Dari Lokal ke Global, Ketika UMKM Perlu Lebih dari Sekadar Go Online
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sejarah Nusantara pernah dibangun oleh kejayaan rempah-rempah. Kini, bersama kopi, kakao dan cokelat, serta teh, komoditas yang lahir dari kekayaan alam Indonesia kembali menghadirkan peluang baru bagi perekonomian daerah. Tantangannya bukan lagi sekadar menghasilkan produk, melainkan bagaimana menghadirkan nilai tambah, memperluas pasar, dan menjadikan komoditas lokal mampu bersaing di panggung global. Semangat inilah yang tercermin dalam penyelenggaraan Java Coffee and Flavors Fest (JCFF) 2026, sebuah ikhtiar untuk menghubungkan cita rasa lokal dengan peluang ekonomi yang mendunia.

Mengusung tema From Local Flavors to Global Horizons, JCFF 2026 bukan sekadar festival yang menampilkan kopi, kakao dan cokelat, teh, serta rempah-rempah unggulan Nusantara. Festival yang diselenggarakan oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur bersama Pemerintah Provinsi Jawa Timur dan Pemerintah Kota Surabaya pada 17-19 Juli 2026 ini membawa pesan yang jauh lebih besar, yakni bagaimana komoditas lokal dapat menjadi penggerak ekonomi daerah sekaligus menembus pasar global.
Data penyelenggaraan JCFF 2026 menunjukkan besarnya potensi yang dimiliki sektor ini. Sebanyak 72 UMKM binaan Kantor Perwakilan Bank Indonesia se-Jawa, lebih dari 25 UMKM binaan Pemerintah Kota Surabaya, serta berbagai pelaku artisan tea dan modern coffee shop berpartisipasi dalam gelaran tersebut. Antusiasme masyarakat juga sangat tinggi, dengan total pengunjung luring dan daring mencapai lebih dari 160 ribu orang. Tidak hanya itu, kegiatan business matching perdagangan dan pembiayaan berhasil membukukan potensi transaksi sebesar Rp92,45 miliar.
Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa kopi, kakao, teh, dan rempah-rempah tidak lagi sekadar komoditas tradisional. Produk-produk tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi industri bernilai tambah tinggi yang mampu memperkuat struktur ekonomi daerah. Tantangannya adalah bagaimana potensi tersebut dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kapasitas usaha, ekspansi pasar, hingga peningkatan kesejahteraan pelaku UMKM.
Persoalan ini menjadi relevan ketika melihat fenomena transformasi digital yang sedang berlangsung di Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, semakin banyak UMKM yang telah terhubung dengan berbagai platform digital. Mereka memiliki akun media sosial, bergabung dalam marketplace, memanfaatkan layanan pembayaran digital, bahkan menggunakan berbagai aplikasi pendukung usaha. Namun, pertanyaan yang sering muncul adalah, mengapa banyak UMKM yang sudah online tetapi belum benar-benar naik kelas?
Jawabannya sederhana tetapi penting. Digitalisasi sering kali dipahami sebatas kehadiran di ruang digital, bukan sebagai instrumen untuk meningkatkan produktivitas dan daya saing. Tidak sedikit pelaku usaha yang telah masuk ke marketplace, tetapi masih mengalami kendala dalam menjaga kualitas produk, meningkatkan kapasitas produksi, membangun merek, memperoleh pembiayaan, atau menembus pasar yang lebih luas. Akibatnya, digitalisasi hanya menjadi etalase baru tanpa diikuti oleh peningkatan nilai ekonomi yang signifikan.
Karena itulah transformasi digital tidak boleh berhenti pada aspek teknologi semata. Digitalisasi harus berjalan beriringan dengan penguatan kapasitas usaha, inovasi produk, akses pembiayaan, serta perluasan jaringan pemasaran. Dengan kata lain, UMKM tidak cukup hanya menjadi go online, tetapi harus mampu menjadi go productive, go innovative, dan go global.
