Talenta, Inovasi, dan Jalan Indonesia Menuju Ekonomi Digital Bernilai Tambah
Tulisan dari Hari Suciono tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Hari Suciono : Penulis adalah Pegawai di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jember – Jawa Timur
Transformasi digital tidak ditentukan oleh seberapa banyak teknologi yang digunakan, melainkan oleh kemampuan sebuah bangsa menciptakan talenta, melahirkan inovasi, dan mengubah keduanya menjadi produktivitas yang memperkuat daya saing ekonomi.

Indonesia sedang berada pada titik penting dalam perjalanan transformasi digitalnya. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai indikator menunjukkan perkembangan yang menggembirakan. Transaksi ekonomi dan keuangan digital terus meningkat, adopsi sistem pembayaran digital semakin meluas, dan ekonomi digital Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu yang terbesar di kawasan Asia. Bahkan, ekonomi digital Indonesia diperkirakan dapat mencapai nilai antara US$180 miliar hingga US$340 miliar pada 2030. Sementara itu, QRIS telah digunakan oleh 69,32 juta pengguna dan diterima oleh 47,11 juta merchant hingga Agustus 2026. Angka tersebut menunjukkan bahwa fondasi ekonomi digital Indonesia semakin kuat.
Namun, besarnya transaksi dan luasnya penggunaan teknologi belum tentu berbanding lurus dengan peningkatan produktivitas. Sejarah pembangunan ekonomi menunjukkan bahwa teknologi hanyalah alat. Nilai tambah ekonomi tercipta ketika teknologi mampu meningkatkan efisiensi, menciptakan lapangan kerja baru, memperluas akses pasar, dan melahirkan inovasi yang menyelesaikan permasalahan nyata masyarakat. Dengan kata lain, keberhasilan transformasi digital tidak diukur dari seberapa cepat teknologi diadopsi, melainkan seberapa besar manfaat yang dihasilkan bagi perekonomian.
Pesan tersebut menjadi benang merah yang kuat dalam rangkaian FEKDI x IFSE 2026. Forum ini memperlihatkan bahwa masa depan ekonomi digital Indonesia tidak hanya bertumpu pada infrastruktur digital atau sistem pembayaran yang semakin canggih, tetapi juga pada kemampuan membangun ekosistem yang mempertemukan talenta, inovasi, industri, dan kebijakan dalam satu arah pembangunan yang sama.
Dari Bonus Demografi Menuju Bonus Inovasi
Indonesia memiliki modal yang tidak dimiliki banyak negara, yakni bonus demografi. Sebanyak 68,94 persen penduduk Indonesia berada pada usia produktif dan didominasi generasi milenial serta Generasi Z. Mereka tumbuh di tengah perkembangan internet, teknologi digital, dan perubahan ekonomi yang berlangsung sangat cepat.
Meski demikian, bonus demografi tidak otomatis menjadi bonus ekonomi. Tantangan terbesar justru terletak pada kemampuan menghasilkan talenta yang relevan dengan kebutuhan industri masa depan. Di tengah perkembangan kecerdasan buatan, otomatisasi, dan digitalisasi, kebutuhan dunia kerja berubah semakin cepat. Keunggulan sebuah negara tidak lagi semata ditentukan oleh sumber daya alam, tetapi oleh kualitas sumber daya manusianya.
Hal tersebut terlihat dari posisi Indonesia yang masih berada pada peringkat ke-55 dalam Global Innovation Index 2025. Posisi tersebut menunjukkan bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk berkembang, namun masih memerlukan lompatan dalam pengembangan riset, inovasi, dan talenta agar mampu bersaing dengan negara-negara yang lebih maju dalam ekonomi berbasis pengetahuan.
Karena itu, pesan yang disampaikan dalam FEKDI x IFSE 2026 menjadi sangat relevan. Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen teknologi. Indonesia harus mampu menjadi produsen teknologi, pencipta solusi, serta penghasil inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Dalam konteks ini, penguatan kemampuan berpikir kritis, kreativitas, pemecahan masalah, dan kemampuan beradaptasi menjadi sama pentingnya dengan kemampuan teknis.
