BI dan Tantangan Baru Menjaga Stabilitas di Era Fragmentasi Global
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Dunia sedang mengalami tantangan baru dalam menjaga perubahan yang tidak lagi bersifat siklis, melainkan struktural. Ketegangan geopolitik yang berkepanjangan, fragmentasi perdagangan global, perkembangan teknologi digital yang sangat cepat, hingga munculnya berbagai risiko sistemik baru telah mengubah lanskap perekonomian dunia secara fundamental. Dalam situasi seperti ini, menjaga stabilitas ekonomi tidak lagi sesederhana mengendalikan inflasi dan mengatur suku bunga. Kompleksitas tantangan yang semakin tinggi menuntut hadirnya cara berpikir dan pendekatan kebijakan yang juga semakin adaptif.

Pesan inilah yang mengemuka dalam Konferensi Internasional Buletin Ekonomi Moneter dan Perbankan (BMEB) ke-20 yang diselenggarakan Bank Indonesia di Bali pada 31 Juli 2026. Melalui tema “Central Banking at the Crossroads of Geoeconomic Fragmentation, Digital Transformation, and Systemic Risk”, Bank Indonesia sesungguhnya sedang mengingatkan bahwa dunia kebanksentralan tengah memasuki babak baru. Tantangan yang dihadapi bank sentral saat ini jauh lebih kompleks dibandingkan dengan satu atau dua dekade yang lalu.
Selama bertahun-tahun, keberhasilan bank sentral umumnya diukur dari kemampuannya menjaga inflasi tetap rendah dan stabil. Pendekatan tersebut terbukti efektif dalam mendukung stabilitas makroekonomi. Namun, perkembangan global menunjukkan bahwa sumber risiko ekonomi kini semakin beragam. Gejolak geopolitik dapat memengaruhi perdagangan, investasi, pasar keuangan, dan nilai tukar secara bersamaan. Di sisi lain, inovasi teknologi menghadirkan peluang besar sekaligus risiko baru yang belum pernah dihadapi sebelumnya. Kondisi ini membuat bank sentral dituntut untuk melihat stabilitas ekonomi dalam perspektif yang lebih luas.
Fragmentasi Global dan Kompleksitas Baru Kebijakan Ekonomi
Salah satu isu yang menjadi perhatian dalam forum BMEB adalah meningkatnya fragmentasi geoekonomi. Fenomena ini menunjukkan kecenderungan dunia yang semakin terpolarisasi, baik dalam perdagangan, investasi, maupun rantai pasok global. Berbagai konflik geopolitik dan kepentingan strategis antarnegara telah mendorong perubahan pola hubungan ekonomi internasional yang selama ini menjadi fondasi globalisasi.
Bagi negara berkembang seperti Indonesia, perubahan tersebut menghadirkan tantangan yang tidak sederhana. Gangguan pada rantai pasok global dapat memicu tekanan inflasi, memengaruhi kinerja ekspor, mengubah arah investasi internasional, bahkan berdampak pada stabilitas sistem keuangan domestik. Artinya, risiko yang sebelumnya dianggap terpisah kini saling terhubung dan dapat menyebar dengan cepat ke berbagai sektor ekonomi.
Dalam konteks inilah, pandangan yang disampaikan Pejabat Gubernur Sementara Bank Indonesia, Destry Damayanti, menjadi sangat relevan. Menurutnya, bank sentral perlu memperkuat pemahaman mengenai transmisi kebijakan moneter di tengah fragmentasi geoekonomi, memperdalam riset terkait transformasi digital, meningkatkan pengukuran risiko sistemik, serta menjaga kredibilitas kebijakan dan komunikasi publik. Keempat agenda tersebut menunjukkan bahwa tantangan kebanksentralan saat ini tidak lagi bersifat sektoral, melainkan multidimensional.
