Penerapan Membaca Kritis dalam Menyusun Resensi

Mahasiswa UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Tulisan dari Hanifah Izzati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pada umumnya keterampilan berbahasa harus dimiliki oleh setiap manusia, karena keterampilan berbahasa memiliki keterkaitan dengan orang lain seperti dalam hal nya berkomunikasi. Adapun salah satu komponen berbahasa adalah keterampilan membaca. Masyarakat Indonesia memiliki minat baca terendah, bahkan menempati urutan ke-71 dari 77 negara. Hal ini membuktikan kurangnya kesadaran dalam minat membaca.
Menurut KBBI dapat diartikan bahwa keterampilan membaca merupakan suatu keahlian yang bisa dilakukan, sedangkan membaca adalah melihat serta memahami makna isi dari apa yang tertulis, mampu melisankan atau hanya dalam hati. Sedangkan, kritis merupakan keterampilan membaca yang dapat dimaknai untuk selalu berusaha menemukan kesalahan dan kekeliruan. Membaca merupakan suatu kegiatan atau proses kognitif yang berupaya untuk mendapatkan berbagai informasi melalui tulisan (Dalman, 2014: 5). Hal ini berarti bahwa membaca merupakan proses berpikir dalam memahami isi teks yang dibaca dengan tahap - tahap tertentu.
Pemikiran kritis merupakan proses yang kompleks. Berpikir kritis adalah keterampilan penting dan perlu karena dapat membantu menghadapi pertanyaan mental dan spiritual yang digunakan untuk menilai orang, keadaan institusi, sehingga menghindari masalah sosial (Spencer, 2005). Membaca kritis berfungsi untuk membantu analisis secara sistematis informasi, memperkaya sudut pandang, dan membuat interpretasi dan inferensi yang tepat.
Keterampilan membaca harus diasah agar mendapatkan hasil yang maksimal, Adapun cara mengembangkan keterampilan membaca kritis adalah mengikuti petunjuk dalam bacaan dan menerapkannya, membuat kerangka bacaan, menyusun resensi, membuat esai, dan memecahkan masalah sehari-hari melalui teori yang ada dalam buku bacaan.
Penerapan membaca kritis dalam menyusun resensi buku.
Judul : Bicara Itu Ada Seninya
Penulis : Oh Su Hyang
Cetakan: Juli 2018
Penerbit: Bhuana Ilmu Populer, Jakarta
Tebal : xiv + 238 hal, 14 x 21 cm
ISBN : 978-602-455-392-0
Komunikasi merupakan hal yang penting untuk bersaing. Lalu bagaimana dengan cara berbicara yang baik? Atau berbicara tanpa mengambil napas? Tidak! Sebuah ucapan yang bisa dinilai baik adalah ucapan yang menggetarkan hati. Ucapan seorang juara memiliki daya Tarik tersendiri. Ucapan pemandu acara memiliki kemampuan untuk menghidupkan suasana. Anda harus pandai berbicara untuk menunjukkan diri Anda kepada lawan bicara dalam kehidupan sosial. Untuk mencapai tujuan komunikasi, persuasi, dan negosiasi, Anda harus mengetahui metode komunikasi yang efisien.
Membuka Peluang Kesempatan dengan Kebiasaan Bicara
Menurut Oh Shu Hyang, seorang dosen dan pakar komunikasi terkenal di Korea Selatan “Siapa pun bisa meningkatkan kemampuannya (berbicara) asalkan mau berusaha.” Banyak cara-cara yang bisa digunakan untuk melatih kemampuan bicara seseorang, sesuai dengan situasi dan kondisinya.
Dalam buku “Bicara Itu Ada Seninya” memuat bab terkait cara berbicara dengan baik yakni:
- Perbedaan Juara 1 dan Juara 2 Terletak Pada Ucapannya
- Pintar Mendengar, Pandai Berbicara
- Ucapan yang Membuat Lawan Bicara Memihak Kita
- Beratnya Ucapan Ditentukan Oleh Dalamnya Isi
- Suara Bagus Bukan Bawaan Dari Lahir
Lewat buku ini kita menyadari akan pentingnya sebuah keterampilan berbicara, buku ini memiliki keunggulan dalam menggunakan kalimat-kalimat singkat, jelas, dan tidak terbelit - belit. Buku ini direkomendasikan untuk para dosen, mahasiswa, aktivis, pewara, dan pemandu acara.
Sayangnya, buku ini juga memiliki beberapa kelemahan, diantaranya bahasa yang kurang tersusun dengan baik dan ada pula beberapa kalimat yang sulit dimengerti. Dalam buku ini juga menggunakan istilah yang tak akrab.
Namun terlepas dari semua itu, buku ini menarik untuk dibaca dan berguna untuk meningkatkan keterampilan berkomunikasi. Memiliki susunan yang sistematis dan tidak terbelit - belit membuat pembaca lebih mudah memahami isi bacaan. Maka dari itu jika berkeinginan untuk melatih komunikasi bacalah buku ini.
Jadi, kesimpulannya membaca kritis memiliki kegunaan untuk memahami makna dari setiap buku bacaan, dibuatnya resensi buku berguna untuk melatih sejauh mana tingkat penangkapan/penalaran kritis kita dalam sebuah buku.