Ketika Inovasi Tidak Berhenti Menjadi Gagasan
Salah satu tantangan terbesar dalam ekosistem digital adalah banyaknya ide yang berhenti pada tahap konsep. Tidak sedikit inovasi yang menarik di atas kertas, tetapi gagal berkembang karena tidak memiliki akses terhadap industri, pasar, pendanaan, maupun ruang pengujian yang memadai. Di sinilah peran strategis Bank Indonesia terlihat semakin nyata. Melalui Pusat Inovasi Digital Indonesia (PIDI), Bank Indonesia tidak sekadar berfungsi sebagai regulator sistem pembayaran, tetapi juga sebagai orkestrator yang mempertemukan berbagai aktor dalam ekosistem digital nasional.
PIDI dibangun melalui tiga pilar utama, yaitu intelijen pasar, eksperimen inovasi, dan pengembangan talenta digital. Pendekatan ini menunjukkan bahwa inovasi tidak dapat berdiri sendiri. Inovasi harus didukung pemahaman terhadap kebutuhan pasar, memperoleh ruang untuk diuji, serta mendapatkan akses kepada talenta dan industri yang akan mengembangkannya.
Besarnya antusiasme masyarakat terhadap program ini terlihat dari 2.094 proposal inovasi yang mengikuti proses seleksi PIDI Hackathon x DIGDAYA 2026. Angka tersebut menjadi bukti bahwa kreativitas dan potensi inovasi anak bangsa sesungguhnya sangat besar. Tantangan berikutnya adalah memastikan inovasi tersebut berkembang menjadi solusi yang mampu meningkatkan produktivitas dan menciptakan manfaat ekonomi yang nyata.
Keberhasilan QRIS menjadi contoh yang paling konkret. Apa yang dahulu berawal dari sebuah gagasan kini telah berkembang menjadi salah satu kisah sukses transformasi digital Indonesia. QRIS tidak hanya mempermudah transaksi masyarakat, tetapi juga membantu jutaan UMKM memasuki ekosistem ekonomi digital dengan biaya yang lebih rendah, akses yang lebih luas, dan proses transaksi yang lebih efisien.
Membangun Ekosistem Digital yang Produktif dan Terpercaya
Talenta dan inovasi tidak akan berkembang optimal tanpa kepercayaan. Dalam ekonomi digital, kepercayaan merupakan modal yang sama pentingnya dengan teknologi itu sendiri. Masyarakat akan menggunakan layanan digital apabila merasa aman. Pelaku usaha akan berinovasi apabila memiliki kepastian regulasi. Investor akan menanamkan modal apabila ekosistem yang dibangun memiliki tata kelola yang baik. Karena itu, tantangan transformasi digital bukan hanya mendorong inovasi, tetapi juga menjaga stabilitas dan perlindungan konsumen.
Pendekatan yang ditempuh Indonesia menunjukkan arah yang semakin matang. Sinergi antara Bank Indonesia, OJK, kementerian dan lembaga, industri, asosiasi, serta komunitas digital terus diperkuat untuk memastikan inovasi berkembang dalam koridor yang aman, terpercaya, dan berkelanjutan. Pengembangan mekanisme sandbox, pemanfaatan kecerdasan buatan untuk mendeteksi anomali transaksi, penguatan keamanan sistem pembayaran, serta pertukaran informasi antar pemangku kepentingan menjadi fondasi penting dalam menjaga kepercayaan publik terhadap ekonomi digital.
Yang menarik, peran Bank Indonesia dalam transformasi ini semakin luas dan strategis. Bank Indonesia tidak hanya menjaga stabilitas moneter dan sistem pembayaran, tetapi juga menjadi katalisator pengembangan talenta dan inovasi nasional. Melalui FEKDI x IFSE 2026, terlihat bagaimana Bank Indonesia mampu menghubungkan dunia pendidikan, industri, regulator, asosiasi, komunitas, serta generasi muda dalam satu ekosistem yang produktif dan saling memperkuat.
Di tengah persaingan global yang semakin ketat, kekuatan terbesar Indonesia bukan hanya terletak pada besarnya pasar digital atau jumlah pengguna teknologi. Kekuatan sesungguhnya terletak pada kemampuan menghubungkan talenta, inovasi, dan kebijakan ke dalam sebuah ekosistem yang menghasilkan nilai tambah bagi perekonomian. FEKDI x IFSE 2026 memperlihatkan bahwa fondasi menuju arah tersebut sedang dibangun dengan serius. Ketika talenta unggul, inovasi berdampak, dan kolaborasi terus diperkuat, ekonomi digital Indonesia berpeluang menjadi bukan hanya besar, melainkan juga produktif, berdaya saing global, dan mampu mengantarkan Indonesia menuju tingkat kemajuan yang lebih tinggi.HARI
***

