dan dimana pun secara tiba-tiba. Serangan tidur dengan rasa kantuk yang berlebihan membuat penderita narkolepsi kesulitan untuk mengendalikan konsentrasi dan kesadaran agar tetap terjaga. Rasa kantuk tidak hanya muncul dalam situasi seperti diam monoton ataupun setelah makan banyak, tapi juga dalam situasi yang tidak terduga seperti saat penderita sedang mengerjakan tugas, bekerja, dan sebagainya. Durasi tertidur seorang penderita narkolepsi sangat beragam, mulai dari beberapa detik hingga beberapa menit atau bahkan satu jam jika berada di posisi yang nyaman. Ketika bangun, penderita narkolepsi akan merasa segar dalam beberapa jam sebelum episode tidur selanjutnya terjadi. Tidur seperti inilah yang membedakan penderita narkolepsi dengan idiopathic hypersomnia dimana penderitanya mengalami tidur lama tapi tidak menyegarkan.

Cataplexy

Cataplexy atau dikenal juga dengan melemahnya otot secara tiba-tiba, terjadi pada 60% hingga 70% penderita narkolepsi. Cataplexy paling sering disebabkan oleh emosi kuat seperti marah, tertawa, serta terkejut. Akan tetapi, cataplexy biasanya lebih terpicu oleh emosi positif seperti tertawa. Situasi tersebut melibatkan rangkaian otot voluntary atau dikenal juga dengan otot sadar. Gejala cataplexy biasanya dikenal dengan kelopak mata terkulai, rahang jatuh, kepala jatuh kesamping, serta berbagai otot bergerak tanpa penyebab yang jelas. Cataplexy sering disalahartikan sebagai kejang pada saat episode yang terjadi cukup parah. Selama serangan cataplexy, masih memiliki kesadaran.

Sleep paralysis

Pada kasus sleep paralysis, penderita tidak dapat berbicara dan merasakan dirinya lumpuh atau tidak bisa menggerakkan tubuhnya serta harus bernapas dalam-dalam. Seseorang yang mengalami sleep paralysis sepenuhnya sadar dan mengingat hal yang dialami. Namun, pada kondisi ini, seringkali disertai dengan halusinasi sehingga hal ini menyebabkan penderita merasa sangat cemas.

Halusinasi

Penderita dapat mengalami halusinasi hipnagogik seperti mendengar ataupun melihat sesuatu selama proses tidur singkat pada siang hari dan malam hari. Halusinasi juga bisa terjadi saat bangun yang dikenal dengan hypnopompic hallucination. Halusinasi semacam ini menjadi karakteristik yang lebih kuat terhadap terjadinya narkolepsi daripada halusinasi hipnagogik yang terjadi pada saat tidur. Halusinasi tediri dari halusinasi visual dan halusinasi pendengaran serta beberapa halusinasi indera lainnya. Akan tetapi halusinasi dengan indera lainnya jarang sekali terlibat.

Gangguan tidur

Seseorang yang mengalami narkolepsi biasanya merasakan tidur malam yang bersifat fragmentatif. Pada saat tidur malam sering mengalami gangguan seperti terbangun berulang kali dan kadang disertai dengan mimpi buruk. Seseorang dengan narkolepsi, sering mengeluh mengalami kesulitan tidur pada malam hari walaupun mereka bisa tidur berkali-kali pada siang hari.

Keterlibatan Hypocretin dalam Narkolepsi

Hypocretin atau juga dikenal dengan orexin adalah neuropeptide yang mengatur gairah, terjaga dan nafsu makan. Bentuk paling umum dari narkolepsi tipe 1, dimana penderita narkolepsi mengalami kehilangan tonus otot atau cataplexy yang disebabkan oleh kekurangan hypocretin di otak karena kerusakan sel-sel yang memproduksinya. Beberapa hal yang menyebabkan kerusakan bagian otak penghasil hypocretin, yaitu tumor otak, cedera pada kepala, ensefalitis, multiple sclerosis.

Studi terbaru menunjukkan bahwa peran utama sistem hypocretin adalah untuk mengintegrasikan pengaruh metabolisme, sirkandian, dan hutang tidur untuk menentukan apakah hewan harus tidur atau terjaga dan aktif.

Para peneliti menggunakan model hewan untuk mempelajari narkolepsi. Hingga pada suatu penelitian, ditemukan bahwa mutasi reseptor orexin menyebabkan gangguan tidur narkolepsi pada anjing di Doberman Pinschers yang kemudian menunjukkan peran utama sistem ini dalam regulasi tidur. Tikus yang kekurangan gen orexin, juga diketahui menunjukkan gejala narkolepsi. Pada penderita narkolepsi, mekanisme seperti patofsiologi dengan HLA yang kuat sering melibatkan perubahan autoimun pada sel yang mengandung hypocretin di dalam CNS atau sistem saraf pusat.

Penanganan Narkolepsi

Untuk pengobatan, hingga saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan narkolepsi sepenuhnya. Penanganan narkolepsi memang mengalami perkembangan, akan tetapi semua penangan yang dilakukan masih berdasarkan gejala. Kantuk pada siang hari yang berlebihan diterapi dengan stimulan seperti amphetamine dan modafinil. Obat tersebut dapat mengurangi rasa kantuk di siang hari namun efeknya kecil terhadap cataplexy dan tidur REM abnormal. Untuk anti kataplektik penanganan yang sering digunakan, yaitu obat anti depresi yang berhasil meredam cataplexy dan tidur REM abnormal, namun tetap tidak menghilangkan kantuk siang hari. GHB (gamma hydroxybutyric acid) atau sodium oxybate adalah obat yang baru disahkan dan efektif untuk mengurangi gangguan tidur nocturnal, cataplexy, dan kantuk di siang hari.

Daftar Pustaka:

Sahidu, M.G., Afif, Z. (2020). Narkolepsi: Patofisiologi, Diagnosis dan Manajemen. Jurnal Kedokteran, 9(1):1-12. Retrived from http://jku.unram.ac.id/index/ISSN 2301-5977, e-ISSN 2527-7154

Halodoc. Narkolepsi. Diakses pada Desember 17, dari https://www.halodoc.com/kesehatan/narkolepsi

Alodokter. Narkolepsi. Diakses pada Desember 17, dari https://www.alodokter.com/narkolepsi

Wikipedia. Orexin. Diakses pada Desember 22, dari https://en.wikipedia.org/wiki/Orexin

Wikipedia. HLA-DQB1. Diakses pada Desemeber 22, dari https://en.wikipedia.org/wiki/HLA-DQB1