Ekonomi Tidak Tumbuh dengan Kebijakan Saja
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember – Jawa Timur
Ekonomi tidak tumbuh hanya karena sebuah kebijakan telah diumumkan. Di balik kebijakan moneter, pengendalian inflasi, stabilisasi nilai tukar, dan kerja sama keuangan internasional, terdapat sistem operasional yang memastikan setiap keputusan dapat diterjemahkan menjadi transaksi yang aman dan layanan yang dapat dipercaya. Tanpa fondasi operasional yang kuat, kebijakan berisiko berhenti sebagai pernyataan yang kehilangan daya pengaruhnya terhadap perekonomian.

Pesan tersebut mengemuka dalam Central Banking Services Festival (CB Fest) 2026 yang diselenggarakan Bank Indonesia. Forum ini mempertemukan bank sentral, otoritas sektor keuangan, kementerian dan lembaga, industri perbankan, serta asosiasi internasional untuk membahas ketahanan layanan keuangan di tengah meningkatnya risiko geopolitik. Posisi forum ini menjadi penting karena fragmentasi ekonomi dan perkembangan transaksi lintas negara telah mengubah tantangan yang dihadapi bank sentral.
Pada pembukaan forum tersebut, Deputi Gubernur Bank Indonesia, Thomas A.M. Djiwandono, menegaskan bahwa kredibilitas kebijakan perlu didukung oleh kredibilitas operasional. Pernyataan ini mengingatkan bahwa kepercayaan terhadap bank sentral tidak hanya lahir dari ketepatan dalam merumuskan kebijakan. Kepercayaan juga dibangun melalui kemampuan menyelesaikan transaksi secara tepat waktu, mengelola cadangan devisa dan emas, menatausahakan rekening pemerintah, serta melayani transaksi surat berharga dalam rupiah maupun valuta asing.
Layanan tersebut memang jarang terlihat oleh masyarakat. Namun, justru di ruang operasional itulah stabilitas ekonomi dirawat setiap hari. Ketika transaksi pemerintah dapat diselesaikan dengan aman, operasi moneter berjalan tanpa gangguan, dan industri keuangan memperoleh kepastian penyelesaian transaksi, transmisi kebijakan menjadi lebih efektif. Kredibilitas operasional kemudian berubah menjadi kepercayaan pasar, sedangkan kepercayaan merupakan modal yang sangat berharga saat ketidakpastian global meningkat.
Urgensi penguatan layanan kebanksentralan semakin nyata seiring meluasnya konektivitas ekonomi antarnegara. Salah satu indikatornya terlihat pada perkembangan Local Currency Transaction atau LCT. Hingga 2026, Indonesia telah mengimplementasikan kerja sama LCT dengan tujuh negara mitra, yaitu Malaysia, Thailand, Tiongkok, Jepang, Korea Selatan, Uni Emirat Arab, dan Singapura. Skema tersebut memfasilitasi perdagangan dan investasi bilateral menggunakan mata uang lokal sehingga pelaku usaha tidak selalu bergantung pada mata uang negara ketiga.
Perkembangannya bukan lagi dalam skala kecil. Nilai transaksi LCT pada semester I 2026 mencapai 42,07 miliar dolar AS, tumbuh 259 persen dibandingkan periode yang sama pada 2025 sebesar 11,72 miliar dolar AS. Capaian selama enam bulan itu bahkan telah melampaui keseluruhan transaksi LCT sepanjang 2025 yang mencapai 25,74 miliar dolar AS. Lonjakan tersebut memperlihatkan meningkatnya kebutuhan dunia usaha terhadap mekanisme transaksi lintas negara yang lebih efisien dan tahan terhadap gejolak eksternal.
LCT juga membawa makna strategis bagi ketahanan ekonomi. Penggunaan mata uang lokal dapat mengurangi konsentrasi permintaan terhadap mata uang tertentu, menekan biaya konversi, serta membantu pelaku usaha mengelola risiko nilai tukar. Bagi usaha kecil dan menengah yang mulai memasuki pasar ekspor, biaya transaksi dan volatilitas kurs sering menjadi hambatan serius. Karena itu, perluasan LCT seharusnya diikuti dengan peningkatan literasi, perluasan bank fasilitator, dan penyederhanaan akses agar manfaatnya tidak hanya dinikmati perusahaan besar.
Penguatan ketahanan semacam ini dibutuhkan ketika perekonomian dunia menghadapi risiko geopolitik dan volatilitas pasar keuangan. Kendati demikian, prospek Indonesia tetap relatif terjaga. International Monetary Fund memproyeksikan ekonomi Indonesia tumbuh 5,0 persen pada 2026 dengan inflasi konsumen sekitar 3,0 persen. Bank Dunia juga memperkirakan pertumbuhan sebesar 5,0 persen pada 2026, sebelum meningkat menjadi rata-rata 5,2 persen pada 2027–2028, meskipun tekanan eksternal masih membayangi investasi dan ekspor.
Proyeksi tersebut memberi optimisme, tetapi bukan alasan untuk merasa nyaman. Pertumbuhan sekitar lima persen perlu dijaga melalui koordinasi fiskal, moneter, dan sektor keuangan, sekaligus ditingkatkan kualitasnya melalui produktivitas dan penciptaan lapangan kerja. Bank Dunia menekankan pentingnya reformasi produktivitas, fasilitasi perdagangan, efisiensi logistik, serta penguatan kualitas pekerjaan agar pertumbuhan dapat diterjemahkan menjadi peningkatan kesejahteraan. Dengan demikian, stabilitas dan reformasi struktural harus bergerak bersama.
Tantangan berikutnya adalah memastikan digitalisasi tidak hanya menghasilkan layanan yang cepat, tetapi juga sistem yang aman dan akuntabel. Pemanfaatan kecerdasan buatan dan AI generatif dalam pelaporan keuangan dapat meningkatkan efisiensi, mempercepat pengolahan data, serta memperkuat deteksi risiko. Namun, penggunaan teknologi tersebut harus disertai transparansi, tata kelola data, pengawasan manusia, dan peningkatan kompetensi pegawai. Inovasi tanpa tata kelola justru dapat melahirkan kerentanan baru.
Di sinilah relevansi utama CB Fest 2026. Forum ini tidak boleh berhenti sebagai tempat bertukar gagasan, tetapi perlu mendorong standar layanan, interoperabilitas, manajemen risiko, dan kolaborasi yang dapat diterapkan secara konkret. Ketahanan tidak dibangun ketika krisis telah tiba. Ketahanan dibentuk sejak sekarang melalui institusi yang kredibel, teknologi yang dikelola secara bertanggung jawab, dan operasional yang tetap bekerja ketika dunia berubah cepat.
Ekonomi memang membutuhkan kebijakan yang tepat. Namun, kebijakan hanya akan menghasilkan dampak jika ditopang layanan yang dapat dipercaya. Ketika kredibilitas kebijakan bertemu dengan kredibilitas operasional, stabilitas tidak sekadar dijaga, tetapi diubah menjadi ruang bagi perdagangan, investasi, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.HARI
***

