Konten dari Pengguna

Bercanda atau Bullying? Kenali Batasnya dalam Pertemanan

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Aulia A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"Kan cuma bercanda".

Kalimat seperti ini mungkin sering terdengar ketika seseorang merasa tersinggung karena perkataan atau perlakuan temannya. Bagi orang yang mengucapkannya, mungkin tidak ada niat untuk menyakiti. Namun, bagi orang yang menjadi sasaran, candaan tersebut belum tentu terasa lucu.

Dalam pertemanan, saling mengejek atau membuat lelucon memang sering dianggap sebagai hal biasa. Bahkan, ada yang suka bercanda soal gaya rambut, cara berbicara, kebiasaan, bahkan ada hal-hal kecil yang dilakukan temannya. Selama kedua pihak sama-sama nyaman, hal seperti ini mungkin tidak menjadi masalah.

Tapi, bagaimana kalau salah satunya mulai merasa malu, sakit hati, atau bahkan sengaja menghindari teman-temannya karena terus dijadikan bahan lelucon?

Sumber Foto : Diri Sendiri, Pada Saat Selesai Kuliah lalu Foto bersama Temanku.

Bercanda Memang Boleh, Tapi Ada Batasnya

Setiap kelompok pertemanan pasti punya gaya bercanda masing-masing. Ada yang kalau ketemu langsung saling mengejek, ada juga yang lebih suka bercanda lewat chat atau media sosial. Kadang malah semakin dekat pertemanannya, semakin bebas juga bahan bercanda yang digunakan.

Masalahnya, kedekatan bukan berarti kita bebas mengatakan apa saja.

Hal yang menurut kita lucu belum tetntu dianggap lucu oleh teman sendiri. Misalnya bercanda soal bentuk tubuh mungkin dianggap sepele oleh orang yag mengucapkannya. Tapi kalau orang yang menjadi sasaran ternyata sedang merasa tidak percaya diri dengan hal tersebut, candaan itu bisa terasa berbeda.

Begitu juga dengan masalah keluarga, kondisi ekonomi, penampilan, prestasi, atau kekurangan seseorang. Kalau sudah tahu bagian tersebut membuat teman tidak nyaman, sebaiknya jangan terus dijadikan bahan lelucon.

Kalau Sudah Bilang Tidak Suka, Kenapa Masih Dilanjutkan?

Menurutku, salah satu hal yang paling gampang dilihat adalah respon dari orang menjadi sasaran.

Kalau teman masih ikut tertawa dan memang menikmati candaan tersebut, mungkin memang tidak ada masalah. Tapi kalau dudah bilang, "jangan bercanda soal itu", lalu tetap dilakukan berkali-kali, tentu ceritanya menjadi berbeda.

Ada juga orang yang sebenarnya tersinggung, tetapi memilih ikut tertawa supaya tidak dianggap baper atau terlalu sensitif. Dari luar mungkin terlihat biasa saja, padahal belum tentu orang tersebut benar-benar merasa baik-baik saja.

Jadi jangan selalu menganggap sesorang yang tertawa berarti dia nyaman. Kadang orang tertawa hanya karena bingung harus merespons seperti apa.

Bullying Tidak Selalu Harus Memukul

Ketika mendengar kata bullying, mungkin yang langsung terbayang adalah seseorang yang dipukul, didorong, atau mendapatkan kekerasan fisik.

Padahal, bullying bisa muncul dalam bentuk lain. Mengejek terus-menerus, mempermalukan seseorang di depan banyak orang, memberikan julukan yang merendahkan, mengucilkan teman dari kelompok, sampai menyebarkan sesuatu untuk membuat orang lain malu juga perlu diperhatikan.

Sekarang bullying juga bisa terjadi melalui media sosial. Satu foto, video, atau komentar yang awalnya dianggap lucu bisa menyebar dan dilihat banyak orang.

Yang lebih sulit, jejak di internet tidak selalu mudah hilang. Sesuatu yang dibuat sebagai “candaan” beberapa menit bisa saja membuat orang lain merasa malu jauh lebih lama.

Lalu, Apakah Bullying Bisa Dibawa ke Ranah Hukum?

Kalau sudah membicarakan bullying, sebenarnya ada sisi hukum yang juga perlu diketahui. Tapi bukan berarti setiap orang yang mengejek temannya otomatis bisa dipidana.

Kita tetap perlu melihat apa yang dilakukan, bagaimana cara melakukannya, siapa yang menjadi korban, dan apa akibat yang ditimbulkan.

Apalagi kalau korbannya masih anak-anak. Ada aturan mengenai perlindungan anak yang perlu diperhatikan. Begitu juga dengan tindakan yang dilakukan melalui media sosial atau sarana elektronik karena bisa memiliki persoalan hukum tersendiri jika memenuhi unsur tertentu.

Jadi, jangan sampai kita menganggap semua tindakan sebagai “cuma bercanda” tanpa melihat dampaknya. Sebaliknya, kita juga tidak bisa langsung menyebut setiap candaan sebagai tindak pidana.

Yang paling penting adalah memahami batasnya terlebih dahulu.

Pertemanan yang Sehat Harusnya Bikin Nyaman

Bercanda sebenarnya bukan masalah. Justru tanpa bercanda, pertemanan mungkin akan terasa terlalu serius. Yang perlu diperhatikan adalah apakah candaan tersebut masih membuat semua orang nyaman atau hanya menguntungkan satu pihak.

Tidak ada salahnya saling mengejek selama memang sudah saling memahami batas. Tapi ketika teman sudah meminta berhenti, seharusnya permintaan tersebut dihargai.

Meminta maaf juga bukan berarti kita kalah. Kadang kita memang tidak sadar kalau perkataan sendiri ternyata membuat orang lain sakit hati.

Pada akhirnya, bercanda boleh saja. Tapi kalau candaan itu membuat seseorang merasa dipermalukan, tertekan, atau terus merasa dirinya tidak cukup baik, mungkin sudah waktunya kita berhenti dan melihat kembali batasnya.

Karena pertemanan seharusnya menjadi tempat untuk merasa nyaman, bukan tempat di mana seseorang harus berpura-pura tertawa hanya supaya tetap dianggap sebagai teman.

Sumber Foto : Diri Sendiri, Pada saat Covid-19 yang Mengharuskan Sekolah Jarak Jauh. dari sinilah kebersamaan terbentuk.