Pelantikan Gubernur Bank Indonesia, Tongkat Estafet di Menara Stabilitas
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia pada 2 September 2026 bukan sekadar pergantian jabatan di lembaga bank sentral. Momentum ini ibarat pergantian nahkoda kapal besar yang sedang berlayar di tengah samudra yang cuacanya belum sepenuhnya bersahabat. Kapalnya sama, tujuan pelayarannya tetap, tetapi kemudi kini berada di tangan pemimpin baru yang akan menentukan bagaimana kapal itu menghadapi gelombang di depan.

Menariknya, respons pasar terhadap momentum ini cenderung positif. Pada hari pelantikan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat 0,39 persen ke level 6.625. Sebanyak 244 saham tercatat menguat pada awal perdagangan, mencerminkan sentimen optimistis pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter ke depan.
Bagi sebagian orang, angka-angka tersebut mungkin terlihat biasa. Namun dalam dunia keuangan, sentimen adalah bahasa kepercayaan. Pasar tidak hanya merespons data, tetapi juga membaca kredibilitas, pengalaman, serta keyakinan terhadap arah kebijakan yang akan ditempuh. Ketika pasar menyambut positif sebuah pergantian kepemimpinan, itu menunjukkan adanya ekspektasi bahwa kesinambungan dan stabilitas tetap akan terjaga.
Kepercayaan memang menjadi mata uang paling mahal dalam ekonomi. Ketika kepercayaan meningkat, investasi bergerak lebih aktif, dunia usaha lebih optimistis, dan masyarakat memiliki keyakinan yang lebih besar terhadap masa depan perekonomian.
Dalam konteks ini, terpilihnya Destry Damayanti memiliki makna tersendiri. Pengalamannya di sektor ekonomi, fiskal, dan moneter membuat banyak pihak menilai transisi kepemimpinan di Bank Indonesia berlangsung secara mulus. Sosok yang sebelumnya menjabat Deputi Gubernur Senior BI tersebut bukan figur yang datang dari luar sistem, melainkan bagian dari proses panjang pembentukan kebijakan yang telah berjalan selama ini.
Tidak hanya itu, susunan baru Dewan Gubernur juga menunjukkan kuatnya proses kaderisasi kelembagaan. Aida S. Budiman dipercaya sebagai Deputi Gubernur Senior, sementara Solikin M. Juhro menempati posisi Deputi Gubernur. Kombinasi ini merepresentasikan perpaduan pengalaman, kompetensi teknokratik, serta pemahaman mendalam terhadap dinamika ekonomi nasional maupun global.
Jika ekonomi Indonesia dianalogikan sebagai sebuah rumah besar, Bank Indonesia adalah penjaga termostatnya. Tugasnya bukan membuat seluruh penghuni merasa sangat panas atau sangat dingin, melainkan memastikan suhu tetap nyaman. Inflasi tidak boleh terlalu tinggi, pertumbuhan ekonomi perlu didukung, sistem keuangan harus tetap sehat, dan nilai tukar rupiah harus dijaga agar tidak bergejolak berlebihan.
Pekerjaan itu semakin menantang karena dunia saat ini berada dalam era ketidakpastian yang berkepanjangan. Ketegangan geopolitik global, perubahan arah suku bunga negara maju, fragmentasi perdagangan internasional, serta perkembangan teknologi keuangan yang sangat cepat membuat bank sentral harus bekerja lebih adaptif dibandingkan sebelumnya.
Di sinilah pentingnya kesinambungan kepemimpinan. Sebuah institusi yang kuat tidak dibangun oleh satu figur semata, tetapi oleh tradisi profesionalisme yang diwariskan dari satu generasi pemimpin ke generasi berikutnya. Pergantian orang tidak lantas mengubah fondasi yang telah dibangun.
Fakta lain yang juga menarik adalah kondisi rupiah yang mulai menunjukkan penguatan menjelang pergantian kepemimpinan tersebut. Data Bank Indonesia menunjukkan bahwa hingga 31 Agustus 2026, rupiah menguat sekitar 1,57 persen dibandingkan posisi akhir Juli 2026, dari Rp17.994 per dolar AS menjadi sekitar Rp17.715 per dolar AS. Penguatan tersebut didukung oleh berbagai langkah stabilisasi yang dilakukan BI melalui intervensi pasar valuta asing, instrumen DNDF, dan kebijakan untuk menarik aliran modal masuk.
Tentu saja tidak tepat apabila seluruh penguatan itu dikaitkan hanya dengan satu figur atau satu peristiwa. Pasar keuangan selalu dipengaruhi banyak faktor. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa kejelasan arah kepemimpinan di bank sentral memberikan tambahan keyakinan bagi pelaku ekonomi bahwa kebijakan akan tetap berjalan secara konsisten dan kredibel.
Yang patut diapresiasi adalah bagaimana Bank Indonesia selama beberapa tahun terakhir berhasil membangun citra sebagai institusi yang responsif terhadap perubahan zaman. Di satu sisi menjaga inflasi dan stabilitas nilai tukar, di sisi lain aktif mendorong digitalisasi sistem pembayaran, memperluas inklusi keuangan, dan memperkuat sinergi dengan pemerintah serta berbagai pemangku kepentingan.
Pendekatan semacam ini menunjukkan bahwa bank sentral modern tidak lagi bekerja hanya di belakang meja dengan angka dan grafik. Bank sentral kini menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang lebih luas. Ia harus mampu membaca perilaku masyarakat yang berubah, perkembangan teknologi yang bergerak cepat, hingga tantangan ekonomi global yang muncul tanpa diduga.
Visi yang dibawa Destry Damayanti, yakni menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi berkelanjutan melalui pendekatan yang lebih berdampak, inklusif, terintegrasi, dan berbasis sinergi, menunjukkan bahwa Bank Indonesia ingin tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Karena itu, pelantikan Dewan Gubernur Bank Indonesia kali ini layak dibaca sebagai lebih dari sekadar seremonial pergantian pejabat. Ini adalah simbol keberlanjutan sebuah institusi yang selama puluhan tahun menjadi salah satu penyangga utama stabilitas ekonomi Indonesia.
Pasar telah memberikan sinyal optimisme melalui penguatan IHSG. Rupiah menunjukkan daya tahannya. Publik melihat hadirnya kombinasi kepemimpinan yang berpengalaman. Modal awal tersebut tentu belum menjamin perjalanan akan selalu mulus. Gelombang global masih akan datang silih berganti. Namun kapal yang memiliki kompas yang jelas, awak yang berpengalaman, dan nahkoda yang memahami arah pelayaran biasanya memiliki peluang lebih besar untuk tetap berada di jalurnya.
Di tengah dunia yang sering kali bergerak dalam ketidakpastian, keberadaan institusi yang kredibel adalah sumber ketenangan. Dan dalam peta ekonomi Indonesia, Bank Indonesia telah menunjukkan dirinya sebagai salah satu jangkar kepercayaan yang membantu menjaga kapal besar bernama Indonesia tetap berlayar dengan stabil menuju horizon pertumbuhan yang lebih kuat.

