Di Balik Uang Primer yang Tetap Tumbuh, Menjaga Stabilitas dan Pertumbuhan
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Di tengah dinamika ekonomi global yang masih dibayangi ketidakpastian, membaca arah kebijakan bank sentral tidak lagi cukup hanya dengan melihat pergerakan suku bunga acuan. Kenaikan BI Rate sering kali langsung diasosiasikan sebagai sinyal bahwa Bank Indonesia sedang mengetatkan kebijakan moneter. Padahal, kenyataan di lapangan tidak sesederhana itu. Di balik kebijakan suku bunga, terdapat berbagai instrumen lain yang dijalankan secara bersamaan untuk memastikan stabilitas tetap terjaga tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi.

Hal tersebut tercermin dari perkembangan Uang Primer (Monetary Base atau M0) Adjusted pada Juni 2026 yang tumbuh sebesar 13,8 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp2.228 triliun. Meski sedikit melambat dibandingkan dengan pertumbuhan Mei 2026 yang mencapai 14,2 persen, angka tersebut tetap menunjukkan bahwa likuiditas dasar di sistem keuangan Indonesia berada pada kondisi yang memadai. Sekilas, kondisi ini tampak paradoks. Di satu sisi, Bank Indonesia menaikkan BI-Rate menjadi 5,75 persen untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi. Di sisi lain, uang primer justru masih tumbuh cukup tinggi. Di sinilah menariknya membaca arah kebijakan Bank Indonesia secara utuh.
Untuk memahami makna data tersebut, terlebih dahulu perlu dipahami apa yang dimaksud dengan uang primer. Secara sederhana, uang primer merupakan fondasi dari sistem moneter. Komponennya terdiri atas uang kartal yang beredar di masyarakat serta giro bank umum yang disimpan di Bank Indonesia. Ibarat sebuah bangunan, uang primer adalah pondasinya. Dari fondasi inilah kemudian berkembang berbagai bentuk uang beredar yang lebih luas melalui proses intermediasi perbankan, seperti tabungan, deposito, hingga kredit yang disalurkan kepada dunia usaha dan rumah tangga.
Karena itulah, perkembangan uang primer sering dijadikan salah satu indikator penting untuk membaca kondisi likuiditas nasional. Ketika uang primer meningkat, bukan berarti inflasi otomatis akan melonjak. Sebaliknya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sistem keuangan memiliki kapasitas yang cukup untuk mendukung aktivitas ekonomi, selama pertumbuhannya tetap dikelola secara hati-hati dan sejalan dengan sasaran stabilitas makroekonomi.
Pertumbuhan uang primer sebesar 13,8 persen mengirimkan pesan bahwa Bank Indonesia masih memastikan tersedianya likuiditas yang memadai bagi industri perbankan. Pesan ini semakin kuat ketika melihat komponen penyusunnya. Uang kartal yang beredar tumbuh sebesar 14 persen, sementara giro bank umum di Bank Indonesia meningkat sebesar 12,7 persen. Kedua angka tersebut menunjukkan bahwa baik masyarakat maupun sektor perbankan masih berada dalam kondisi yang relatif sehat dari sisi ketersediaan dana.
Kenaikan uang kartal, misalnya, mencerminkan masih tingginya kebutuhan masyarakat terhadap uang tunai. Meskipun digitalisasi sistem pembayaran berkembang sangat pesat melalui QRIS dan berbagai instrumen pembayaran elektronik lainnya, uang tunai tetap memiliki peran penting dalam menopang aktivitas ekonomi, khususnya di berbagai daerah. Di wilayah dengan karakteristik geografis yang luas seperti Kalimantan Tengah, penggunaan uang tunai masih menjadi bagian penting dalam berbagai transaksi masyarakat. Oleh karena itu, pertumbuhan uang kartal yang tetap berada pada level dua digit dapat dibaca sebagai sinyal bahwa konsumsi rumah tangga, perdagangan, dan aktivitas ekonomi domestik masih bergerak cukup solid.