Pendekatan inilah yang terlihat dalam berbagai program yang dijalankan Bank Indonesia, termasuk melalui JCFF 2026. Bank Indonesia tidak hanya mendorong penggunaan teknologi digital, tetapi juga membangun ekosistem yang memungkinkan UMKM tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan. Mulai dari pembinaan, peningkatan kapasitas, fasilitasi promosi, perluasan akses pasar, hingga business matching dengan investor dan lembaga keuangan menjadi bagian dari upaya yang saling terintegrasi.
Dalam sambutannya, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, menekankan pentingnya hilirisasi dan penguatan rantai pasok dalam menciptakan nilai tambah komoditas unggulan. Pesan ini sangat relevan karena persaingan ekonomi saat ini tidak lagi ditentukan oleh siapa yang memiliki bahan baku paling melimpah, melainkan siapa yang mampu mengolah, mengemas, memasarkan, dan membangun nilai ekonomi dari komoditas tersebut.
Kopi menjadi contoh yang mudah dipahami. Indonesia dikenal sebagai salah satu produsen kopi utama dunia. Namun, keuntungan terbesar dalam rantai nilai kopi sering kali dinikmati oleh pihak yang mengolah produk lebih lanjut, membangun merek yang kuat, serta menguasai akses pasar global. Kondisi serupa juga dapat ditemukan pada komoditas kakao, teh, dan rempah-rempah. Tanpa hilirisasi, daerah akan tetap berada pada posisi sebagai pemasok bahan baku dengan nilai ekonomi yang terbatas.
Di sinilah Bank Indonesia memainkan peran strategis sebagai katalis percepatan ekonomi daerah. Komitmen tersebut ditegaskan kembali oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Timur, Ibrahim, yang mendorong peningkatan kualitas, inovasi, dan daya saing produk melalui penguatan kapasitas UMKM, perluasan akses pasar global, serta akselerasi digitalisasi transaksi. Langkah ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan tujuan akhir, melainkan jembatan menuju peningkatan produktivitas dan daya saing.
Peluncuran QRIS Jelajah Kuliner Indonesia 2026 dalam rangkaian JCFF juga menjadi bukti nyata konsistensi Bank Indonesia dalam memperluas ekosistem pembayaran digital yang inklusif. Kehadiran QRIS tidak hanya memberikan kemudahan transaksi bagi masyarakat, tetapi juga membantu pelaku usaha membangun rekam jejak transaksi yang lebih baik. Rekam jejak tersebut menjadi modal penting untuk memperoleh akses pembiayaan formal yang selama ini sering menjadi kendala bagi UMKM.
Lebih dari itu, JCFF 2026 memperlihatkan bagaimana kolaborasi dapat menjadi kunci keberhasilan pembangunan ekonomi daerah. Pemerintah daerah, Bank Indonesia, perbankan, investor, pelaku usaha, dan masyarakat hadir dalam satu ekosistem yang saling memperkuat. Ketika komoditas unggulan lokal dikembangkan melalui hilirisasi, didukung digitalisasi, dipertemukan dengan investor, serta diperluas akses pasarnya hingga ke tingkat internasional, maka peluang UMKM untuk naik kelas menjadi semakin terbuka.
JCFF 2026 memberikan optimisme bahwa kopi, kakao dan cokelat, teh, serta rempah-rempah bukan hanya warisan budaya yang patut dibanggakan, melainkan juga aset ekonomi yang mampu menciptakan pertumbuhan baru. Upaya yang dilakukan Bank Indonesia bersama para pemangku kepentingan menunjukkan bahwa transformasi UMKM memerlukan pendekatan yang menyeluruh. UMKM yang naik kelas bukanlah mereka yang sekadar hadir di dunia digital, melainkan mereka yang mampu memanfaatkan teknologi, meningkatkan kualitas usaha, memperluas pasar, dan menghasilkan nilai tambah yang lebih besar. Dari cita rasa lokal yang tumbuh di berbagai pelosok Nusantara, terbentang peluang besar untuk menghadirkan produk Indonesia yang semakin diperhitungkan di pasar dunia.HARI
***

