Food & Travel
·
17 November 2020 23:21

Kisah Singkat Sang Atap Tertinggi Tanah Pasundan 'Ciremai' Sebagai Gunung Api

Konten ini diproduksi oleh Harley B Sastha
Kisah Singkat Sang Atap Tertinggi Tanah Pasundan 'Ciremai' Sebagai Gunung Api (1163)
Dua orang pendaki saat menyusuri gigiran atau tubir puncak kawah Ciremai. Foto: Harley Sastha
Gunung api selalu mempunyai cerita dan kisahnya sendiri yang unik dan menarik. Begitu pun gunung Ciremai. Fenomena alam yang terbentuk akibat aktivitas erupsinya menjadi dongeng yang terpahat alami pada setiap bagian tubuhnya. Terpatri indah pada bagian gigiran puncak, dinding kawah hingga dasarnya. Laksana relief pada candi-candi dengan kisahnya.
ADVERTISEMENT
Pada bagian sisa-sisa erupsinya hidup dan berkembang keragaman hayati yang kaya. Bertahan dalam kerasnya cuaca yang terkadang ekstrem. Dua di antaranya cantigi dan edelweis jawa.
Sebagai gunung api, Ciremai mempunyai cerita dan sejarah letusan yang cukup panjang. Bertipe Strato Volcano tipe A (gunung api yang pernah meletus setelah tahun 1.600).
Kisah Singkat Sang Atap Tertinggi Tanah Pasundan 'Ciremai' Sebagai Gunung Api (1164)
Kerucut Gunung Ciremai terlihat dari Embung Dangdeur, Desa Bojong, Cilimus, Kabupaten Kuningan, Jabar. Foto: Balai TNGC
Ciremai merupakan gunung api yang unik. Berdiri soliter terpisah dari klaster jajaran gunung api di Pulau Jawa pada umumnya. Berada pada bagian utara pulau Jawa bagian barat. Dipisahkan oleh Zona Sesar Cilacap – Kuningan dari kelompok gunung api Jawa Barat bagian timur: Galunggung, Guntur, Papandayan, Patuha hingga Tangkuban Perahu, yang terletak pada Zona Bandung. Zona Sesar Cilacap yang berada di Tenggara-Barat Laut ini berpotensi gempa tektonik. Tercatat gempa tektonik telah terjadi tiga kali akibat struktur sesar ini, pada tahun 1947, 1955 dan 1973.
ADVERTISEMENT
Karakter letusan Ciremai sendiri berupa erupsi eksplosif berskala menengah. Hal tersebut dimanefestasikan oleh sejumlah endapan aliran dan jatuhan piroklastik. Di mana secara berangsur-angsur kekuatan erupsi melemah dan cenderung menghasilkan erupsi magmatik.
Berdasarkan sejarah erupsinya gunung api Ciremai mengalami beberapa kali letusan. Selang antar letusan gunung api ini yang terpendek adalah 3 tahun. Sedangkan yang terpanjang 112 tahun. Jadi dari catatan tersebut di atas, erupsi Gunung Ciremai terakhir terjadi antara 24 Juni 1937 sampai 7 Januari 1938. (Van Padang, 1937, 1951), (Stehn, 1940), (Kusumadinata 1951).
Selain informasi di atas, ada catatan lain mengenai kegiatan Gunung Ciremai dan fenomena gunung api yang juga tercatat serta teramati:
  • Tanggal 3 Februari 1698 tercatat “...gunung di Cirebon telah roboh yang mengakibatkan air begitu tinggi, hingga merusak tanah daerahnya dan menyebabkan korban manusia (Brascamp, 1919). Neuman, Van Padang (1951) meragukan terjadinya letusan tersebut.
  • Pada 11 – 12 Agustus 1772 terjadi letusan di kawah pusat.
  • Kemudian April, 1775, letusan terjadi dari kawah, namun tidak menimbulkan kerusakan (Junghuhn, 1845; 1853) dan (Taverne, 1926).
  • Bulan April, 1805, letusan dari kawah, tidak menimbulkan kerusakan (Junghuhn, 1853). Lalu, tahun 1917, hembusan uap belerang dari dinding selatan. Keluar asap Fumarola secara kuat sehingga membuat lubang yang cukup besar yang sekarang dinamakan Goa Walet (Van Gils, 1917).
  • Berlanjut pada September, 1924, hembusan kuat dari fumarola pada bagian barat dinding pemisah.
  • 24 Juni 1937 – 7 Januari 1938, letusan berlanjut dari kawah pusat, letusan abu atau letusan freatik (Neumann van Padang, 1937; 1951), (Stehn, 1940), (Kusumadinata, 1971). Lalu tahun 1949 terjadi gempa bumi (?).
