Menang Tanpa Gol Itu Mustahil: PINISI dan Arah Pertumbuhan Ekonomi

Administrator Unit Implementasi PUR di Kantor Perwakilan Bank Indonesia. Analis untuk memastikan kelancaran sistem pembayaran melalui analisis kebutuhan uang rupiah, proyeksi kas, serta koordinasi dengan perbankan, pemerintah, dan pelaku usaha.
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Staf di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Tengah
Dalam sepak bola, pertahanan yang rapat memang penting. Tim bisa selamat dari kekalahan dengan menjaga gawang tetap aman. Namun, satu hal tak terbantahkan: tidak ada kemenangan tanpa gol. Analogi sederhana ini relevan untuk membaca kondisi perekonomian Indonesia saat ini. Stabilitas terjaga dan likuiditas berlimpah, namun tantangan sesungguhnya terletak pada bagaimana seluruh potensi tersebut benar-benar diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi yang nyata dan berkelanjutan.
Selama beberapa tahun terakhir, bauran kebijakan moneter dan makroprudensial berhasil menjaga stabilitas sistem keuangan. Likuiditas perbankan berada pada level yang longgar, risiko sistemik relatif terkendali, dan fungsi intermediasi tetap berjalan secara agregat. Dalam konteks ini, ekonomi Indonesia sejatinya telah memiliki fondasi pertahanan yang kuat. Namun, bertahan saja tidak cukup. Untuk memenangkan pertandingan, perekonomian memerlukan strategi menyerang yang mampu memaksimalkan setiap peluang pertumbuhan yang tersedia.
Target pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 yang dipatok pada kisaran 4,9–5,7 persen mencerminkan optimisme yang terukur. Tantangannya, kondisi global belum sepenuhnya mendukung strategi pertumbuhan berbasis ekspor. Ketidakpastian geopolitik, fragmentasi perdagangan global, serta penyesuaian kebijakan suku bunga di berbagai negara maju membuat sumber pertumbuhan eksternal menjadi semakin terbatas. Dalam konteks tersebut, penguatan permintaan domestik menjadi kunci utama dan efektivitas intermediasi perbankan menjadi faktor penentu keberhasilan.
Data perbankan menggambarkan situasi yang menarik. Hingga Maret 2026, kredit perbankan tumbuh sebesar 9,49 persen (yoy). Likuiditas berada pada level yang sangat memadai, tercermin dari rasio aset likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) yang mencapai 27,85 persen, serta pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) sebesar 13,55 persen (yoy). Namun, di balik solidnya “lini pertahanan” ini, masih terdapat celah di sisi penyerangan. Nilai undisbursed loan tercatat mencapai Rp2.527,46 triliun atau sekitar 22,59 persen dari total plafon kredit. Artinya, dana tersedia, tetapi belum sepenuhnya bergerak ke sektor riil.
Kondisi tersebut mencerminkan dilema klasik intermediasi. Dari sisi perbankan, kehati-hatian meningkat di tengah ketidakpastian global dan kebutuhan untuk menjaga kualitas aset. Dari sisi pelaku usaha, ekspansi kerap tertahan sambil menunggu kepastian permintaan, regulasi, maupun prospek keuntungan. Akibatnya, likuiditas yang sebenarnya siap dimanfaatkan justru tertahan, dan momentum pertumbuhan berisiko melemah. Tanpa strategi yang tepat, ekonomi berisiko terlalu lama menguasai bola tanpa menciptakan peluang yang berujung pada gol.
Dalam konteks inilah Kick Off Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) 2026 menjadi relevan. Diselenggarakan oleh Bank Indonesia pada 27–28 April 2026, PINISI tidak sekadar menjadi forum koordinasi, tetapi penanda perubahan pendekatan kebijakan. Dibuka oleh Gubernur BI Perry Warjiyo bersama Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto, kegiatan ini mempertemukan kementerian dan lembaga, sektor perbankan, Danantara, pelaku usaha, serta investor domestik dan global. Pesan yang disampaikan tegas "saatnya berpindah dari sekadar menjaga stabilitas menuju mendorong pertumbuhan secara lebih proaktif dan terarah".
Gubernur BI menegaskan bahwa penguatan pertumbuhan ekonomi harus bertumpu pada permintaan domestik. Untuk itu, kebijakan diarahkan agar pembiayaan benar-benar tersambung dengan proyek prioritas nasional dan sektor produktif. Melalui penguatan bauran kebijakan, termasuk Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM), Bank Indonesia mendorong perbankan agar lebih agresif menyalurkan kredit ke sektor-sektor dengan daya ungkit tinggi, tanpa mengabaikan prinsip kehati-hatian dan stabilitas sistem keuangan.
Dari sisi pemerintah, arah kebijakan juga berjalan sejalan. Hingga 31 Maret 2026, realisasi Kredit Program tercatat mencapai Rp78,39 triliun atau sekitar 24,88 persen dari target tahunan. Fokusnya jelas: kredit harus tumbuh secara sehat, menjangkau UMKM, serta menyasar sektor yang mampu menciptakan nilai tambah dan lapangan kerja. PINISI kemudian berperan sebagai jembatan yang mempertemukan kebijakan, perbankan, dan kebutuhan riil dunia usaha agar ruang likuiditas dapat segera dieksekusi.
Bagi perekonomian nasional, keberhasilan PINISI sangat ditentukan oleh kesiapan proyek dan kualitas implementasi. Likuiditas yang melimpah hanya akan berdampak apabila bertemu dengan proyek yang memiliki kelayakan usaha, kepastian regulasi, serta tata kelola risiko yang memadai. Tanpa itu, ruang likuiditas berpotensi kembali tertahan sebagai undisbursed loan.
Pada akhirnya, stabilitas adalah fondasi permainan. Likuiditas adalah modal bertahan. Namun, kemenangan ekonomi hanya dapat diraih ketika likuiditas tersebut benar-benar mendorong investasi, produksi, dan penyerapan tenaga kerja. PINISI hadir sebagai strategi menyerang untuk memastikan bola tidak sekadar dikuasai, tetapi diarahkan tepat ke gawang pertumbuhan.
Menang tanpa gol itu mustahil. Di tengah likuiditas yang berlimpah, tantangan utama ekonomi Indonesia kini bukan lagi menjaga pertahanan, melainkan memastikan setiap peluang mampu dikonversi menjadi pertumbuhan ekonomi yang lebih berkualitas dan berkelanjutan. [HARI]
***
