Jangan Panik, Rupiah Lagi Dikerjain Dunia

Administrator Unit Implementasi PUR di Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Analis untuk memastikan kelancaran sistem pembayaran melalui analisis kebutuhan uang rupiah, proyeksi kas, serta koordinasi dengan perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Staf di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
Kalau harga kopi di warung langganan tiba-tiba naik, kita biasanya langsung curiga: “Ini karena gula mahal atau kurs dolar lagi naik?” Pertanyaan sederhana itu sebenarnya sedang mewakili kegelisahan yang lebih besar. Rupiah kembali tertekan, dunia sedang tidak baik-baik saja, dan denyut ekonomi Indonesia ikut merasakan getarnya.
Ketidakpastian global kini berada pada fase yang tidak ramah. Geopolitik Timur Tengah memanas tanpa kepastian ujungnya, suku bunga global terutama di negara maju masih bertahan di level tinggi, sementara arus modal internasional bergerak cepat mengikuti sentimen pasar. Dalam kondisi seperti ini, rupiah ibarat perahu kecil di tengah ombak besar: bukan tanpa kendali, tetapi jelas membutuhkan kemudi yang kuat agar tidak terombang-ambing.
Di tengah situasi itulah pernyataan Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo, soal fokus menjaga stabilitas rupiah menjadi penting untuk dicermati. Pertemuannya dengan investor global di Singapura akhir April lalu bukan sekadar agenda rutin atau diplomasi ekonomi. Pesannya tegas: stabilitas nilai tukar adalah garis pertahanan pertama agar ekonomi domestik tidak ikut terguncang oleh badai eksternal.
Bayangkan jika rupiah dibiarkan melemah terlalu jauh. Harga barang impor naik, biaya produksi terdorong, lalu harga di pasar mulai menyesuaikan. Dari pupuk hingga elektronik, dari kopi bubuk sampai bahan bangunan, semuanya berpotensi ikut terkerek. Pada titik itu, inflasi tidak lagi terasa sebagai angka statistik dalam laporan resmi, melainkan kenyataan yang langsung menyentuh dompet masyarakat. Maka, upaya BI meningkatkan daya tarik aset domestik lewat penyesuaian struktur suku bunga pasar, termasuk kenaikan yield instrumen SRBI, dapat dibaca sebagai langkah “pasang jangkar” agar Rupiah tidak terseret lebih jauh.
Namun, kebijakan Bank Indonesia jelas tidak hanya bertumpu pada satu tombol. Pengalaman panjang menghadapi berbagai tekanan global dari krisis besar di akhir 1990-an, episode gejolak pasar keuangan internasional, hingga pandemi membentuk cara BI meramu kebijakan yang kini jauh lebih lentur dan pragmatis. Melalui kerangka integrated monetary policy mix, BI mengombinasikan kebijakan suku bunga, intervensi di pasar valuta asing, serta pengelolaan likuiditas domestik secara bersamaan. Tujuannya sederhana tapi krusial: menenangkan pasar tanpa mematikan mesin ekonomi.
Di titik ini, terlihat perubahan cara pandang yang cukup signifikan. Stabilitas inflasi memang tetap penting, tetapi stabilitas nilai tukar kini berdiri sejajar sebagai prioritas kebijakan. Logikanya sederhana: apa gunanya inflasi terkendali hari ini jika besok nilai tukar jatuh dan harga melonjak akibat tekanan eksternal? Rupiah yang terlalu bergejolak berisiko menggerus kepercayaan pelaku usaha dan investor. Dan ketika kepercayaan goyah, ongkos pemulihannya bisa jauh lebih mahal dibanding langkah pencegahan sejak dini.
Yang menarik, strategi menjaga stabilitas ini tidak dijalankan secara parsial. Sinergi moneter dan fiskal terus ditekankan agar kebijakan tidak saling meniadakan. Proyeksi inflasi 2026 yang diperkirakan tetap berada di kisaran sasaran 2,5±1 persen serta pertumbuhan ekonomi pada rentang 4,9–5,7 persen mencerminkan optimisme yang realistis. Ekonomi Indonesia memang tidak kebal terhadap guncangan global, tetapi memiliki bantalan kebijakan untuk meredam dampaknya.
BI juga tampak sadar bahwa menjaga rupiah sambil membiarkan kredit tersendat bukanlah pilihan yang bijak. Karena itu, instrumen makroprudensial seperti Kebijakan Likuiditas Makroprudensial (KLM) terus diperkuat agar bank tetap terdorong menyalurkan kredit ke sektor-sektor prioritas. Logikanya mirip ini: Rupiah dijaga agar tidak goyah, tetapi usaha kecil dan sektor produktif tetap harus bisa bernapas. Upaya mempercepat penurunan suku bunga kredit menjadi sinyal bahwa stabilitas tidak boleh berubah menjadi rem tangan bagi perekonomian.
Di luar kebijakan yang terlihat di permukaan, akselerasi digitalisasi sistem pembayaran juga memainkan peran penting, meski kerap luput dari sorotan. Penguatan QRIS, pengembangan transaksi lintas negara berbasis mata uang lokal, hingga peningkatan infrastruktur pembayaran ritel ibarat menyiapkan fondasi rumah sebelum musim hujan datang. Dalam jangka panjang, langkah-langkah ini mengurangi ketergantungan pada mata uang dominan dan memperkuat ketahanan eksternal ekonomi nasional secara lebih struktural.
Lalu, ke mana arah kebijakan Indonesia saat rupiah tertekan? Jawabannya mungkin tidak terdengar dramatis, tetapi cukup tegas: bukan kebijakan satu jurus, melainkan orkestrasi. BI tampak memilih jalan tengah, menjaga stabilitas tanpa panik, mengetatkan tanpa mencekik. Bagi investor, pesan yang ingin disampaikan jelas: Indonesia tidak sedang bereaksi berlebihan, tetapi juga tidak tinggal diam menghadapi tekanan global.
Pada akhirnya, rupiah bukan sekadar angka di layar perdagangan. Ia menentukan harga kopi pagi, ongkos logistik, hingga keberanian pelaku usaha untuk membuka cabang baru atau menambah tenaga kerja. Selama kebijakan dijalankan secara data-dependent, forward-looking, serta didukung koordinasi moneter dan fiskal yang solid, rupiah mungkin masih berombak. Namun, satu hal yang penting, ia tidak kehilangan arah.[HARI]
***
