Football Is Coming Home: Ketika Harapan Inggris Tidak Pernah Benar-Benar Pulang

Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta Program Studi Pendidikan Sosiologi Jenjang S1
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hanum Salsabilla tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap empat tahun sekali, dunia berhenti sejenak untuk menyaksikan Piala Dunia. Bagi sebagian negara, turnamen ini adalah ajang mencari kejayaan. Namun bagi Inggris, Piala Dunia selalu menghadirkan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar sepak bola. Ia adalah tentang sejarah, identitas nasional, nostalgia, sekaligus harapan yang terus diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya sesuai dengan kalimat " "Football's Coming Home" dan juga gelandang Real Madrid Jude Bellingham yang menjadi sampul tim inggris pada piala dunia kali ini.
Tidak ada kalimat yang lebih mampu menggambarkan perasaan tersebut selain "Football's Coming Home." Kalimat itu berasal dari lagu Three Lions yang dirilis pada tahun 1996 oleh Lightning Seeds bersama David Baddiel dan Frank Skinner saat Inggris menjadi tuan rumah Euro 1996. Banyak orang mengira kalimat itu berarti trofi akan kembali ke Inggris. Padahal makna awalnya jauh lebih historis. "Football's coming home" merujuk pada fakta bahwa Inggris menjadi tuan rumah turnamen besar untuk pertama kalinya sejak memenangkan Piala Dunia 1966, sekaligus pada keyakinan bahwa sepak bola modern memiliki akar sejarah di Inggris melalui pembentukan The Football Association pada tahun 1863. Seiring waktu, makna tersebut berkembang menjadi simbol harapan bahwa suatu hari trofi benar-benar akan kembali ke tanah kelahirannya.
Harapan itu tidak pernah padam, meskipun kenyataan sering kali berkata lain. Sejak menjadi juara dunia pada tahun 1966, Inggris berkali-kali datang ke turnamen besar dengan skuad bertabur bintang, tetapi pulang dengan kekecewaan. Kegagalan melalui adu penalti, kekalahan dramatis di semifinal, hingga berbagai "nyaris berhasil" justru memperkuat identitas sepak bola Inggris. Karena bagi mereka, mendukung tim nasional bukan hanya tentang kemenangan, melainkan tentang tetap percaya meski berkali-kali dikecewakan. Kalimat "Thirty years of hurt" dalam lagu Three Lions pun terus diperbarui maknanya setiap generasi, menjadi pengingat bahwa harapan dan rasa sakit berjalan berdampingan.
Di tengah penantian panjang itu, lahirlah generasi baru yang membawa optimisme. Salah satu wajah terbesarnya adalah Jude Bellingham. Masih berusia muda, ia telah menjadi pusat permainan Inggris dengan kombinasi teknik, visi bermain, kepemimpinan, dan mentalitas yang matang. Bellingham bukan hanya pemain berbakat, tetapi juga simbol regenerasi sepak bola Inggris. Perjalanannya dari akademi Birmingham City hingga menjadi salah satu gelandang terbaik dunia memperlihatkan bagaimana Inggris kini tidak hanya menghasilkan pemain berbakat, tetapi juga pemain yang siap memimpin generasi berikutnya. Kisah masa kecilnya yang dibesarkan dalam keluarga pencinta sepak bola menunjukkan bahwa kecintaannya terhadap permainan tumbuh jauh sebelum ia menjadi bintang dunia.
Popularitas Bellingham bahkan melahirkan tradisi baru di tribun penonton. Seusai pertandingan, ribuan suporter menyanyikan lagu "Hey Jude" karya The Beatles sebagai bentuk penghormatan kepada sang gelandang. Permainan kata antara judul lagu dan nama Jude Bellingham membuat momen tersebut terasa alami sekaligus emosional. Bukan sekadar chant stadion, melainkan bentuk apresiasi terhadap pemain yang dianggap mewakili harapan baru Inggris.
Namun, Piala Dunia 2026 juga menghadirkan tradisi baru yang menarik. Jika pada Euro 2020 lagu Sweet Caroline menjadi soundtrack kemenangan Inggris, kini giliran Wonderwall dari Oasis mengambil peran tersebut. Setelah peluit panjang berbunyi, para pemain berdiri menghadap tribun, lalu bersama puluhan ribu pendukung menyanyikan lagu itu tanpa komando. Tidak ada koreografi yang rumit, tidak ada arahan resmi. Yang ada hanyalah suara ribuan orang yang larut dalam satu melodi, menciptakan hubungan emosional antara pemain dan suporter. Momen ini menjadi simbol bahwa kemenangan tidak hanya dirayakan di ruang ganti, tetapi juga dibagikan bersama mereka yang telah menempuh ribuan kilometer untuk mendukung tim nasional.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa budaya sepak bola Inggris selalu berkembang. Lagu-lagu yang dinyanyikan suporter bukan sekadar hiburan, melainkan bagian dari identitas kolektif. Dari Three Lions yang membawa narasi sejarah, Hey Jude yang merayakan generasi baru, hingga Wonderwall yang mempererat hubungan antara pemain dan pendukung, semuanya menjadi bahasa emosional yang sulit dijelaskan hanya melalui statistik pertandingan.
Pada akhirnya, mungkin inilah yang membuat Inggris selalu menarik untuk diikuti di Piala Dunia. Mereka memang belum berhasil mengakhiri penantian panjang sejak 1966, tetapi mereka berhasil mempertahankan sesuatu yang jauh lebih langka: keyakinan. Setiap turnamen menghadirkan harapan baru, setiap generasi melahirkan pahlawan baru, dan setiap lagu menjadi pengingat bahwa sepak bola bukan hanya tentang siapa yang mengangkat trofi.
Mungkin itulah arti sebenarnya dari "Football's Coming Home." Bukan sekadar impian membawa pulang Piala Dunia, tetapi tentang bagaimana sepak bola selalu menemukan jalan pulang ke hati masyarakat Inggris. Selama para suporter masih menyanyikan Three Lions, berseru "Hey Jude" untuk Bellingham, dan menutup malam dengan Wonderwall, harapan itu tidak akan pernah benar-benar hilang. Karena bagi Inggris, sepak bola memang selalu pulang meski trofinya belum tentu ikut kembali.
