Konten dari Pengguna

Analisis Apresiasi Cerpen Jen Karya Tiara Sari

Hanifah Izzati

Hanifah Izzati

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Hanifah Izzati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Foto Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Foto Pribadi

Apresiasi adalah bentuk penilaian (penghargaan) terhadap suatu karya dan merupakan fenomena kesenian yang bersifat individual dan monumental. Cerpen adalah cerita pendek yang masuk ke dalam kategori prosa dalam sastra. Apresiasi cerpen bisa dilakukan dengan menganalisis unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Adapun unsur intrinsik meliputi tema, tokoh, penokohan, alur, latar, sudut pandang, dan amanat. Sedangkan, unsur ekstrinsik yang dianalisis meliputi proses penciptaan karya sastra, latar belakang penulis, serta keadaan sosial.

Cerpen Jen dimuat di Padang Ekspres, pada tanggal 7 Februari 2016 dengan judul “Pertemuan di Sore Kelima” ditulis oleh Tiara Sari. Cerpen Jen merupakan salah satu judul yang terdapat pada buku kumpulan cerpen yang berjudul Perempuan - Perempuan Perawat Kenangan.

Tiara Sari seorang penulis berkelahiran Pariaman, 14 September 1992. Menghabiskan masa kecil hingga SMA di Pariaman dan melanjutkan kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Padang, Sumatera Barat. Penulis menyukai seni terutama seni rupa. Tulisan-tulisannya dimuat di Padang Ekspres, Singgalang, dan Haluan, serta tergabung dalam antologi bersama: Sambah, Ruang Rindu, Sajak-Sajak Anak Negeri, Terakota, GBSI 2015, Cimanuk: Ketika Burung-Burung Kini Telah Pergi, Kopi 1.550 MDPL, dan Aceh 5:03 6,4 SR. Perempuan - Perempuan Perawat Kenangan adalah kumpulan cerpen pertamanya.

Cerpen ini memiliki latar belakang sosial bahwa sosial bahwa di zaman sekarang masyarakat mengedepankan kesetaraan gender, salah satunya dalam pernyataan cinta yang bisa dilakukan oleh pihak perempuan maupun laki-laki.

Cerpen Jen bertemakan romansa kehidupan yang menceritakan kisah cinta segitiga antara tokoh Aku, Jen, dan Cein. Kisah cinta di bangku kuliah ini memiliki keunikan tersendiri. Berawal dari Jen yang mencintai sosok Aku menjadikan keberanian tersendiri untuk Jen mengungkapkan perasaannya. Pada sore itu Jen menelponku, dan meminta bertemu pada pukul 15.00 di kafe Vintage. Pertemuan itu adalah pertemuan kelima yang diminta untuk menjalin asmara bersamanya, tetapi di pertemuan kelima ini Aku memperlambat kedatangan dan membuat Jen menunggu selama 70 menit, air muka Jen berubah menggambarkan kemarahan namun tak ada kata-kata menyakitkan atau protes yang keluar dari bibirnya. Hanya membisu lalu langsung memesan kopi dan meminumnya dalam diam. Aku tahu dia menahan amarah namun tak bisa dipungkiri jika hatiku sudah memilih orang lain. Larut dalam pikiran masing-masing membuatku bimbang untuk memilih antara tetap setia dengan Cein yang sudah ku cintai tiga tahun belakangan ini dan menolakku sebanyak 10 kali atau membuka hati untuk Jen - sosok pemberani yang mencintaiku. Bandul jam di dinding kafe sudah menunjukkan angka 5, langit di luar mulai berwarna kuning ranum. Di saat ini tiba-tiba Jen tersenyum manis yang membuatku terpana dan pada saat itu juga aku memutuskan untuk menerima Jen, namun ada hal yang tak terduga yakni Jen mengungkapkan keputusannya untuk berhenti mencintaiku. Ketika Aku belum mengungkapkan untuk membalas perasaannya, Jen pergi dengan anggun berjalan keluar kafe.