Sementara itu, meningkatnya giro bank umum di Bank Indonesia juga memberikan sinyal positif terhadap kondisi likuiditas perbankan. Giro tersebut merupakan saldo dana yang dimiliki bank pada rekeningnya di Bank Indonesia untuk mendukung operasional sekaligus memenuhi berbagai kewajiban. Ketika nilainya meningkat, hal itu menunjukkan bahwa perbankan memiliki bantalan likuiditas yang memadai. Dengan kondisi demikian, ruang untuk menyalurkan kredit kepada sektor riil masih tetap terbuka meskipun suku bunga acuan mengalami kenaikan.
Inilah yang sering luput dari pembacaan publik. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa kenaikan BI-Rate secara otomatis akan menyebabkan uang di masyarakat berkurang dan kredit langsung melambat. Dalam praktiknya, kebijakan moneter jauh lebih kompleks daripada sekadar menaikkan atau menurunkan suku bunga. Kenaikan BI-Rate memang bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah, mengendalikan ekspektasi inflasi, serta meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik di tengah ketidakpastian global. Namun, pada saat yang sama Bank Indonesia juga memastikan sistem keuangan tidak mengalami kekurangan likuiditas yang dapat menghambat pertumbuhan ekonomi.
Pendekatan inilah yang dikenal sebagai policy mix atau bauran kebijakan. Alih-alih hanya mengandalkan satu instrumen, Bank Indonesia mengombinasikan kebijakan suku bunga, operasi moneter, stabilisasi nilai tukar, kebijakan makroprudensial, hingga berbagai insentif likuiditas agar sasaran stabilitas dan pertumbuhan dapat dicapai secara bersamaan. Dengan kata lain, arah kebijakan moneter Indonesia saat ini bukanlah pengetatan yang menyeluruh, melainkan pengetatan yang terukur, adaptif, dan tetap memberikan ruang bagi sektor riil untuk terus tumbuh.
Hal menarik lainnya adalah penggunaan istilah Adjusted pada publikasi uang primer. Istilah ini memiliki arti penting karena angka yang dipublikasikan telah memperhitungkan dampak berbagai kebijakan insentif likuiditas yang diberikan Bank Indonesia kepada perbankan. Penyesuaian tersebut dilakukan agar pertumbuhan uang primer mencerminkan kondisi likuiditas yang lebih representatif, tanpa terdistorsi oleh berbagai kebijakan teknis yang bersifat sementara. Dengan demikian, data yang disajikan mampu memberikan gambaran yang lebih akurat mengenai kondisi likuiditas di dalam sistem keuangan.
Bagi pelaku usaha, investor, maupun pemerintah daerah, informasi mengenai perkembangan uang primer memiliki nilai strategis. Likuiditas yang tetap terjaga memberikan keyakinan bahwa dunia perbankan masih memiliki kapasitas untuk mendukung pembiayaan investasi dan ekspansi usaha. Kondisi tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga optimisme dunia usaha, terutama ketika perekonomian global masih dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari ketegangan geopolitik, volatilitas pasar keuangan, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara.
Lebih dari itu, data uang primer Juni 2026 memberikan pelajaran bahwa membaca arah kebijakan Bank Indonesia tidak dapat dilakukan secara parsial. Kenaikan BI Rate memang menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi. Namun, pertumbuhan uang primer sebesar 13,8 persen sekaligus memperlihatkan bahwa Bank Indonesia tetap memastikan likuiditas di sistem keuangan berada pada tingkat yang memadai agar penyaluran kredit, aktivitas usaha, dan pertumbuhan ekonomi tidak kehilangan momentum. Di balik angka-angka tersebut tersimpan pesan penting bahwa stabilitas dan pertumbuhan bukanlah dua tujuan yang saling bertentangan, melainkan dua pilar yang harus dijaga secara seimbang melalui bauran kebijakan yang kredibel, adaptif, dan berpandangan jauh ke depan.HARI
***