Pandangan serupa juga disampaikan Wakil Menteri Keuangan Juda Agung yang menegaskan pentingnya koordinasi kebijakan dalam menghadapi kompleksitas ekonomi global. Dalam dunia yang semakin terintegrasi, kebijakan moneter tidak dapat berjalan sendiri. Stabilitas ekonomi membutuhkan dukungan kebijakan fiskal, kebijakan makroprudensial, pengelolaan likuiditas, serta koordinasi antarlembaga yang semakin erat.
Di sinilah salah satu kekuatan pendekatan yang dikembangkan Bank Indonesia selama beberapa tahun terakhir. Melalui bauran kebijakan, BI tidak hanya mengandalkan instrumen moneter, tetapi juga mengombinasikannya dengan kebijakan makroprudensial, penguatan sistem pembayaran, serta pendalaman pasar keuangan. Pendekatan ini menjadi semakin relevan ketika tantangan ekonomi tidak lagi berasal dari satu sumber risiko semata.
Transformasi Digital dan Evolusi Peran Bank Sentral
Selain fragmentasi global, perubahan besar lain yang sedang membentuk wajah perekonomian dunia adalah transformasi digital. Perkembangan kecerdasan buatan (AI), fintech, aset kripto, stablecoin, tokenized deposit, hingga Central Bank Digital Currency (CBDC) telah mengubah cara masyarakat bertransaksi dan mengelola keuangan. Inovasi tersebut menawarkan efisiensi yang tinggi, tetapi pada saat yang sama menghadirkan berbagai tantangan baru bagi otoritas ekonomi.
Perubahan ini membuat peran bank sentral mengalami evolusi yang signifikan. Jika dahulu fokus utama bank sentral adalah menjaga stabilitas moneter, kini bank sentral juga perlu memastikan sistem pembayaran tetap aman, efisien, terhubung, dan tangguh menghadapi berbagai risiko baru. Risiko siber, gangguan infrastruktur digital, hingga pergeseran perilaku masyarakat dalam menggunakan instrumen pembayaran menjadi bagian dari tantangan yang harus diantisipasi.
Karena itu, langkah Bank Indonesia yang menempatkan riset sebagai fondasi kebijakan patut diapresiasi. Komitmen untuk memperkuat evidence-based policy menunjukkan kesadaran bahwa kompleksitas ekonomi modern tidak dapat dihadapi dengan pendekatan konvensional. Kebijakan yang efektif harus dibangun berdasarkan pemahaman yang kuat terhadap perubahan struktur ekonomi dan keuangan yang sedang berlangsung.
Keberhasilan BMEB tahun ini yang mampu menghimpun 354 naskah dari 34 negara menunjukkan bahwa isu-isu tersebut juga menjadi perhatian komunitas global. Kolaborasi antara akademisi, peneliti, dan pembuat kebijakan semakin penting untuk menghasilkan solusi yang relevan bagi tantangan ekonomi masa depan. Dalam konteks ini, Bank Indonesia tidak hanya berperan sebagai otoritas moneter, tetapi juga sebagai pusat pemikiran yang mendorong lahirnya kebijakan yang adaptif terhadap perubahan.
Tantangan terbesar ekonomi global saat ini bukan hanya bagaimana menjaga stabilitas, tetapi bagaimana menjaga stabilitas di tengah perubahan yang berlangsung sangat cepat. Fragmentasi geoekonomi, transformasi digital, dan meningkatnya risiko sistemik telah mengubah cara kerja perekonomian dunia sekaligus mengubah cara bank sentral menjalankan fungsinya. Karena itu, langkah Bank Indonesia mendorong kerangka kebijakan yang semakin terintegrasi merupakan respons yang tepat terhadap realitas baru tersebut. Di era yang semakin kompleks, keberhasilan menjaga stabilitas tidak lagi ditentukan oleh satu instrumen kebijakan, melainkan oleh kemampuan mengelola berbagai sumber risiko secara terpadu, adaptif, dan berbasis pengetahuan.HARI
***