Analisis tokoh dan penokohan dari cerpen Jen, tokoh utama ada pada Aku (berjenis kelamin laki-laki) yang penokohannya. Pertama, tidak peduli dipertegas pada “Keajaiban yang selalu diharap-harapkan oleh keluarga besarku agar dapat menopang gengsi di kalangan kenalan. Tapi, aku tidak peduli itu”. Kedua, adalah pantang menyerah dipertegas pada “Namun, semalam untuk yang ke-10 kalinya aku kembali ditolak Cein - gadis yang telah 3 tahun ku cintai”. Ketiga, tidak konsisten dipertegas pada “Apa mungkin sudah saatnya Jen menggantikan posisi Cein?”.

Tokoh kedua adalah Jen, sosok perempuan yang mencintai tokoh aku. Penokohannya yaitu Pertama, penyabar dipertegas pada “Aku ingin melihatnya marah, dan ku putuskan untuk membuatnya menunggu paling tidak satu jam”. Kedua, teguh pendirian dipertegas pada “Begitulah yang mungkin dialami gadis yang hingga sore ini, sore kelima ia memintaku menemuinya di kafe bergaya vintage yang berada di jantung kota”. Ketiga, pemberani dipertegas pada “Terus terang aku berhak bosan melihat keberaniannya sebagai seorang gadis yang mengajak lelaki keluar lantas menguak rasa dan meminta sebagai kekasihnya”.

Tokoh ketika adalah Cein, sosok gadis yang dicintai oleh tokoh Aku. Penokohan gadis ini adalah teguh pendirian karena sudah sepuluh kali menolak pernyataan cinta dari tokoh Aku. Hobi Cein adalah memotret wanita hamil tua dan mengunjungi galeri.

Pemakaian alur campuran, yakni alur maju yang digambarkan pada pertemuan di kafe Vintage antara tokoh Aku dan Jen yang membicarakan perasaan mereka, namun ditengah perbincangan terjadilah alur mundur yang disebabkan oleh tokoh Aku yang mengingat akan penolakan pernyataan cintanya semalam untuk yang kesepuluh kalinya kepada Cein.

Cerpen ini memakai kafe Vintage sebagai latar tempat pertemuannya Aku dan Jen, teras rumah dan trotoar merupakan latar tempat yang dilewati oleh tokoh Aku. Latar waktunya adalah sore pukul 15.30 WIB pertemuan di kafe sampai pukul 17.00 WIB. Dan latar suasana pada awalnya menegangkan karena Jen yang kesal sudah menunggu 70 menit di kafe, lalu seiring berjalannya waktu suasana berubah santai ketika ada topik pembicaraan dan menghadirkan senyuman dari Jen, namun diakhiri dengan suasana yang menyedihkan yakni perpisahan untuk Jen dan tokoh Aku.

Sudut pandang yang dipakai dalam cerpen ini adalah sudut pandang orang pertama pelaku utama, dibuktikan pada pemakaian kata Aku yang menceritakan seluruh peristiwa.

Amanat yang dapat dipetik adalah seorang perempuan yang memiliki keberanian untuk menyatakan perasaannya terlebih dahulu patut di apresiasi, namun perlu diingat bahwa cinta merupakan fitrah dari Tuhan yang harus dijaga, terlepas dari apapun jawabannya diterima atau ditolak maka harus diterima dengan lapang dada. Karena cinta bukan sesuatu yang bisa dipaksakan kehadirannya.

Cerpen Jen karya Tiara Sari ini memiliki kelebihan dalam menyajikan tema yang sesuai dengan kehidupan pada zamannya, cerita yang ringkas dan sederhana dengan latar yang runtut memudahkan para pembaca memahami dan menikmati cerita dan kekurangan dari cerpen ini adalah kurang spesifiknya penokohan Cein yang terkesan tiba-tiba muncul, dan alur cerita yang terlalu singkat menyebabkan banyak makna tersirat yang sulit dipahami oleh pembaca.