Konten dari Pengguna

Gen Z dan Close Friends; Kenapa Tempat Curhat Ini Terasa Lebih Nyaman?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Aulia A tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Gen Z punya cara sendiri dalam menggunakan media sosial. Salah satunya adalah memanfaatkan Close Friends sebagai tempat berbagi cerita, mulai dari hal-hal random, aktivitas sehari-hari, bahkan sampai curhat yang mungkin tidak ingin dibagikan kepada semua orang.

Bagi sebagian Gen Z, Close Friends terasa lebih nyaman karena hanya orang-orang tertentu yang bisa melihat apa yang mereka bagikan. Dibandingkan membuat unggahan yang bisa dilihat banyak orang, berbagi cerita di lingkaran kecil terkadang membuat seseorang merasa lebih bebas dan menjadi dirinya sendiri.

Sumber: foto Screenshot Instagram pribadi, Ada cerita yang rasanya lebih nyaman dibagikan hanya kepada orang-orang terdekat.
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: foto Screenshot Instagram pribadi, Ada cerita yang rasanya lebih nyaman dibagikan hanya kepada orang-orang terdekat.

Close Friends Bukan Cuma untuk Curhat.

Kalau mendengar kata Close Friends, mungkin yang langsung terpikir adalah tempat untuk membagikan cerita pribadi. Padahal, isinya tidak selalu tentang masalah atau curhatan.

Ada yang menggunakan Close Friends untuk mengunggah foto atau video random, membagikan kegiatan sehari-hari, membuat lelucon yang hanya dipahami teman dekat, sampai menunjukkan sisi diri yang jarang diperlihatkan di akun utama.

Kadang justru hal-hal sederhana seperti foto makanan, video ketika sedang malas, atau keluhan tentang tugas bisa masuk ke dalam Close Friends. Tidak harus sesuatu yang penting, yang penting orang-orang yang melihatnya adalah orang yang memang dianggap dekat.

Kenapa Lebih Berani Cerita di Close Friends?

Salah satu alasan Gen Z merasa nyaman menggunakan Close Friends adalah karena adanya rasa lebih aman. Ketika sebuah unggahan hanya dilihat oleh orang-orang yang sudah dipilih, seseorang biasanya tidak terlalu khawatir dengan penilaian dari orang lain.

Berbeda dengan unggahan di akun utama yang bisa dilihat oleh lebih banyak orang, Close Friends memberikan ruang yang lebih terbatas. Rasanya seperti sedang bercerita kepada sekelompok teman yang sudah dipercaya.

Hal ini juga membuat sebagian Gen Z lebih berani menunjukkan sisi diri yang sebenarnya. Kalau di media sosial kita sering merasa harus terlihat baik-baik saja, di Close Friends seseorang bisa lebih bebas menunjukkan ketika sedang lelah, kesal, senang, atau bahkan sedang tidak melakukan apa-apa.

Kadang Close Friends Juga Jadi Tempat Menyindir.

Selain menjadi tempat curhat, Close Friends terkadang juga digunakan untuk menyampaikan sesuatu secara tidak langsung.

Misalnya ketika seseorang sedang kesal dengan orang lain, tetapi tidak ingin menyampaikannya secara terang-terangan. Akhirnya, dibuatlah sebuah story yang hanya bisa dilihat oleh orang-orang tertentu.

Ada yang memang hanya ingin meluapkan emosi, tetapi ada juga yang berharap orang tertentu melihatnya. Hal seperti ini mungkin terlihat sepele, tetapi cukup sering terjadi di media sosial.

Meski begitu, tetap perlu berhati-hati. Tidak semua orang yang masuk daftar Close Friends benar-benar bisa menjaga cerita. Screenshot bisa saja menyebar dan sesuatu yang awalnya hanya diketahui oleh beberapa orang akhirnya diketahui lebih banyak orang.

Tapi Tetap Harus Tau Batas.

Walaupun terasa lebih aman, menggunakan Close Friends bukan berarti kita bebas membagikan apa saja tanpa memikirkan akibatnya.

Sebelum mengunggah sesuatu, tetap perlu dipikirkan apakah cerita tersebut memang aman untuk dibagikan. Apalagi jika menyangkut masalah pribadi, orang lain, atau sesuatu yang sebenarnya bisa menimbulkan masalah jika tersebar.

Kita juga tidak pernah benar-benar bisa memastikan apa yang terjadi setelah sebuah unggahan dibuat. Karena itu, tetap penting untuk menjaga privasi dan memilih dengan bijak siapa saja yang masuk dalam daftar Close Friends.

Sumber: foto Screenshot Instagram pribadi.

Ruang Kecil di Tengah Ramainya Media Sosial.

Pada akhirnya, Close Friends mungkin terlihat seperti fitur sederhana di media sosial. Namun bagi sebagian Gen Z, fitur tersebut bisa menjadi ruang kecil untuk berbagi cerita tanpa merasa harus selalu terlihat sempurna.

Di tengah media sosial yang sering membuat orang membandingkan kehidupannya dengan orang lain, memiliki ruang yang terasa lebih pribadi tentu bisa memberikan kenyamanan tersendiri.

Mungkin itu juga alasan mengapa banyak orang tetap menggunakan Close Friends meskipun sebenarnya bisa saja langsung mengunggahnya di akun utama.

Karena terkadang, kita memang tidak ingin semua orang tahu cerita kita. Kita hanya ingin bercerita kepada beberapa orang yang kita percaya.

Dan mungkin, itulah alasan Close Friends terasa berbeda. Bukan karena jumlah orang yang bisa melihatnya lebih banyak atau lebih sedikit, tetapi karena kita sendiri yang memilih siapa yang boleh masuk ke dalam ruang kecil tersebut.