17 Hari Mendaki, Membelah Belantara Taman Nasional Gunung Leuser (Bagian 2)

Book Author, Travel Writer, Mountaineer, IG-Twitter: harleysastha, Youtube: Harley Sastha
Tulisan dari Harley B Sastha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Diceritakan sebelumnya, pada hari ke-8, pada pagi hari, kami dikejutkan dengan perjumpaan jejak tapak kaki Harimau Sumatera, sekitar 4 meter dari areal Camp Bivak Kaleng.
Puncak Loser (3.404 mdpl) dan Puncak Leuser (3.119 mdpl)
Meninggalkan Camp Bivak Kaleng, perjalanan kami lanjutkan menuju tempat yang dinamakan Lapangan Bola, tempat kami bermalam berikutnya. Sebelum tiba disana, sekitar tengah hari, kami tiba di areal Bivak Batu dan beristirahat sejenak di sini. Sepanjang perjalanan, masih banyak kami jumpa jejak-jejak Harimau Sumatera. Medan pendakiannya yang bergelombang, lumayan cukup melelahkan dan menguras tenaga. Vegetasi sudah didominasi hutan lumut, semak dan tumbuhan berukuran kerdil. Tidak ada satupun pohon berukuran besar kami temui.
Baru sekitar tengah hari, kami tiba di areal Camp Bivak Batu – dinamakan demikian karena arealnya memang didominasi oleh batuan. Karena berkabut, siang hari yang seharusnya terang, menjadi gelap saat itu. Tampak bangkai seekor satwa Ajak (Cuon alpinus) yang hanya tersisa tulang belulang yang masih utuh tergeletak begitu saja. Karena tidak terlihat adanya kekerasan, dugaan kami, satwa ini mati secara alami.Perjalanan kemudian kami lanjutkan hingga sampai di simpang Puncak Tanpa Nama. Kabut masih terus menyelimuti. Hujan juga terus sepanjang perjalanan. Sedangkan hari terus semakin sore menuju malam. Sedangkan areal Lapangan Bola yang menjadi tujuan kami untuk bermalam masih belum sampai. Bermandikan hujan yang cukup lebat, kami terus berjalan menembusnya.
Selepas simpang Puncak Tanpa Nama, medan pendakian terus turun, kemudian kembali naik memasuki hutan lumut, lalu keluar melewati lapangan yang cukup datar dan kembali melewati hutan lumut, sebelum kemudian tiba di areal camp. Hujan deras membuat padang rumput yang kami lalui menjadi sedikit banjir. Malam sudah datang ketika kami tiba di Camp Lapangan Bola. Beruntung tenda-tenda tempat kami bermalam sudah didirikan. Sehingga, kami dapat segera berganti pakaian sebelum makan malam dan beristirahat. Hujan yang turun dan perjalanan yang panjang hari itu, benar-benar sangat menguras tenaga. Sangat melelahkan rasanya.
Bersyukur, pagi harinya, perlahan sinar matahari menyapu kabut yang sebelumnya masih menyelimuti areal camp. Kami pun bergegas memanfaatkan waktu tersebut untuk menjemur semua perlengkapan dan pakaian kami yang basah.
Kawasan Lapangan Bola terlihat sangat luas. Vegetasi didominasi rerumputan. Dari sini Puncak Loser (3.404 mdpl) dan Puncak Leuser (3.119 mdpi), sudah terlihat cukup jelas. Tentu hal tersebut membuat kami semakin bersemangat. Karena kedua puncak tersebut sudah semakin dekat.
Ada menu tambahan untuk kami sarapan di Lapangan Bola yaitu belalang goreng. Belalang tersebut merupakan hasil buruan kami pagi itu. Cukup banyak yang kami dapatkan. Rasanya cukup enak dan nikmat. Seperti udang goreng.
Sekitar jam sepuluh pagi, perjalanan kami lanjutkan kembali. Melewati medan pendakian yang relatif landai hingga tiba di areal berbatu-batu dengan ukuran yang cukup besar yang dinamakan ‘Gerbang Leuser’. Ini artinya puncak Loser sudah tidak jauh lagi. Lagi-lagi kabut dan hujan kembali turun. Kami pun beristirahat sejenak sambil menunggu hujan sedikit reda. Namun, karena hujan tidak kunjung berhenti, perjalanan tetap kami lanjutkan.
