Konten dari Pengguna

Dari Kredit ke Produktivitas: Saat Pembiayaan Menjadi Mesin Pertumbuhan Ekonomi

Pertumbuhan ekonomi yang berkualitas tidak lahir semata dari tingginya angka kredit yang disalurkan perbankan. Yang lebih penting adalah sejauh mana pembiayaan tersebut mampu mendorong aktivitas produktif, menciptakan lapangan kerja, memperkuat kapasitas usaha, dan menghasilkan nilai tambah yang berkelanjutan. Di tengah berbagai tantangan ekonomi global yang masih membayangi, agenda mendorong pembiayaan produktif menjadi semakin relevan bagi Indonesia.

Gambar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, pada seminar nasional  bertajuk "Menjaga Stabilitas, Memperkuat Sinergi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pembiayaan Produktif", Sumber: Website Bank Indonesia-Publikasi Ruang Media
zoom-in-whitePerbesar
Gambar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, pada seminar nasional bertajuk "Menjaga Stabilitas, Memperkuat Sinergi, Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Melalui Pembiayaan Produktif", Sumber: Website Bank Indonesia-Publikasi Ruang Media

Dalam konteks itu, pesan yang disampaikan Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, patut mendapat perhatian. Penekanan agar transformasi pembiayaan tidak lagi hanya berorientasi pada pertumbuhan kredit, melainkan pada kualitas dan dampaknya terhadap sektor riil, menunjukkan adanya perubahan paradigma yang penting. Selama ini, keberhasilan sektor keuangan sering diukur dari tingginya penyaluran kredit. Padahal, kredit yang tumbuh pesat belum tentu berkontribusi optimal terhadap peningkatan produktivitas ekonomi.

Perspektif tersebut menjadi penting karena Indonesia tengah berada pada fase yang membutuhkan sumber pertumbuhan baru. Konsumsi rumah tangga memang masih menjadi penopang utama ekonomi, tetapi untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan, investasi dan penguatan kapasitas produksi harus memperoleh porsi yang lebih besar. Di sinilah pembiayaan produktif memainkan peran strategis sebagai jembatan antara potensi ekonomi dan realisasi pertumbuhan.

Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Menyalurkan Kredit

Salah satu gagasan menarik yang disampaikan dalam seminar tersebut adalah perlunya pergeseran dari pembiayaan individual menuju pembiayaan berbasis ekosistem. Pendekatan ini jauh lebih relevan dibandingkan dengan model lama yang sering kali memandang pelaku usaha secara terpisah-pisah.

Dalam praktiknya, banyak usaha mikro dan kecil mengalami kesulitan memperoleh akses pembiayaan bukan karena tidak memiliki prospek bisnis, melainkan karena keterbatasan informasi, lemahnya pencatatan keuangan, dan minimnya integrasi dengan rantai pasok yang lebih besar. Akibatnya, lembaga keuangan menilai risiko pembiayaan menjadi tinggi. Ketika pelaku usaha ditempatkan dalam satu ekosistem yang terhubung dengan pemasok, pembeli, platform digital, serta lembaga pendukung lainnya, risiko tersebut dapat ditekan dan akses pembiayaan menjadi lebih terbuka.

Karena itu, berbagai instrumen yang dikembangkan Bank Indonesia melalui Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan Rasio Pembiayaan Inklusif Makroprudensial (RPIM) layak diapresiasi. Kebijakan ini memberikan insentif bagi perbankan untuk menyalurkan pembiayaan ke sektor-sektor prioritas yang memiliki dampak luas terhadap perekonomian. Langkah tersebut menunjukkan bahwa stabilitas sistem keuangan dan pertumbuhan ekonomi tidak harus ditempatkan sebagai dua tujuan yang saling bertentangan. Keduanya justru dapat berjalan beriringan melalui desain kebijakan yang tepat.