  • (Wirjosumarto dan Fatah, 1955) pada permulaan tahun 1955 terjadi gempa bumi tektonik yang menimbulkan kerusakan beberapa rumah di sekitar kewedaan Cilimus, namun tidak memengaruhi kegiatan magmanya.
  • Kemudian 16, 21, 26 April 1973, gempa bumi tektonik di Desa Sunia, lereng barat daya Gunung Ciremai, Kecamatan Talaga, Kabupaten Majalengka. Episentrum gempa yang terjadi dangkal dan terdapat di sebelah timur Lembang pada jarak sekitar 100 km (Dinas Metereologi Jakarta). Gempa tersebut tidak memengaruhi Gunung Ciremai (Kusumadinata, 1979).
Kisah Singkat Sang Atap Tertinggi Tanah Pasundan 'Ciremai' Sebagai Gunung Api (1165)
Kawah ganda Gunung Ciremai. Foto: Harley Sastha
1. Kawah Barat yang bentuknya setengah lingkaran dan terpotong oleh Kawah Timur. Pada tepi bagian barat terdapat bukit lava yang dinamakan Sunan Cirebon (3.078 mdpl) yang menjadi puncak tertinggi Gunung Ciremai. Menurut catatan geologi, kawah Barat relatif lebih tua dari Kawah Timur. Masih berada pada bagian barat, ada satu lagi puncak tertinggi ke-2, Pangeran Talaga (3.058 mdpl)
ADVERTISEMENT
2. Kawah Timur yang usianya lebih muda ini berbentuk bulat. Dan menjadi pusat aktivitas saat ini. Ada dua bukit lava disini. Lawang Gede dan Sunan Mataram (3.046 mdpl).
Selain dua kawah ganda di atas, ada lagi struktur kawah yang berada di lereng bagian barat gunung api Ciremai. Tempat tersebut yang kini dikenal dengan nama Goa Walet. Berada pada ketinggian sekitar 2.950 mdpl, terbentuk karena terjadinya erupsi samping. Ada juga kawah ‘burung’ dengan bentukannya yang unik dan menarik.
Pertumbuhan aktivitas vulkanik di sekitar Ciremai, diawali oleh kegiatan gunung Putri. Kemudian disusul kegiatan gunung Gegerhalang. Lalu, semenjak itu kegiatan Ciremai hingga saat ini, diduga masih aktif.
Pada kegiatan gunung Putri menghasilkan aliran lava porfiritik, sedangkan kegiatan vulkanik gunung Gegerhalang menghasilkan aliran lava dan awan panas serta jatuhan pirklastik.
ADVERTISEMENT
Setelah kegiatan vulkanik gunung Gegerhalang, kemudian disusul oleh kegiatan gunung Ciremai yang menghasilkan beberapa aliran lava serta endapan awan panas dan jatuan piroklastik.
Selain itu, juga menghasilkan endapan sekunder berupa endapan lahar yang menyebar di kaki sebelah timur Ciremai. Di samping itu, juga dijumpai beberapa erupsi samping yang menghasilkan aliran lava berkomposisi andesit. Di antaranya erupsi sukageri, buntung, pucuk dan dulang (Data Dasar Gunung Api Indonesia).
Sebagai gunung api, tidak heran jika batuan yang terdapat dalam kawasan TNGC merupakan batuan endapan vulkanik. Produk dari aktivitas vulkanik gunung Ciremai. Jelas ini menjadi potensi geowisata yang tinggi.
Yang mendasari komplek gunung Ciremai adalah batuan sedimen Tersier, sebagian dapat dilihat dan dijumpai pada bagian kaki barat laut. Selain itu juga dijumpai beberapa intrusi berkomposisi andesit. Seperti di daerah Maja, Kabupaten Majalengka dan di utara komplek gunung Ciremai, yaitu pada daerah gunung Kromong.
Kisah Singkat Sang Atap Tertinggi Tanah Pasundan 'Ciremai' Sebagai Gunung Api (1166)
Sekelompok pendaki saat mengawali pendakian melalui jalur pendakian Linggajati. Foto: Harley Sastha
Untuk kamu yang ingin mendaki hingga tubir puncak kawahnya, ada empat jalur resmi pendakian yang dapat kamu pilih: jalur Linggajati, Linggasana, Palutungan (Kab. Kuningan) dan jalur Apuy (Kab. Majalengka). Sebelumnya, kamu harus melakukan pendaftaran dan booking online terlebih dahulu, tentunya.
ADVERTISEMENT