Tepat sekitar pukul 12.40 WIB, kami pun akhirnya tiba di Puncak Loser pada ketinggian 3.404 mdpl, persis pada hari ke-9. Nama Loser sendiri diambil dari bahasa Gayo yang artinya tempat dimana satwa-satwa mati. Puncak ditandai dengan titik trianggulasi berupa pilar beton dengan tinggi sekitar 150 cm. Saat itu hujan sudah reda dan cuaca cukup cerah. Namun, hal tersebut tidak berlangsung lama, hujan pun kembali turun. Beratapkan flyesheet sebagai tempat berteduh, kami beristirahat untuk makan siang.
Jelang sore, sekitar pukul 15.00 WIB, kami meninggalkan Puncak Loser menuju Camp Danau, tempat kami bermalam sebelum menuju Puncak Leuser. Medannya menurun tajam dengan kiri dan kanan berupa lereng yang cukup curam. Terlebih saat itu kami berjalan ditengah hujan yang cukup deras. Udara terasa cukup dingin menusuk tulang.
Setelah berjalan sekitar dua jam lamanya, seluruh anggota tim Expedisi Leuser 2015, tiba di areal Camp Danau (3.080 mdpl). Tidak banyak yang kami lakukan, selain memasak dan makan malam. Hujan baru reda menjelang tengah malam.
Sebenarnya, waktu telah lewat dari jam tujuh pagi, tetapi karena kabut dan gerimis, cuaca masih terlihat sedikit gelap. Setelah sarapan, bergegas kami melanjutkan perjalanan menuju puncak selanjutnya, Leuser. Sebelumnya, kami sempatkan untuk melihat danau yang berukuran 7x8 meter. Lokasinya tidak jauh dari camp kami. Menurut Mr. Jali, danau tersebut airnya tidak pernah kering.
Kalau tidak sedang berkabut, sebenarnya medan pendakian yang kami lalui memiliki formasi alam yang fantastis dan menakjubkan dengan panorama yang memukau. Tetapi, sayang hal tersebut tidak dapat kami lihat, karena kabut cukup tebal membatasi jarak pandang kami. Tepat, sekitar pukul 10.00 WIB, kami tiba di Puncak Leuser. Disini tidak ada pilar beton sebagai penanda trianggulasi. Tidak seperti di puncak Loser, di sini lebih sempit dan masih banyak ditumbuhi tanaman perdu.
Terpisah dan Hilang Kontak
Turun dari puncak Leuser menuju ke selatan, merupakan jalur rintisan baru. Sebagai pemandu senior Gunung Leuser, Mr. Jali dengan didampingi beberapa anggota tim Expedisi Leuser 2015, berjalan didepan sebagai pembuka jalur.
Kami harus turun melalui hutan lumut yang medannya curam dan licin. Beberapa kali kami jatuh terpeleset di medan pendakian yang seperti itu. Hujan terus turun tanpa berhenti sampai sekitar jam enam sore, dimana kami tiba pada lokasi yang vegetasinya didominasi tanaman rotan pada ketinggian 2.058 mdpl. Kami memberikan nama tempat untuk bermalam ini dengan sebutan Camp Rotan.
Tidak mudah kami mendapatkan tempat datar untuk mendirikan tenda. Karena areal camp lumayan miring. Jadilah sebagian dari kami memasang flysheet sebagai tempat beristirahat. Rapatnya hutan ditambah hujan yang terus turun, membuat kami sedikit kesulitan mengambil dokumentasi.
Esok harinya, pagi sekitar jam sembilan pagi, perjalanan kami lanjutkan kembali. Melalui punggungan dengan medan pendakian yang relatif lebih datar. Kami sempatkan mengisi kembali jeriken-jeriken air dari genangan air yang masih tersisa di sebuah anak sungai yang kering. Karena menurut Mr. Jali, ditempat kami bermalam berikutnya, kemungkinan tidak ada sumber air.
Berikutnya, kami harus memanjat tebing untuk sampai di atas punggungan untuk meneruskan perjalanan. Lumayan melelahkan, karena beberapa kali harus berputar-putar dan berbelok sambil mendaki tanaman rotan yang cukup banyak. Sepanjang perjalanan, ada beberapa bekas kubangan Badak Sumatera yang sudah tidak terpakai.