Di sisi lain, digitalisasi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat pembiayaan produktif. Kehadiran QRIS, BI-FAST, dan SNAP tidak hanya mempermudah transaksi, tetapi juga menciptakan jejak data yang semakin kaya. Data transaksi digital dapat menjadi alternatif informasi bagi lembaga keuangan untuk menilai kelayakan usaha, terutama bagi pelaku UMKM yang selama ini belum memiliki rekam jejak perbankan yang memadai.

Manfaat digitalisasi menjadi semakin besar ketika dikombinasikan dengan program pemerintah yang mendukung penguatan UMKM. Upaya memperluas akses Kredit Usaha Rakyat (KUR), keterlibatan UMKM dalam Program Makan Bergizi Gratis, serta pembentukan holding UMKM merupakan langkah untuk meningkatkan skala usaha dan memperkuat posisi pelaku usaha kecil dalam rantai nilai nasional. Dengan kata lain, pembiayaan tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari orkestrasi kebijakan yang lebih luas.

Mengarahkan Dana ke Sektor Bernilai Tambah Tinggi

Meski pertumbuhan kredit menunjukkan tren yang menggembirakan, tantangan terbesar bukan lagi pada jumlah dana yang tersedia, melainkan pada arah penyalurannya. Data menunjukkan kredit perbankan pada Juni 2026 tumbuh 12,67 persen secara tahunan, sementara kredit investasi melonjak hingga hampir 25 persen. Angka tersebut mencerminkan optimisme dunia usaha dan kuatnya dukungan sektor keuangan terhadap aktivitas ekonomi.

Namun, pertanyaan yang perlu diajukan adalah sektor mana yang paling banyak menikmati aliran pembiayaan tersebut. Pandangan ekonom Josua Pardede bahwa masih terdapat ruang untuk memperluas pembiayaan ke sektor bernilai tambah tinggi, khususnya industri pengolahan, merupakan catatan yang patut diperhatikan. Pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa pertumbuhan yang berkelanjutan umumnya ditopang oleh sektor-sektor yang mampu menghasilkan nilai tambah, mendorong inovasi, dan meningkatkan produktivitas tenaga kerja.

Indonesia tidak dapat terus bergantung pada aktivitas ekonomi yang berbasis komoditas semata. Ketika harga komoditas melemah, pertumbuhan ekonomi menjadi rentan terhadap gejolak eksternal. Sebaliknya, penguatan industri pengolahan mampu menciptakan efek berganda yang lebih besar karena melibatkan rantai produksi yang panjang, penyerapan tenaga kerja yang luas, dan peningkatan daya saing ekspor.

Karena itu, ketersediaan fasilitas pinjaman yang belum digunakan atau undisbursed loan yang masih mencapai ribuan triliun rupiah seharusnya menjadi peluang untuk mengakselerasi transformasi ekonomi. Likuiditas yang memadai perlu diarahkan secara lebih efektif kepada sektor-sektor produktif yang memiliki dampak besar terhadap penciptaan nilai tambah domestik.

Komitmen Bank Indonesia untuk memperkuat sinergi dengan pemerintah, OJK, perbankan, dunia usaha, akademisi, dan media menunjukkan bahwa agenda pembiayaan produktif tidak mungkin diselesaikan oleh satu institusi saja. Pertumbuhan ekonomi yang kuat memerlukan kolaborasi lintas sektor agar dana yang beredar dalam sistem keuangan benar-benar mengalir ke aktivitas yang menciptakan kesejahteraan.

Saat dunia menghadapi ketidakpastian yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan mesin pertumbuhan yang lebih kokoh. Pembiayaan produktif dapat menjadi salah satu jawabannya, asalkan fokusnya tidak berhenti pada seberapa besar kredit disalurkan, melainkan pada seberapa besar dampaknya dalam memperkuat kapasitas produksi, mendorong transformasi usaha, dan menciptakan ekonomi yang lebih inklusif. Kredit yang produktif bukan sekadar angka di laporan perbankan, melainkan energi yang menggerakkan roda pembangunan.HARI

***