Hari sudah menjelang malam, waktu telah menunjukkan sekitar pukul 17.50 WIB, ketika Mr. Jali, mengajak kami semua untuk berhenti dan bermalam di punggungan. Tepatnya dekat sebuah kubangan babi hutan. Karena banyaknya pohon Pinus atau Tusam pada tempat tersebut. Jadi, kami beri nama Camp Tusam Beriring (1.379 mdpl).
Tidak terasa, pagi hari berikutnya, kami telah memasuki hari ke-12, pada 26 Oktober 2015. Perjalanan sudah kami lanjutkan lebih pagi dari hari-hari sebelumnya. Masih melalui punggungan. Kemudian melipir turun ke arah lembah sampai tiba di anak sungai. Disini kami putuskan untuk memasak bekal sarapan sekaligus makan untuk makan siang
Kemudian, dua pemandu senior Kedah, Mr. Jali dan Mr. Happy, memutuskan untuk jalan lebih dulu untuk merintis jalur yana akan kami lalui. Beberapa saat kemudian enam orang dari kami menyusul, sambil membawa perbekalan makanan untuk kedua pemandu senior tersebut. Baru kemudian tim yang tersisa menyusul melanjutkan perjalanan.
Pada awal perjalanan, rombongan terakhir sempat kebingungan, memutuskan untuk melalui atas atau melipir punggungan bukit. Setelah melihat beberapa tanda-tanda rintisan baru yang dibuat oleh Mr. Jali dan Mr. Happy, maka diputuskanlah untuk melipir punggungan bukit. Namun, ternyata enam anggota tim yang sebelumnya jalan lebih dulu berada jauh di atas punggungan. Sedangkan, kami berada di bawah. Jadi, tim terbagi dua menjadi rombongan besar dan kecil. Kami, tetap terus melanjutkan perjalanan melipir punggungan.
Sekitar jam empat sore, kami tiba di titik penyeberangan sungai Krueng Baro. Arus air sungai yang mempunyai lebar sekitar 10-12 meter dan kedalaman 110 cm, cukup deras. Beberapa orang diantara kami, telah menyeberang lebih dulu dan memasang pengaman berupa tali webbing untuk memudahkan penyeberangan.
Begitu kami semua yang berjumlah 21 orang, tiba di seberang sungai, hujan kembali turun dengan deras. Diputuskan, sebagian untuk terus melanjutkan perjalanan mencari tempat untuk mendirikan camp. Sisanya tetap di punggungan sekitar sungai untuk menunggu enam orang lainnya yang terpisah sebelumnya.
Sedangkan kami, yang meneruskan perjalanan, dalam kondisi hujan, terus mendaki menuju atas punggan dan bukit. Setidaknya, kami menyeberangi anak sungai lainnya yang lebarnya masing-masing sekitar 2 meter. Bahkan saat harus menanjak merayap tebing bekas longsoran membuat kami harus lebih waspada dan berhati-hati, kalau tidak ingin terjatuh. Benar-benar perjalanan yang sangat melelahkan dan menguras tenaga. Karena sering berjalan dalam keadaan hujan dan menyeberangi sungai, selama hampir dua minggu, kutu air mulai menggerogoti kaki kami yang terbungkus sepatu. Saya termasuk yang cukup parah mengalaminya. Satu-satunya solusi selain mengoleksinya dengan salep kulit, saat tiba di camp, kami usahakan kaki kembali kering dengan membuka sepatu.
Kami tiba sekitar pukul 18.30 WIB di Camp Krueng Baro 1 (501 mdpl). Disini, kami mendirikan camp untuk untuk beristirahat dan bermalam. Anggota tim lain yang sebelumnya menunggu enam orang yang terpisah, juga telah berkumpul di camp. Malam itu, kami berdiskusi dan mengatur strategi yang tepat untuk menemukan keenamnya, esok harinya. Ada yang mencari ke arah punggungan, melipir dan menyisir dari hilir Krueng Baro. Lainnya menyisir dari Muara Krueng Baro ke arah hilir. Satunya kembali ke arah jalur yang kami lalui sebelumnya sampai titik penyeberangan. Sisanya tetap menunggu di camp, memasak dan mempersiapkan makanan.
Malam itu, sebagian besar dari kami, tidak dapat tidur dengan nyenyak. Karena masih terus memikirkan kondisi enam orang anggota tim Expedisi Leuser 2015, yang terpisah.
